Friday, February 08, 2008

Akibat Orang Bunuh Diri


Di Jumat pagi yang cerah bin anget ini, aku pergi ke kampus, untuk jadwal ketemuan dengan kedua pembimbingku, biasa kusebut Pakdhe untuk pembimbing senior, dan Paklik untuk yang yunior. Walaupun total perjalanan hanya sekitar 90 menit, namun seperti biasa, aku berangkat dari rumah 2 jam sebelumnya, supaya sempat istirahat sebentar sebelum presentasi ke Pakdhe dan Paklik ini.

Tiba di stasiun, ternyata KA Sobu Local§ langgananku, satu2nya jalur KA yang melewati stasiun ini, baru saja berangkat (kebiasaan burukku, gak pernah ngapalin jadwal KA, hehehe). Jadilah menunggu yang berikutnya, 08.15. Berhubung ini stasiun kedua dari awal di jalurnya, jadi aku masih bisa duduk. Ketika meninggalkan Inage, 1 stasiun setelahnya, terdengar pengumuman, bahwa Sobu Rapidª tidak bisa beroperasi karena ada jinshin (=tubuh manusia) di rel KA Shin Koiwa.

Spontan aku berpikir, ‘Wah, pagi2 ada yang bunuh diri, nih!’ Memang bukan hal aneh, karena tingkat bunuh diri dengan cara loncat ke jalur KA ini sudah sering terjadi di Jepang. Namun dampaknya baru terasa di stasiun berikutnya. Kabarnya memang jalur rapid sering jadi sasaran, karena matinya cepet, lah wong KA-nya kenceng banget, jeee.

Karena jalur dari Chiba ke Tokyo hanya dilalui oleh Sobu Rapid dan Local ini, otomatis penumpang Sobu Rapid yang jauh lebih banyak ini menumpuk di Local! Walhasil, di setiap stasiun, terjadi kelambatan dalam menutup pintu, karena selalu saja ada orang yang terjepit…saking penuhnya! Akhirnya kuputuskan untuk mengirim e-mail ke Pakdhe dan Paklik, memberitahukan keterlambatanku. Namun kegiatan mengetik e-mail singkat di HP-ku itu bolak-balik terpotong, karena setiap ngerem, tubuh si wanita Jepun di depanku terdorong ke arahku!

Sementara itu, di sepanjang perjalanan, sang masinis berulang kali mengumumkan tentang tidak beroperasinya KA Sobu Rapid ini, diikuti permohonan maaf karena keterlambatan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkannya, dalam Bhs. Jepun kromo inggil, alias super sopan. Dan di setiap stasiun, jumlah penumpang bertambah buuanyaaak hingga penuh sesak, karena memang sedang jam sibuk, dan penumpang yang turun jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang naik. Saking sesaknya, sampai2 wajah wanita Jepun yang berdiri di depanku hanya berjarak sekitar 20 cm dari wajahku, dan rambutnya yang sepunggung menyentuh alisku! Berulang kali dia meminta maaf padaku, karena setiap KA ngerem mendekati stasiun, badannya terdorong ke arahku, hingga ia terpaksa bertumpu pada jendela di belakangku!

Kejadian ini semakin parah di stasiun2 berikutnya, hingga sampailah di tempat perhentianku, Akihabara, untuk pindah, melanjutkan sisa perjalanan dengan subway. Di sinilah, baru orang berhamburan turun! Saking banyaknya yang turun, sampai2 beberapa orang pria Jepun terdengar marah2 dan membentak orang di dekatnya. Hehehe…ironis banget, yang bapak2 pada marah2, sementara ibu2 di KA tadi banyak sekali yang bolak-balik terdengar minta maaf! Memang di sini jadi keliatan aslinya, sih… orang2 yang stres karena mengejar waktu ke tujuannya masing2.

Aku sendiri? Hmm, terus terang agak tenang karena sudah mengirim e-mail tadi, walaupun untuk pertama kalinya dalam hidupku (OK, hiperbolanya kumat lagi, deh), aku menuruni eskalator tanpa berdiri diam di salah satu anak tangga seperti biasanya, tapi langsung melaju, berjalan ke bawah, karena KA ini sudah telat 20 menit dari biasanya.

Di jalur subway, penumpang sudah agak lengang, maklum saja … sudah lewat pk. 09.30. Pfiuh…lega, dapet tempat duduk dengan tenang. Akhirnya aku tiba di ruangan Pakdhe pk.10.25, telat 10 menit dari jadwal. Sambil menunggu Paklik, Pakdhe menanyakan penyebab berhentinya KA tadi.  Saat kubilang ada yang bunuh diri, Pakdhe langsung mengangguk2… ,”Aa, osoroshi (=bunuh diri), ka? It happened a lot lately….” Dan presentasiku pun dimulai, setelah 5 menit kemudian Paklik datang dengan terengah2, karena ternyata dia telat juga! Aku lupa, Si Paklik ini tinggalnya di Chiba juga. Ternyata kemaren KA-nya telat pula, kata Paklik (hehehe, maap Paklik, kemaren daku nggak ngampus sih, jadi nggak tahu, deh).

***

Jadi terpikir, kenapa orang2 itu pada suka bunuh diri di tempat umum begini, ya? Apa nggak terpikir olehnya, betapa banyak kerugian yang ditimbulkannya? Tidak hanya bagi orang lain, tapi juga bagi keluarganya, karena kabarnya sang ahli waris dikenakan denda sekitar 300 ribu yen untuk “pembersihan” TKP ini (walaupun kata seorang teman, ini tergantung dari tingkat kerusakan dan urgensi TKP-nya). Bagi yang bersangkutan, bunuh diri berarti penyelesaian masalah (karena mayoritas bangsa Jepun tidak mengenal konsep kehidupan pasca kematian, atau pun surga neraka), tapi mengapa tidak bunuh diri yang “aman” saja, dalam arti di rumah sendiri, tidak di tempat umum, sehingga mengganggu orang lain?

