Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Tuesday, November 25, 2008

Alhamdulillah….

Hari ini sidang berjalan sejak pk. 14.10-15.40 JST. Sedikit hadirin, tapi pertanyaan yang muncul lumayan banyak dan sambung-menyambung. Alhamdulillah, semuanya dapat terjawab, walaupun nggak semuanya sempurna banget, sih... yang penting 'kan usaha, hehehe. Setelah sidang, aku kembali ke study room, menunggu panggilan dari Pakdhe.

Akhirnya… Alhamdulillah, pk. 17.05 JST, Pakdhe dan Paklik mengabarkan bahwa aku lulus dengan revisi minor.

Terima kasih yang tak terhingga dari lubuk hati yang terdalam atas doa dan dukungan keluargaku, sahabat, dan rekan2 semuanya, baik yang di sini, ini, guestbook, maupun via japri, milis, dan SMS. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan yang terbaik bagi rekan2 semuanya… hontou ni domo arigatou gozaimashita….

Segitu dulu… mau bablas ke pulau kapuk, karena kemaren malem tidurnya nggak konsen, terbayang2 nightmare in auditorium. Sekaligus maaf banget, belum sempet mampir ke rumah temen2 dulu... soalnya revisi dan pindahan kudu beres by 6 Desember ini, Insya Allah....

 

***

: Setelah pengumuman hasil sidang (pk. 18.08 JST di study room), bareng temen2 seperjuangan di kampus (Si Mas ini hebat, lho... lulus doktor September lalu dalam 2 tahun saja, sekarang balik lagi dalam rangka post-doc ), bersama kostum sidang yang disebut Riela “fashion sejuta umat.” Soalnya si jas coklat ini sudah menemaniku dari sejak sidang di Saidai, QE/sidang proposal di GRIPS, maen ke Cina kemaren, dan kembali bertugas hari ini… hontou ni otsukaresama deshita.

 ***

Nishi Chiba, 25 November 2008 (23.13 JST)

* Next agenda: revisi dan pindahan, Insya Allah…*

Dan ayat itu pun kembali terngiang...,"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Friday, October 24, 2008

Finally, The Judgement Day... :)

Start:     Nov 25, '08 2:00p
End:     Nov 25, '08 4:00p
Location:     GRIPS, L-F
Alhamdulillah, after submitting the draft this afternoon, I received the e-mail about my "Judgement Day:)." Finally, after a long time of waiting... it's been decided.

Bismillahirrahmaanirrahiiim... hopefully everything goes well...:).

***
Nishi Chiba, 24 October 2008 (22.23 JST)
*Saigo made gambarimashooo:)*

Wednesday, October 22, 2008

Submitting The Dissertation Draft

Start:     Oct 24, '08
Location:     GRIPS
Insya Allah satu deadline akan terlewati lusa... tinggal berdoa sambil menunggu "The Judgement Day"... Insya Allah dilancarkan dan dimudahkan semuanya, Amiiin.

*deg2an mode on:D*

Wednesday, August 20, 2008

Studi vs Prospek Nikah?

Si V            : Wah, lagi S3? Berarti calonnya nanti minimal juga kudu doktor, dong?

Paman W    : Jangan sekolah melulu, ntar gak nikah2, lho!

Mbak X     : Aku gak jadi nerusin doktor, ah… wong lulus master gini aja belum juga dapet jodoh!

Mahasiswi Y : Jadi wanita nggak perlu sekolah tinggi2, ‘kan nantinya ke dapur juga!

Mbak Z    : Si A mundur, Mbak… soalnya dia masih kuliah S2, padahal Mbak udah Master!

 

Beberapa komen di atas sering muncul di sekitarku, terutama yang senada dengan V, W, dan X. Komen yang mengarah pada satu kesimpulan: pendidikan yang tinggi bagi wanita akan meningkatkan kesulitan untuk mendapatkan jodoh baginya! Percaya atau tidak, hal tersebut belakangan ini membuat teman2 wanitaku enggan untuk melanjutkan studinya, padahal mereka memiliki kesempatan dan kemampuan untuk itu. Salah satunya… ya, tentu saja si Mbak X ini. Padahal kesempatan terbuka lebar baginya, dan saat itu ia juga belum mendapatkan kejelasan, dengan siapa akan menikah.