Selain itu, lepas dari konsep agama mana pun yang jelas2 melarang bunuh diri, terus terang aku paling tidak setuju dengan konsep bunuh diri di Jepang, yang katanya dulu merupakan lambang keberanian. Pernah nonton Letters from Iwo Jima? Di situ terlihat sekali bahwa bunuh diri ini sebenernya “sikap pasrah yang dikemas dengan baik, menjadi heroik”. Pasrah, karena tanpa usaha. Karena di sini ditunjukkan, daripada bertempur dengan jumlah sedikit dan akhirnya kalah juga, mendingan bunuh diri rame2 aja sebelum kalah telak!

Wah, maaf2 saja… buatku itu sih terdengar lebih sebagai pengecut berjamaah daripada pemberani! Pejuang pemberani, buatku adalah yang berjuang sampai titik darah penghabisan, apapun hasilnya nanti. Yah, tawakkal (berserah diri pada Allah) itu muncul setelah adanya usaha maksimal, bukan sebelumnya. Jika tanpa usaha, itu pasrah namanya.

Pada akhirnya, kembali ke konsep asal: kalau tidak bisa membuat, jangan merusak yang ada… jadi kalau tidak bisa menghidupkan diri sendiri, jangan pernah merasa berhak untuk menghilangkan nyawa dari diri ini; karena hanya yang menghidupkan sajalah, yang juga berhak untuk mematikannya.

*****

(KA Sobu Local di Sta. Suidobashi)

Nishi Chiba, 8 Februari 2008 (20.08 JST)

* Saigo made gambarimashooou…! (= Mari berjuang sampai titik penghabisan!)

 



§ Local = KA yang berhenti setiap stasiun (=hakuekiteisha).

ª Rapid = KA yang hanya berhenti di stasiun tertentu saja (=kaisoku), jadi waktu tempuhnya lebih cepat dari local.

Wednesday, February 06, 2008

Shaytan 1: DON'T WEAR HIJAB, YOU WILL LOOK UGLY




Makasih banget buat Syaikhul yang udah ngasih link ini. Salah satu dari iklan Arab yang "mencerahkan"....

Tuesday, February 05, 2008

Pemeriksaan Kesehatan oleh Kampus di Jepang

Tanggal 10 Desember 2007 lalu aku menjalani pemeriksaan kesehatan (PK) yang difasilitasi oleh kampus. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, karena pemeriksaan kesehatan di kampusku ini, sebagaimana di kampus2 lainnya di Jepang, merupakan hal rutin.

Bila di kampus Saitama dulu, pemeriksaan ini hanya dilakukan setahun sekali, maka di kampusku kini, GRIPS, diadakan 2 kali setahun. Bulan April untuk mahasiswa Jepang, dan Oktober untuk program internasional, alias non-Jepang. Semuanya tanpa biaya, alias gratis, karena (belakangan ini baru kuketahui) ternyata merupakan fasilitas yang disediakan oleh pihak Asuransi Kesehatan, yang preminya kami bayarkan setiap 9 bulan dalam setahun kepada shiyakusho (= municipal/city office atau kantor kota ‘kali ya?). Karena pemerintah di sini sudah terdesentralisasi, maka besarnya premi ini juga berbeda-beda, tergantung pemerintah kota yang bersangkutan.

Kembali ke topik, yang berbeda kali ini dari PK sebelumnya adalah: aku tidak menjalaninya di kampus! Ini dikarenakan pada saat PK di kampus berlangsung, aku sedang berada di tanah air. Maka hari itu, aku ditemani seorang staf kampus, sebut saja Yuki, menjalaninya di Health Insurance Clinic-Ichigaya.

Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit dari kampus, dan sesampai di sana, masih ada sekitar 8 orang yang sedang mengantri. Begitu tiba, Yuki langsung menyerahkan surat pengantar dari kampus, dan aku mendapatkan kunci loker dan beberapa lembar formulir. Setelah meletakkan semua barang2ku di loker, aku pun segera mengisi formulir, dibantu oleh Yuki, karena semuanya dalam bahasa Jepang.

Setelah itu, aku mengembalikan formulir, berikut sampel urine, faeses, dan sejarah kesehatan yang formulir, petunjuk, dan kemasannya telah disebarkan oleh pihak kampus kepada kami semua, sebulan sebelum PK di kampus dilaksanakan. Setelah mengklarifikasikan beberapa data pribadi, seperti nama dan tanggal lahir, serta cara pengucapan namaku, kami pun kembali duduk, menunggu dipanggil.

Tak lama kemudian, aku dipanggil, dan langsung diarahkan ke ruangan X-ray. Ruangan ini mempunyai 2 pintu yang berbeda, untuk pria dan wanita, baik untuk masuk ke ruang ganti, maupun dari ruang ganti ke tempat alat X-ray berada. Bila pria yang di X-Ray, maka pintu yang bersambung ke ruang ganti wanita akan dikunci oleh si radiolog, demikian pula sebaliknya. Di sini sudah disediakan atasan disposable yang berbahan seperti tas kertas pembungkus tas kulit, berikut keranjang untuk menyimpan pakaian kita. Ganti pakaian, X-ray, kembali ganti pakaian, dan selesailah sudah.

Dari sini aku ke tempat pengukuran berat dan tinggi badan, dilanjutkan dengan tensi darah. Aneh juga, kali ini tensiku rendah sekali; pertama 85/50, kemudian diulang menjadi 98/51! Padahal saat itu aku sedang sehat2nya *halah*, maksudku tidak pusing ataupun lemes sama sekali! Memang biasanya tensiku rendah sih, tapi biasanya berkisar 80/60 atau 90/70 di Indonesia, sedangkan di Jepang antara 100/80 dan 120/90. Kenapa berbeda? Ceritanya ada di sini.

Setelah itu cek mata. Biasanya baik2 saja, entah kenapa kali ini si Mbak pemeriksa neranginnya agak panjang dan cepat. Ketika kuminta mengulangi lagi pelan2, eh dia malah menyuruhku langsung ke tempat pengambilan darah. Dan diambillah darahku sebanyak 300 ml, yang ditempatkan dalam 3 tabung kecil. Setelah diberikan plester di bekas tusukan jarum tadi, aku menunggu sebentar, kemudian dipanggil kembali, disuruh masuk ke sebuah ruangan, dengan 2 petugas wanita, tempat tidur, dan sebuah alat kecil di meja, dekat tempat tidur itu.

“Sore wa nani kikai desu ka? (=Itu alat apa?)” tanyaku sambil menunjuk ke alat kecil itu, berhubung alat itu belum pernah kulihat sebelumnya dalam PK2 di kampus. “Kore wa…nan dake…jaa…oshiete kudasai (=Itu…wah apa, ya…tolong kasih tahu, deh…),” kata petugas yang senior kepada yang wanita lebih muda. Aku yang sudah serius menunggu jawaban wanita tadi jadi puyeng bin geli mendengar akhir kalimatnya, lalu beralih menatap ke wanita muda di sampingnya.

Setelah terdiam sebentar, dia menjawab dengan hati2,”Anooo, this is EKG, nee…etooo…(=Hmmm…ini EKG, emm…).” “Ah, EKG desu ne, haik, wakarimashita… (=Oh, EKG ya, tahu, kok...),” sahutku cepat, kesian juga melihat si Mbak ini bingung untuk menjelaskan dalam bahasa yang kupahami. Welahdalah Mbakyu, kalo ECG (entah kenapa di Jepang jadi EKG) mah, saya nggih ngartos, kok…cuman ‘kan belum pernah liat aja penampakannya seperti apa, hehehe). Baru ngeh kenapa sebelumnya aku belum pernah menjalani tes ini, karena ECG memang hanya diperuntukkan bagi yang berusia 35 tahun ke atas.

Dan yang mengejutkan aku pula, ternyata tes ini cepet banget! Tidak sampai 5 menit, semuanya selesai, dan aku diarahkan ke ruangan dokter. Dokternya wanita, senior banget. Beliau hanya menanyakan ada gangguan yang dialami belakangan ini/tidak, ngecek dengan stetoskop di tubuh bagian depan dan punggung (kalau di Indonesia kan cuman depan saja, ya), tenggorokan, selesai.

Setelah itu langsung menuju resepsionis kembali, dan rangkaian PK-ku hari ini dinyatakan selesai! Sempat kulihat jam dinding di belakang resepsionis ini, ternyata seluruh PK tadi hanya memakan waktu 30 menit! Padahal itu sudah termasuk waktu mengantri, lho!

Setelah itu kami langsung kembali ke kampus, dan di jalan Yuki menjelaskan perkataan Mbak pemeriksa mata tadi. Katanya ada selisih minus antara kacamata dengan ukuran mereka, sekitar 0,10. Sistem di Jepang untuk perhitungan selisih ukuran ini memang agak beda, tidak seperti Indonesia yang memakai bilangan 0.25 dan kelipatannya, mereka menggunakan 0.10 dan kelipatannya (tolong dikoreksi kalau salah, ya…), dengan nilai antara -1,50 sampai dengan +1,50 (setidaknya itu yang kutangkap dari penjelasan Yuki). Kacamataku tadi selisihnya masih dalam batas normal, jadi nggak masalah, kata Yuki lagi. Hasil PK-nya? Ini yang agak lama…baru sekitar pertengahan Januari kuterima dari kampus.

Setelah PK ini jadi membanding2kan dengan negeri sendiri. Di Indonesia, yang mendapatkan fasilitas PK gratis ini hanya PNS setingkat eselon II ke atas (kalau nggak salah), padahal pembayar Askes ini adalah seluruh PNS, dari tingkat terendah hingga yang tertinggi. Selain itu, pengurusannya pun ribet, tak sebanding dengan ganti rugi yang diperoleh. Kapan ya, fasilitas PK gratis ini bisa didapatkan oleh seluruh peserta Askes dengan mudah?

***

(Petunjuk pengambilan sampel dari kampus)

Nishi Chiba, 5 Februari 2008 (23.53 JST)

*Di sela2 nguber setoran…*

Pemeriksaan Kesehatan oleh Kampus di Jepang

Tanggal 10 Desember 2007 lalu aku menjalani pemeriksaan kesehatan (PK) yang difasilitasi oleh kampus. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, karena pemeriksaan kesehatan di kampusku ini, sebagaimana di kampus2 lainnya di Jepang, merupakan hal rutin.

Bila di kampus Saitama dulu, pemeriksaan ini hanya dilakukan setahun sekali, maka di kampusku kini, GRIPS, diadakan 2 kali setahun. Bulan April untuk mahasiswa Jepang, dan Oktober untuk program internasional, alias non-Jepang. Semuanya tanpa biaya, alias gratis, karena (belakangan ini baru kuketahui) ternyata merupakan fasilitas yang disediakan oleh pihak Asuransi Kesehatan, yang preminya kami bayarkan setiap 9 bulan dalam setahun kepada shiyakusho (= municipal/city office atau kantor kota ‘kali ya?). Karena pemerintah di sini sudah terdesentralisasi, maka besarnya premi ini juga berbeda-beda, tergantung pemerintah kota yang bersangkutan.

Kembali ke topik, yang berbeda kali ini dari PK sebelumnya adalah: aku tidak menjalaninya di kampus! Ini dikarenakan pada saat PK di kampus berlangsung, aku sedang berada di tanah air. Maka hari itu, aku ditemani seorang staf kampus, sebut saja Yuki, menjalaninya di Health Insurance Clinic-Ichigaya.

Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit dari kampus, dan sesampai di sana, masih ada sekitar 8 orang yang sedang mengantri. Begitu tiba, Yuki langsung menyerahkan surat pengantar dari kampus, dan aku mendapatkan kunci loker dan beberapa lembar formulir. Setelah meletakkan semua barang2ku di loker, aku pun segera mengisi formulir, dibantu oleh Yuki, karena semuanya dalam bahasa Jepang.

Setelah itu, aku mengembalikan formulir, berikut sampel urine, faeses, dan sejarah kesehatan yang formulir, petunjuk, dan kemasannya telah disebarkan oleh pihak kampus kepada kami semua, sebulan sebelum PK di kampus dilaksanakan. Setelah mengklarifikasikan beberapa data pribadi, seperti nama dan tanggal lahir, serta cara pengucapan namaku, kami pun kembali duduk, menunggu dipanggil.