 

Kalau sang calon pendamping sudah jelas, pasti beda lagi situasinya. Tinggal didiskusikan dengan yang bersangkutan, bereslah sudah! Namun yang kebanyakan mengorbankan studi demi menanti sang calon suami ini, justru mereka yang masih benar2 sendiri, dalam arti tidak sedang berproses/dekat dengan pria manapun.

 

Menanti sang pendamping, memang salah satu dari ketidakpastian. Ada berbagai kemungkinan yang membuat sang qawwam ini belum hadir juga. Yang pertama, tentunya kriteria dari si muslimah itu sendiri. Kalau dia menentukan kriteria yang terlalu ‘biasa’, bisa jadi, justru inilah yang mempersulit kehadiran sang pendamping hidup. Lho, kok bisa? Ya, iya, lah… wong maksudnya sang suami itu harus ‘biasa’ berakhlaq Al-Qur’an bak Nabi Muhammad SAW, berwajah ‘biasa’ ala Nabi Yusuf AS, ‘biasa’ kaya dan berkuasa bagai Nabi Sulaiman AS, dan ‘biasa’ sabar seperti Nabi Ayyub AS! Wah, kalau yang kayak gini sih, mau bumi ditegakkan dan diruntuhkan berapa kali juga nggak bakalan ketemu, deh!

 

Jadi, sebelum menentukan kriteria, ada baiknya kita juga berkaca pada diri sendiri. Bukankah Allah telah menyampaikan dalam Q.S. An-Nuur: 26, bahwa: “… perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (pula).”  Kesimpulannya? Ya, kalau kita tidak sebijaksana dan sesholehah Khadijah RA, atau pun secerdas dan seberani Aisyah RA, jangan pasang kriteria setinggi Rasulullah dan kawan-kawan, dong!. Cari kriteria yang membumi, karena kita memang tinggal di bumi, bukan di awang2.

 

Yang kedua, berusaha/ikhtiar. Kalau menurut Ustadz Arif Rahman (Pak Kepsek Lab School) dalam ceramah Ramadhan di kantorku dulu, ada 3 bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan oleh muslimah untuk ‘menjemput’ sang qawwam ini:

a)     Meluruskan niat dan membuka diri. Maksudnya bergaul, secara syar’i tentunya. Kalo ngumpet terus di rumah, gimana mau ketemu orang, dong? Jangan2 malah selama ini orang di sekitar nggak ngeh kalo kita ada, karena hibernasi melulu, hehehe. Terus soal niat, mesti diseriuskan bahwa niatnya memang untuk nikah, menggenapkan setengah agama. Bukan cuman untuk hura-hura atau pacaran yang nggak ketahuan juntrungannya. Bukankah segala sesuatu itu berawal dari niat? Jika niat baik, jalannya baik, dan tujuannya baik; Insya Allah akan dipermudah dan dilancarkan.

b)     Meminta rekomendasi teman/kerabat/keluarga. Sama dengan rejeki, yang namanya jodoh itu juga datangnya dari arah yang tak disangka-sangka. Kalau nggak percaya, tanya, deh… ke temen2 sekitar yang sudah nikah, pasti banyak cerita2 ajaib soal pertemuannya dengan pendamping hidupnya saat ini. Di sisi lain, kita juga mesti hati2 dan memilih teman yang dapat dipercaya, jangan asal OK aja. Ingat, nikah itu bukan cuman untuk sebentar dua bentar, tapi Insya Allah hingga bertemu di surga nanti (ceileh, bahasanya, euy!).

Jadi pastikan bahwa semua informasi yang didapatkan adalah yang paling up-to-date, akurat, tajam, dan tepercaya! Jangan mudah percaya dengan sesuatu yang berawalan dengan: “Kudengar dari temen, temenku punya kawan, kawannya ini sohiban sama si B, nah… temen sebangkunya tetangga si B ini katanya lagi nyari istri.” Welahdalah, jauh banget, yak …’kan susah untuk cek en riceknya infonya nanti. Sebenernya paling enak memang kalau dijodohin sama orang tua, asalkan kriteria mendasar kita sama dengan mereka. Soalnya tiap orang tua pasti akan memilihkan yang terbaik buat anaknya. Nah, tinggal pinter2 negosiasi aja sama orang tua, biar tidak ada tabrakan kepentingan di sini, karena seringkali patokan kriteria sang ortu berbeda dengan sang anak.

c)      Last but not least, berdoa. Niat udah, usaha udah, tinggal tawakkal, pasrahkan dan mintakan yang terbaik kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang mengetahui kepastian tentang jodoh kita. Selalu berbaik sangkalah kepada-Nya, karena hanya Allah yang mengetahui mana yang terbaik bagi kita.