Tak lama kemudian, aku dipanggil, dan langsung diarahkan ke ruangan X-ray. Ruangan ini mempunyai 2 pintu yang berbeda, untuk pria dan wanita, baik untuk masuk ke ruang ganti, maupun dari ruang ganti ke tempat alat X-ray berada. Bila pria yang di X-Ray, maka pintu yang bersambung ke ruang ganti wanita akan dikunci oleh si radiolog, demikian pula sebaliknya. Di sini sudah disediakan atasan disposable yang berbahan seperti tas kertas pembungkus tas kulit, berikut keranjang untuk menyimpan pakaian kita. Ganti pakaian, X-ray, kembali ganti pakaian, dan selesailah sudah.

Dari sini aku ke tempat pengukuran berat dan tinggi badan, dilanjutkan dengan tensi darah. Aneh juga, kali ini tensiku rendah sekali; pertama 85/50, kemudian diulang menjadi 98/51! Padahal saat itu aku sedang sehat2nya *halah*, maksudku tidak pusing ataupun lemes sama sekali! Memang biasanya tensiku rendah sih, tapi biasanya berkisar 80/60 atau 90/70 di Indonesia, sedangkan di Jepang antara 100/80 dan 120/90. Kenapa berbeda? Ceritanya ada di sini.

Setelah itu cek mata. Biasanya baik2 saja, entah kenapa kali ini si Mbak pemeriksa neranginnya agak panjang dan cepat. Ketika kuminta mengulangi lagi pelan2, eh dia malah menyuruhku langsung ke tempat pengambilan darah. Dan diambillah darahku sebanyak 300 ml, yang ditempatkan dalam 3 tabung kecil. Setelah diberikan plester di bekas tusukan jarum tadi, aku menunggu sebentar, kemudian dipanggil kembali, disuruh masuk ke sebuah ruangan, dengan 2 petugas wanita, tempat tidur, dan sebuah alat kecil di meja, dekat tempat tidur itu.

“Sore wa nani kikai desu ka? (=Itu alat apa?)” tanyaku sambil menunjuk ke alat kecil itu, berhubung alat itu belum pernah kulihat sebelumnya dalam PK2 di kampus. “Kore wa…nan dake…jaa…oshiete kudasai (=Itu…wah apa, ya…tolong kasih tahu, deh…),” kata petugas yang senior kepada yang wanita lebih muda. Aku yang sudah serius menunggu jawaban wanita tadi jadi puyeng bin geli mendengar akhir kalimatnya, lalu beralih menatap ke wanita muda di sampingnya.

Setelah terdiam sebentar, dia menjawab dengan hati2,”Anooo, this is EKG, nee…etooo…(=Hmmm…ini EKG, emm…).” “Ah, EKG desu ne, haik, wakarimashita… (=Oh, EKG ya, tahu, kok...),” sahutku cepat, kesian juga melihat si Mbak ini bingung untuk menjelaskan dalam bahasa yang kupahami. Welahdalah Mbakyu, kalo ECG (entah kenapa di Jepang jadi EKG) mah, saya nggih ngartos, kok…cuman ‘kan belum pernah liat aja penampakannya seperti apa, hehehe). Baru ngeh kenapa sebelumnya aku belum pernah menjalani tes ini, karena ECG memang hanya diperuntukkan bagi yang berusia 35 tahun ke atas.

Dan yang mengejutkan aku pula, ternyata tes ini cepet banget! Tidak sampai 5 menit, semuanya selesai, dan aku diarahkan ke ruangan dokter. Dokternya wanita, senior banget. Beliau hanya menanyakan ada gangguan yang dialami belakangan ini/tidak, ngecek dengan stetoskop di tubuh bagian depan dan punggung (kalau di Indonesia kan cuman depan saja, ya), tenggorokan, selesai.

Setelah itu langsung menuju resepsionis kembali, dan rangkaian PK-ku hari ini dinyatakan selesai! Sempat kulihat jam dinding di belakang resepsionis ini, ternyata seluruh PK tadi hanya memakan waktu 30 menit! Padahal itu sudah termasuk waktu mengantri, lho!

Setelah itu kami langsung kembali ke kampus, dan di jalan Yuki menjelaskan perkataan Mbak pemeriksa mata tadi. Katanya ada selisih minus antara kacamata dengan ukuran mereka, sekitar 0,10. Sistem di Jepang untuk perhitungan selisih ukuran ini memang agak beda, tidak seperti Indonesia yang memakai bilangan 0.25 dan kelipatannya, mereka menggunakan 0.10 dan kelipatannya (tolong dikoreksi kalau salah, ya…), dengan nilai antara -1,50 sampai dengan +1,50 (setidaknya itu yang kutangkap dari penjelasan Yuki). Kacamataku tadi selisihnya masih dalam batas normal, jadi nggak masalah, kata Yuki lagi. Hasil PK-nya? Ini yang agak lama…baru sekitar pertengahan Januari kuterima dari kampus.

Setelah PK ini jadi membanding2kan dengan negeri sendiri. Di Indonesia, yang mendapatkan fasilitas PK gratis ini hanya PNS setingkat eselon II ke atas (kalau nggak salah), padahal pembayar Askes ini adalah seluruh PNS, dari tingkat terendah hingga yang tertinggi. Selain itu, pengurusannya pun ribet, tak sebanding dengan ganti rugi yang diperoleh. Kapan ya, fasilitas PK gratis ini bisa didapatkan oleh seluruh peserta Askes dengan mudah?

***

(Petunjuk pengambilan sampel dari kampus)

Nishi Chiba, 5 Februari 2008 (23.53 JST)

*Di sela2 nguber setoran…*

Penutup Gorong-gorong di Jepang




Baru merhatiin, ternyata penutup lubang jalanan di Jepang ini berbeda-beda, ada yang berdasarkan peruntukannya (telpon, gas, dll.), dan ada juga yang bertuliskan nama kota yang bersangkutan (Chiba, Kobe, dll.).

Berikut ini berbagai foto penutup lubang jalanan yang sempat kuabadikan; satu di Chiba, satu di Kobe, dan sisanya di Roppongi Dori, jalanan menuju kampusku.

BTW, penutup lubang jalanan ini sebenernya istilahnya apa, ya? Hehehe, ketahuan deh kalo Bhs. Indonesianya payah;P.

Monday, February 04, 2008

Info beasiswa S2-S3 Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia

http://www.depkominfo.go.id/
Berikut info beasiswa S2-S3 dari Depkominfo. Info selengkapnya silahkan diklik di link tsb...Ayooo...sekolaaaah;D

***
INFORMASI MENGENAI PERSYARATAN
BEASISWA S2 & S3 LUAR NEGERI
TAHUN 2008

A. INFORMASI UMUM

1. Beasiswa disediakan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) bagi :
a. PNS, yakni pegawai negeri sipil di lembaga departemen dan lembaga non-departemen, baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
b. Karyawan lembaga pendidikan, yakni pimpinan, dosen, dan staf pada lembaga-lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta.
c. Karyawan industri TIK, yakni pimpinan, karyawan dan karyawati perusahaan-perusahaan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, baik BUMN/D maupun swasta murni.
d. Masyarakat umum, yakni pihak-pihak di luar tiga kategori tersebut, termasuk perorangan.

2. Beasiswa akan diberikan kepada para pelamar yang oleh Panitia Seleksi dinilai memenuhi persyaratan untuk mengikuti program pendidikan S2 dan S3 di perguruan tinggi di Belanda, Perancis, Australia, Swedia, dan Inggris yang telah ditetapkan Depkominfo.
3. Pelamar wajib memilih program studi sesuai dengan bidang-bidang studi yang telah ditetapkan Depkominfo, dan khusus bagi yang mendapatkan tugas akhir berupa penelitian, wajib menyelesaikan penelitian dengan tema / topik sesuai visi dan misi Depkominfo.
4. Bagi pelamar beasiswa S3, wajib melampirkan proposal penelitian dalam bahasa Inggris sesuai standar penulisan ilmiah.
5. Pelamar yang saat ini telah memiliki Surat Penerimaan (Letter of Acceptence) dari perguruan tinggi yang telah ditetapkan Depkominfo, dan Surat tersebut telah mendapatkan verifikasi dari Depkominfo, akan mendapatkan prioritas.
6. Pelamar wajib mengikuti ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan Depkominfo.















B. INFORMASI KHUSUS

1. Persyaratan

 Umum
1. Warga Negara Indonesia (WNI)
2. Sehat jasmani dan rohani
3. Tidak sedang mendapatkan fasilitas beasiswa dari pihak lain
4. Mengikuti ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan Depkominfo
 Khusus:
1. Lulusan S1 bagi pelamar beasiswa S2 atau lulusan S2 bagi pelamar beasiswa S3
2. Memiliki IPK minimum 2,75 ( dari skala 4,0)
3. Memiliki nilai Institutional TOEFL minimum 550 atau IELTS minimum 6.5 (batas waktu tes terakhir adalah tahun 2006)
4. Memiliki nilai Tes Potensi Akademik (TPA) minimum 550 (batas waktu tes terakhir adalah tahun 2006). Bagi yang belum memiliki nilai TPA, dapat mengikuti tes yang akan diselenggarakan Bappenas. (hubungi: Ibu Ajeng, Unit Pelayanan dan Penyelenggara TPA Bappenas Jl. Proklamasi No. 70, Jakarta, Telp. 021-3911627)
5. Memiliki nilai GRE/GMAT, bila program studi di perguruan tinggi yang bersangkutan mensyaratkan (batas waktu tes terakhir adalah tahun 2006).
6. Mendapat rekomendasi dari pejabat berwenang (minimum dari pimpinan instansi setingkat Eselon II bagi PNS, dari pimpinan perusahaan atau pejabat lain yang berwenang bagi karyawan dan karyawati industri TIK, dari pimpinan perguruan tinggi atau pejabat yang berwenang di lembaga pendidikan bagi pimpinan satuan kerja, dosen dan staf di lembaga pendidikan, dan dari dosen pembimbing skripsi atau pembimbing tesis bagi masayarakat umum)
7. Diutamakan :
a. Memiliki masa kerja sekurang-kurangnya 2 tahun, terhitung mulai tanggal diangkat menjadi PNS dalam gelar S1 pada instansi yang bersangkutan (bagi pelamar kategori PNS) atau memiliki pengalaman bekerja minimum 2 tahun (bagi pelamar kategori karyawan dan karyawati perusahaan industri TIK, dan masayarakat umum)
b. Berusia usia maksimum 35 tahun (bagi pelamar beasiswa S2) dan 40 tahun (bagi pelamar beasiswa S3) pada saat pendaftaran
c. Belum memiliki gelar dan tidak sedang mengikuti program pendidikan S2 (bagi pelamar program S2) dan S3 (bagi pelamar program S3)
8. Khusus bagi pelamar beasiswa S2 dan S3 yang telah lulus seleksi penerimaan calon mahasiswa di perguruan tinggi luar negeri yang sesuai dengan ketetapan Depkominfo, wajib melampirkan Surat Penerimaan (Letter of Acceptence) dari perguruan tinggi yang bersangkutan
9. Mengisi Formulir Pendaftaran
10. Menandatangani Surat Pernyataan yang telah disediakan.
Formulir Pendaftaran yang telah diisi dan seluruh dokumen yang dipersyaratkan harus dikirim via pos atau diantar langsung dan diterima Panitia Seleksi dengan alamat tersebut di bawah ini paling lambat tanggal 15 Februari 2008.
Panitia Seleksi tidak melayani pertanyaan atau komunikasi, baik secara langsung maupun via telepon dan Internet.