 

Nah, kembali ke soal pendidikan tinggi dan hubungannya dengan berkurangnya prospek untuk menikah. Terus terang, setidaknya ada empat alasan bagiku untuk menolak pendapat ini.

  1. “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim[1].” Catat: setiap muslim, yang berarti baik laki-laki maupun perempuan. Memang, menuntut ilmu tidak wajib lewat pendidikan formal, tapi kalau kesempatan dan kemampuan memungkinkan, kenapa tidak? Percaya deh, yang namanya sekolah itu nggak bakalan ada ruginya. Kecuali kalau niat sekolah bukan untuk menuntut ilmu, tapi cuman pengen gaul dan kongkow2 bareng temen di luar kelas, memperluas jaringan *halah*. Kalau ini mah, jelas rugi banget, udah buang waktu, tenaga, dan biaya, tapi yang kita dapet sama sekali nggak setara dengan itu.

Selain itu, patut diingat bahwa kelak bila sudah menikah dan melahirkan, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak2nya. Itulah sebabnya, pendidikan bagi seorang ibu dan calon ibu sangat penting. Kebayang nggak sih, kalau ibunya lulusan SD, terus waktu si anak duduk di SMP nggak bisa ngerjain/nggak ngerti PR-nya, mau bertanya ke siapa? Ibunya nggak paham, ayahnya belum tentu sempat ngajarin. Kasihan si anak, ‘kan? Apalagi di era globalisasi seperti ini, di mana sang ibu juga dituntut untuk berpacu dengan waktu, agar dapat memberikan bekal pendidikan yang manstab bagi sang anak, sehingga sang anak bisa mandiri, sholeh/ah, dan tidak gampang terpengaruh dengan lingkungannya.

  1. Jodoh merupakan salah  satu dari tiga sekawan (bersama rejeki dan maut, maksudnya) yang hanya diketahui kepastiannya oleh Allah SWT. Tiga sekawan itu telah dituliskan sejak awal nyawa kita ditiupkan (CMIIW). Kalau kita menganggap bahwa orang yang berpendidikan tinggi itu sulit mendapatkan jodoh, wah… berarti sama saja kita menganggap bahwa Allah pilih kasih, tidak adil pada wanita yang berpendidikan tinggi, soalnya hak prerogatif nentuin jodoh itu ‘kan di tangan Beliau? Pastinya, Allah nggak gitu, deh! Mungkin ‘kesulitan’ bertemu jodoh ini justru karena kriteria yang terlalu tinggi tadi, sehingga walaupun yang bersangkutan sudah di depan mata, tapi si wanita masih tetap berharap yang lebih dan lebih, tanpa memperhitungkan kualitas dirinya sendiri, sehingga menolak sang jodoh yang telah ditetapkan.
  2. Tingkat pendidikan formal yang tinggi bukan berarti tahu segalanya. Mungkin pada inget, kita dulu belajar “sapu jagad” justru saat di SD: dari belajar baca tulis angka, huruf Latin, Jawa, dan Arab sampe not balok; dari sejarah Kutai sampe teori relativitas; dari melipat kertas sampe menjahit; dari berkebun sampe olahraga. Lama-kelamaan, pendidikan kita beralih dari generalis menuju ke spesialis, yang dimulai sejak penjurusan di SMA, terus berlanjut hingga akhirnya di S3 kita hanya menambah pengetahuan untuk jenis bidang ilmu yang digeluti saja.

Jadi kalau ada yang bilang bahwa muslimah lulusan S3 mesti nikah dengan pria yang minimal S3, rasanya nggak juga. Semuanya tergantung pada pribadi masing2. Karena kemampuan akademik tidak mencerminkan kepribadian seseorang sepenuhnya. Idealnya memang sekufu. Tapi sekufu bukan berarti setara dalam gelar akademik, ‘kan? Jika calon qawwam yang diajukan memiliki kepribadian yang sholeh, akhlaq yang baik, dan pola pikir serta komunikasi yang nyambung (walaupun gelar akademik yang dimilikinya lebih rendah dari si wanita), kenapa tidak diterima? Selama bisa saling menghormati, Insya Allah perbedaan status pendidikan ini tidak akan menjadi masalah dalam bahtera rumah tangga nanti.

  1. Memanfaatkan waktu sambil menanti kepastian di tengah ketidakpastian. Menuntut ilmu adalah salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas diri dalam masa penantian yang tidak pasti ini. Jangan sampai kita duduk manis menunggu si godot, eh si jodoh ini, deh! Pasti semua sudah mendengar hadist ini:”Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain): Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.[2]”  Iya kalau nunggunya bentar, kalau lama? Rugi banget, kan… buang2 waktu dan kesempatan hanya karena mengandalkan sesuatu yang belum pasti kapan tibanya.

Jika sang qawwam belum juga hadir, pastinya ada alasan Allah untuk itu. Mungkin saja kita diberikan kesempatan untuk berkarya semaksimal mungkin sebelum menikah, karena pernikahan bagi beberapa orang dapat mengurangi kebebasan untuk beraktivitas, apalagi jika anak-anak telah hadir menemani. Psst, pernah seorang wanita bilang kepadaku,”Enak ya, kalau belum nikah, bisa sekolah kemana-mana, bisa kerja di tempat yang kita suka. Kalau udah nikah, mah… semua kudu pake ijin suami, apalagi setelah ada anak… nggak bisa ditinggal sama sekali, ribet banget, dah!”

Hehehe… pastinya, nggak semua begitu, lho! Banyak kok, temen2 yang sudah nikah dan punya anak, tapi tetep bisa beraktivitas seimbang di keluarga dan masyarakat. Jadi komen si Y di atas juga nggak masuk hitungan, deh… karena sebaik-baik manusia, adalah yang paling bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Hal yang perlu diingat adalah, komunikasikan keinginan untuk tetap beraktivitas di luar rumah ini pada sang calon pendamping, agar tidak menyesal di kemudian hari.

 

Tapi jika masih ada pria yang mundur hanya karena status pendidikan yang lebih rendah dari si wanita seperti kata si Z, gimana dong? Ya… itu sih problem dia, bukan kita, hehehe. Karena orang yang terbaik bagi kita adalah yang dapat menerima kita apa adanya, sebagaimana penerimaan kita terhadapnya.

 

Qawwam yang tepat bagi seorang wanita adalah yang mampu menerima calon istrinya dalam kondisi walau (walau nggak bisa masak, walau nggak feminin, walau pendidikannya lebih tinggi, walau beda suku, walau dari keluarga yang biasa saja), bukan dengan syarat kalau (kalau pinter masak, kalau feminin dan lemah-lembut, kalau pendidikannya setara/di bawahnya, kalau dari suku yang sama, kalau anak orang kaya…*halah*). Wah… kalau syaratnya mengubah sejarah pendidikan, keturunan, kekayaan, dan kepribadian begini mah, mendingan milih orang lain aja, deh!.

 

Kesimpulannya, tetaplah untuk terus maju. Selama apa yang kita kerjakan itu baik, benar, dan halal, kenapa mesti ragu? Karena waktu terlalu berharga, untuk disia-siakan dalam penantian yang belum jelas ujungnya. Begitu berharganya waktu, sampai Allah pun mengatakan dalam Q.S. Al-Insyirah: 7, “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)….” Bila sang sandaran hati tak juga berjumpa di dunia ini, Insya Allah pasangan abadi akan dipertemukan di akhirat nanti.

***

Finally… just be yourself, do your best, think positive, and keep praying for His guidance, because only Allah who knows the best for us ….

*****

Nishi Chiba, 20 Agustus 2008 (23.47 PM)

Semoga Allah senantiasa menempatkan kita dalam naungan hidayah dan ridha-Nya…

 (Dari sini)

 



[1] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 224), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula oleh Imam-imam ahli hadits yang lainnya dari beberapa Shahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id al-Khudri, dan al-Husain bin ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum.

Saturday, August 02, 2008

ISORA 2008

Start:     Oct 29, '08
End:     Nov 4, '08
Location:     Lijiang, China
Alhamdulillah, pulang dari hanabian hari ini, dapet imel bahwa paperku diterima:). Insya Allah sekalian ikutan conference ini di Cina.

Pertanyaan selanjutnya (bagi yang udah pernah ke Lijiang, China): ada yang tahu, di mana bisa dapet makanan halal di sana?

Makasih banget sebelumnya untuk infonya...:)

ISORA 2008

Start:     Oct 29, '08
End:     Nov 4, '08
Location:     Lijiang, China
Alhamdulillah, pulang dari hanabian hari ini, dapet imel bahwa paperku diterima:). Insya Allah sekalian ikutan conference ini di Cina.