Alamat Pengiriman Berkas Lamaran :

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Tim Pengembangan Sumber Daya Manusia
Panitia Seleksi Beasiswa S2 dan S3 Luar Negeri
Gedung Departemen Komunikasi dan Informatika Lt. 5
Jalan Medan Merdeka Barat No. 9
Jakarta – 10110

2. Bidang Studi

Bidang studi yang diutamakan dalam program beasiswa ini adalah:
1. Hukum (Cyber, Satelit, Telekomunikasi, dan bidang hukum yang terkait dengan TIK lainnya)
2. Ekonomi (E-Commerce, E-Business, dan bidang ekonomi yang terkait dengan pemanfaatan TIK lainnya)
3. Ilmu Komputer
4. Teknik Informatika
5. Teknik Elektro/Elektronika
6. Teknik Telekomunikasi
7. Ilmu Komunikasi (Penyiaran, Jurnalistik, dan Komunikasi Masa)

3. Nama Perguruan Tinggi dan Negara Tujuan Studi

Perguruan Tinggi dan negara yang diutamakan dalam program beasiswa ini adalah:

1. Belanda
a. Tilburg University b. University of Twente
c. Utrecht University d. University of Groningen
e. Erasmus University Rotterdam f. Delft University of Technology
g. Leiden University h. Vrije Universiteit Amsterdam
i. Hogeschool Utrecht j. Univeriteit van Amsterdam
k. Eindhoven University of Technology l. HAN University of Applied Science
m. Wageningen University and Research Center n. Universiteit Maastricht
o. The Hague University

2. Perancis
a. Ecole Normale Superieure, Paris b. Ecole Polytechnique
c. Universite Pierre et Marie Curie, Paris d. Ecole Normale Superieure de Lyon
e. Universite Louis Pasteur f. Science Po Paris
g. Universite Paris-Sud h. Universite Paris Sorbonne

3. Australia
a. University of New South Wales b. University of Adelaide
c. University of Sidney d. University of Melbourne
e. Australia National University f. University of Queensland
g. Monash University h. University of Western Australia





4. Swedia
a. Chalmers University of Technology b. Linkoping University
c. Halmstad University d. University of Trollhatan/Uddevalla
e. IT University of Goteborg f. Upsalla University
g. Royal Institute of Technology

5. Inggris
a. University of Cambridge b. University of Oxford
c. Imperal College London d. University College of London
e. University of Edinburgh f. King’s College London
g. University of Manchester h. University of Bristol


C. PROSES SELEKSI DAN PEMBERANGKATAN

1. Proses Seleksi
Proses seleksi terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Seleksi administratif, yakni tahap penilaian terhadap kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan
2. Seleksi kemampuan akademik, yakni tahap penilaian terhadap kemampuan bahasa Inggris (nilai TOEFL/IELTS), TPA, GRE/GMAT (bila diperlukan), dan aspek lain untuk menyusun daftar pendek berdasarkan peringkat prestasi, prioritas, dan potensi pelamar.
3. Wawancara, yakni tahap penilaian terhadap tujuan dan motivasi belajar, sikap kepribadian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tujuan program beasiswa.

2. Proses Pemberangkatan
1. Pemberangkatan ke negara-negara tujuan studi segera dilaksanakan bila pelamar:
a. Selesai mengikuti seluruh proses persiapan yang diselenggarakan oleh Depkominfo
b. Memiliki Surat Penerimaan (Letter of Accepatence) dari perguruan tinggi yang telah ditetapkan, dan surat tersebut telah diverifikasi oleh Depkominfo
c. Memenuhi aturan keimigrasian negara tujuan studi
d. Memiliki surat ijin belajar dari Pemerintah Indonesia
e. Tidak sedang dalam keadaan hamil pada saat pemberangkatan ke negara tujuan studi

2. Prioritas pemberangkatan diberikan kepada pelamar yang telah lulus seleksi dan telah memiliki Surat Penerimaan (Letter of Acceptence) dari perguruan tinggi yang telah ditetapkan Depkominfo.

D. CAKUPAN DAN KEWAJIBAN PENERIMA BEASISWA

1. Cakupan Beasiswa

1. Biaya kuliah (tuition fee)
2. Biaya perjalanan pesawat udara kelas ekonomi pergi-pulang dari dan ke negara tujuan studi (pada saat keberangkatan dan kepulangan)
3. Uang penempatan awal (establishment cost)
4. Biaya hidup selama mengikuti pendidikan (living allowance)
5. Asuransi kesehatan
6. Biaya pengurusan visa pelajar (student visa)


Catatan:
1. Peserta yang telah berkeluarga dapat membawa serta keluarganya ke negara tujuan studi dengan biaya sendiri (Depkominfo tidak memberi tunjangan keluarga).
2. Formulir pendaftaran harus diisi dengan jelas dibubuhi materai secukupnya dan disertai dengan semua dokumen sebagaimana tersebut dalam Daftar Kelengkapan Persyaratan
3. Keputusan Panitia Seleksi bersifat mutlak, tidak dapat diganggu gugat.

2. Kewajiban pelamar

1. Mematuhi seluruh peraturan yang telah ditetapkan oleh Depkominfo berkaitan dengan program beasiswa
2. Mematuhi peraturan negara tujuan studi sebagai pemegang visa pelajar (student visa)
3. Berperilaku baik dan menjaga nama baik Negara Kesatuan Republik Indonesia selama mengikuti pendidikan di luar negeri
4. Melaporkan perkembangan dan hasil studi kembali kepada Depkominfo selama mengikuti dan setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri.


DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Tim Pengembangan Sumber Daya Manusia
Panitia Seleksi Beasiswa S2 dan S3 Luar Negeri
Gedung Departemen Komunikasi dan Informatika Lt. 5
Jalan Medan Merdeka Barat No. 9
Jakarta – 10110


Info beasiswa S2-S3 Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia

http://www.depkominfo.go.id/
Berikut info beasiswa S2-S3 dari Depkominfo. Info selengkapnya silahkan diklik di link tsb...Ayooo...sekolaaaah;D

***
INFORMASI MENGENAI PERSYARATAN
BEASISWA S2 & S3 LUAR NEGERI
TAHUN 2008

A. INFORMASI UMUM

1. Beasiswa disediakan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) bagi :
a. PNS, yakni pegawai negeri sipil di lembaga departemen dan lembaga non-departemen, baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
b. Karyawan lembaga pendidikan, yakni pimpinan, dosen, dan staf pada lembaga-lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta.
c. Karyawan industri TIK, yakni pimpinan, karyawan dan karyawati perusahaan-perusahaan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, baik BUMN/D maupun swasta murni.
d. Masyarakat umum, yakni pihak-pihak di luar tiga kategori tersebut, termasuk perorangan.