Pertanyaan selanjutnya (bagi yang udah pernah ke Lijiang, China): ada yang tahu, di mana bisa dapet makanan halal di sana?

Makasih banget sebelumnya untuk infonya...:)

Monday, May 19, 2008

The Story of Stuff with Annie Leonard

http://www.storyofstuff.com/
Video berdurasi 20 menit 40 detik ini berkisah tentang siklus sejak produksi hingga pasca konsumsi. Dijelaskan pula sekilas di sini, tentang peran pemerintah AS dalam "mengurangi kualitas lingkungan hidup" di negara2 dunia ketiga.
Ide pokoknya adalah peranan kita dalam memelihara lingkungan, melalui siklus ini.

The Story of Stuff with Annie Leonard

http://www.storyofstuff.com/
Video berdurasi 20 menit 40 detik ini berkisah tentang siklus sejak produksi hingga pasca konsumsi. Dijelaskan pula sekilas di sini, tentang peran pemerintah AS dalam "mengurangi kualitas lingkungan hidup" di negara2 dunia ketiga.
Ide pokoknya adalah peranan kita dalam memelihara lingkungan, melalui siklus ini.

Thursday, May 15, 2008

Riset dan Teroris

Pada sesi tanya jawab di seminar, seorang pria Jepang berkata,”Risetmu ini menarik sekali, dan sangat berguna bagi teroris…” Aku yang sudah beberapa hari ini kurang tidur, langsung kaget sekaligus bingung mendengar komentarnya, sementara ruangan pun mendadak senyap. Spontan kubolak-balik hand out presentasi di depanku, mencari kata-kata yang mengindikasikan ke arah terorisme, dan tentu saja… nihil!

Sementara itu, si pria ini melanjutkan kata-katanya,”Sekedar informasi saja, saat ini saya sedang mengambil PhD di bidang International Security, makanya saya bilang, risetmu ini bisa sangat berguna bagi teroris yang ingin menyerang Jepang…”

Duh biyung…ngobrol, dong! Si Paklik, alias pembimbingku yang yunior, malah menimpali perkataannya sambil ketawa,”Betul, kamu serang aja tempat penampungan airnya, itu yang paling efektif…” disambut tawa geli hadirin, sementara aku cuma nyengir nggak ngerti, sambil masih memperhatikan pria itu dengan penasaran, mengapa kalimat tadi bisa terlontar. Selanjutnya dia menyampaikan pertanyaan yang “normal”, yang bisa kutanggapi dengan tenang terkendali.

Setelah seminar selesai, pertanyaan si pria ini masih terekam baik di otakku. Terus terang, aku agak prihatin dengan pola pikirnya. Hasil riset digunakan oleh teroris? Lho, memang kalau kita tidak melakukan riset, kemudian teroris tidak akan melakukan aksinya karena tidak ada data? Riset adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Ilmu adalah kekuasaan. Dan kekuasaan, bagaikan pedang bermata dua, karena bisa digunakan untuk kebaikan, tapi juga bukan tidak mungkin disalahgunakan untuk keburukan. Semuanya tergantung dari si manusia itu sendiri, yang memegang kekuasaan.

Apakah karena takut pada teroris, kemudian kita membungkam ilmu pengetahuan, dan mengurung diri dalam dunia ketidaktahuan? Itu sih sama saja dengan kita duduk manis di rumah karena takut mengalami kecelakaan dan mati di luar sana, yang pastinya, amat sangat tidak realistis bagi semua orang.

Satu hal lagi, tidak hanya teroris yang bisa disalahkan ketika ilmu pengetahuan ini terselewengkan. Sejarah mencatat, pengejawantahan pertama teori relativitas Einstein yang termashur itu justru untuk membunuh banyak orang, dan dilakukan oleh Pemerintah AS, bukan teroris!

Jadi, jangan sampai berbagai kondisi negatif saat ini menghalangi kita untuk selalu menuntut ilmu, karena segala hal di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Semuanya terpulang kembali pada hati nurani masing-masing, apakah kebaikan ataukah keburukan yang akan kita tuju dan jalankan?

***

“When knowledge is limited - it leads to folly... When knowledge exceeds a certain limit, it leads to exploitation” – [Abu Bakar ash-Shiddiq, 573-634 M]

*****

(Dari sini)

Nishi Chiba, 16 Mei 2008 (01.41 JST)

 Semoga Allah SWT senantiasa menempatkan kita dalam ridha dan lindungan-Nya…