2. Beasiswa akan diberikan kepada para pelamar yang oleh Panitia Seleksi dinilai memenuhi persyaratan untuk mengikuti program pendidikan S2 dan S3 di perguruan tinggi di Belanda, Perancis, Australia, Swedia, dan Inggris yang telah ditetapkan Depkominfo.
3. Pelamar wajib memilih program studi sesuai dengan bidang-bidang studi yang telah ditetapkan Depkominfo, dan khusus bagi yang mendapatkan tugas akhir berupa penelitian, wajib menyelesaikan penelitian dengan tema / topik sesuai visi dan misi Depkominfo.
4. Bagi pelamar beasiswa S3, wajib melampirkan proposal penelitian dalam bahasa Inggris sesuai standar penulisan ilmiah.
5. Pelamar yang saat ini telah memiliki Surat Penerimaan (Letter of Acceptence) dari perguruan tinggi yang telah ditetapkan Depkominfo, dan Surat tersebut telah mendapatkan verifikasi dari Depkominfo, akan mendapatkan prioritas.
6. Pelamar wajib mengikuti ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan Depkominfo.















B. INFORMASI KHUSUS

1. Persyaratan

 Umum
1. Warga Negara Indonesia (WNI)
2. Sehat jasmani dan rohani
3. Tidak sedang mendapatkan fasilitas beasiswa dari pihak lain
4. Mengikuti ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan Depkominfo
 Khusus:
1. Lulusan S1 bagi pelamar beasiswa S2 atau lulusan S2 bagi pelamar beasiswa S3
2. Memiliki IPK minimum 2,75 ( dari skala 4,0)
3. Memiliki nilai Institutional TOEFL minimum 550 atau IELTS minimum 6.5 (batas waktu tes terakhir adalah tahun 2006)
4. Memiliki nilai Tes Potensi Akademik (TPA) minimum 550 (batas waktu tes terakhir adalah tahun 2006). Bagi yang belum memiliki nilai TPA, dapat mengikuti tes yang akan diselenggarakan Bappenas. (hubungi: Ibu Ajeng, Unit Pelayanan dan Penyelenggara TPA Bappenas Jl. Proklamasi No. 70, Jakarta, Telp. 021-3911627)
5. Memiliki nilai GRE/GMAT, bila program studi di perguruan tinggi yang bersangkutan mensyaratkan (batas waktu tes terakhir adalah tahun 2006).
6. Mendapat rekomendasi dari pejabat berwenang (minimum dari pimpinan instansi setingkat Eselon II bagi PNS, dari pimpinan perusahaan atau pejabat lain yang berwenang bagi karyawan dan karyawati industri TIK, dari pimpinan perguruan tinggi atau pejabat yang berwenang di lembaga pendidikan bagi pimpinan satuan kerja, dosen dan staf di lembaga pendidikan, dan dari dosen pembimbing skripsi atau pembimbing tesis bagi masayarakat umum)
7. Diutamakan :
a. Memiliki masa kerja sekurang-kurangnya 2 tahun, terhitung mulai tanggal diangkat menjadi PNS dalam gelar S1 pada instansi yang bersangkutan (bagi pelamar kategori PNS) atau memiliki pengalaman bekerja minimum 2 tahun (bagi pelamar kategori karyawan dan karyawati perusahaan industri TIK, dan masayarakat umum)
b. Berusia usia maksimum 35 tahun (bagi pelamar beasiswa S2) dan 40 tahun (bagi pelamar beasiswa S3) pada saat pendaftaran
c. Belum memiliki gelar dan tidak sedang mengikuti program pendidikan S2 (bagi pelamar program S2) dan S3 (bagi pelamar program S3)
8. Khusus bagi pelamar beasiswa S2 dan S3 yang telah lulus seleksi penerimaan calon mahasiswa di perguruan tinggi luar negeri yang sesuai dengan ketetapan Depkominfo, wajib melampirkan Surat Penerimaan (Letter of Acceptence) dari perguruan tinggi yang bersangkutan
9. Mengisi Formulir Pendaftaran
10. Menandatangani Surat Pernyataan yang telah disediakan.
Formulir Pendaftaran yang telah diisi dan seluruh dokumen yang dipersyaratkan harus dikirim via pos atau diantar langsung dan diterima Panitia Seleksi dengan alamat tersebut di bawah ini paling lambat tanggal 15 Februari 2008.
Panitia Seleksi tidak melayani pertanyaan atau komunikasi, baik secara langsung maupun via telepon dan Internet.



Alamat Pengiriman Berkas Lamaran :

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Tim Pengembangan Sumber Daya Manusia
Panitia Seleksi Beasiswa S2 dan S3 Luar Negeri
Gedung Departemen Komunikasi dan Informatika Lt. 5
Jalan Medan Merdeka Barat No. 9
Jakarta – 10110

2. Bidang Studi

Bidang studi yang diutamakan dalam program beasiswa ini adalah:
1. Hukum (Cyber, Satelit, Telekomunikasi, dan bidang hukum yang terkait dengan TIK lainnya)
2. Ekonomi (E-Commerce, E-Business, dan bidang ekonomi yang terkait dengan pemanfaatan TIK lainnya)
3. Ilmu Komputer
4. Teknik Informatika
5. Teknik Elektro/Elektronika
6. Teknik Telekomunikasi
7. Ilmu Komunikasi (Penyiaran, Jurnalistik, dan Komunikasi Masa)

3. Nama Perguruan Tinggi dan Negara Tujuan Studi

Perguruan Tinggi dan negara yang diutamakan dalam program beasiswa ini adalah:

1. Belanda
a. Tilburg University b. University of Twente
c. Utrecht University d. University of Groningen
e. Erasmus University Rotterdam f. Delft University of Technology
g. Leiden University h. Vrije Universiteit Amsterdam
i. Hogeschool Utrecht j. Univeriteit van Amsterdam
k. Eindhoven University of Technology l. HAN University of Applied Science
m. Wageningen University and Research Center n. Universiteit Maastricht
o. The Hague University

2. Perancis
a. Ecole Normale Superieure, Paris b. Ecole Polytechnique
c. Universite Pierre et Marie Curie, Paris d. Ecole Normale Superieure de Lyon
e. Universite Louis Pasteur f. Science Po Paris
g. Universite Paris-Sud h. Universite Paris Sorbonne

3. Australia
a. University of New South Wales b. University of Adelaide
c. University of Sidney d. University of Melbourne
e. Australia National University f. University of Queensland
g. Monash University h. University of Western Australia





4. Swedia
a. Chalmers University of Technology b. Linkoping University
c. Halmstad University d. University of Trollhatan/Uddevalla
e. IT University of Goteborg f. Upsalla University
g. Royal Institute of Technology

5. Inggris
a. University of Cambridge b. University of Oxford
c. Imperal College London d. University College of London
e. University of Edinburgh f. King’s College London
g. University of Manchester h. University of Bristol


C. PROSES SELEKSI DAN PEMBERANGKATAN

1. Proses Seleksi
Proses seleksi terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Seleksi administratif, yakni tahap penilaian terhadap kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan
2. Seleksi kemampuan akademik, yakni tahap penilaian terhadap kemampuan bahasa Inggris (nilai TOEFL/IELTS), TPA, GRE/GMAT (bila diperlukan), dan aspek lain untuk menyusun daftar pendek berdasarkan peringkat prestasi, prioritas, dan potensi pelamar.
3. Wawancara, yakni tahap penilaian terhadap tujuan dan motivasi belajar, sikap kepribadian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tujuan program beasiswa.

2. Proses Pemberangkatan
1. Pemberangkatan ke negara-negara tujuan studi segera dilaksanakan bila pelamar:
a. Selesai mengikuti seluruh proses persiapan yang diselenggarakan oleh Depkominfo
b. Memiliki Surat Penerimaan (Letter of Accepatence) dari perguruan tinggi yang telah ditetapkan, dan surat tersebut telah diverifikasi oleh Depkominfo
c. Memenuhi aturan keimigrasian negara tujuan studi
d. Memiliki surat ijin belajar dari Pemerintah Indonesia
e. Tidak sedang dalam keadaan hamil pada saat pemberangkatan ke negara tujuan studi

2. Prioritas pemberangkatan diberikan kepada pelamar yang telah lulus seleksi dan telah memiliki Surat Penerimaan (Letter of Acceptence) dari perguruan tinggi yang telah ditetapkan Depkominfo.

D. CAKUPAN DAN KEWAJIBAN PENERIMA BEASISWA

1. Cakupan Beasiswa

1. Biaya kuliah (tuition fee)
2. Biaya perjalanan pesawat udara kelas ekonomi pergi-pulang dari dan ke negara tujuan studi (pada saat keberangkatan dan kepulangan)
3. Uang penempatan awal (establishment cost)
4. Biaya hidup selama mengikuti pendidikan (living allowance)
5. Asuransi kesehatan
6. Biaya pengurusan visa pelajar (student visa)


Catatan:
1. Peserta yang telah berkeluarga dapat membawa serta keluarganya ke negara tujuan studi dengan biaya sendiri (Depkominfo tidak memberi tunjangan keluarga).
2. Formulir pendaftaran harus diisi dengan jelas dibubuhi materai secukupnya dan disertai dengan semua dokumen sebagaimana tersebut dalam Daftar Kelengkapan Persyaratan
3. Keputusan Panitia Seleksi bersifat mutlak, tidak dapat diganggu gugat.

2. Kewajiban pelamar

1. Mematuhi seluruh peraturan yang telah ditetapkan oleh Depkominfo berkaitan dengan program beasiswa
2. Mematuhi peraturan negara tujuan studi sebagai pemegang visa pelajar (student visa)
3. Berperilaku baik dan menjaga nama baik Negara Kesatuan Republik Indonesia selama mengikuti pendidikan di luar negeri
4. Melaporkan perkembangan dan hasil studi kembali kepada Depkominfo selama mengikuti dan setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri.


DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Tim Pengembangan Sumber Daya Manusia
Panitia Seleksi Beasiswa S2 dan S3 Luar Negeri
Gedung Departemen Komunikasi dan Informatika Lt. 5
Jalan Medan Merdeka Barat No. 9
Jakarta – 10110


Sunday, February 03, 2008

Ummi's Birthday

Start:     Sep 13, '08 01:00a
Insya Allah hari ini Ummi akan berulang tahun yang ke-69. Semoga sehat, bahagia, dan selalu mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT, Amiin.

Saturday, February 02, 2008

Ummi's Birthday

Start:     Sep 13, '08 01:00a
Insya Allah hari ini Ummi akan berulang tahun yang ke-69. Semoga sehat, bahagia, dan selalu mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT, Amiin.

Indi & Omi's Wedding - 10 November 2007




Ini foto2 pas nikahan sepupuku, Indi, dengan Omi, pas lagi mudik tahun kemaren. Telat banget, yah...baru sempet di-upload sekarang, maklum nguber setoran, hehehe...:)

Seneng banget, bisa ketemu dengan keluarga besar dari Jabotabek, Bandung, Serang, dan yang pastinya, baru pada kesempatan seperti ini aku bisa ketemu pamanku yang kembar empat komplit;P, soalnya mereka udah misah2, sih...satu di Tangerang, 2 di Bekasi, dan satu lagi di Bandung. Plus ketemu dengan para ponakan, mulai dari yang tertua (kelas 3 SMP) sampai dengan edisi terbaru (umur 8 bulan:)).

Yang nggak kalah serunya, tentu saja makanannya yang macem2:). Dari roti jala sampe poffertjes....semua ada di sini...wah...langsung deh, serbuuuu;P.