Showing posts with label yangberkesan. Show all posts
Showing posts with label yangberkesan. Show all posts

Wednesday, November 12, 2008

Sobetsukai Jeng Nini - 30 Agustus 2008




Udah lama gak aplot poto2, jadilah ini mumpung lagi ngantuk berat buat ngerjain setoran...aplot poto2 jaman sobet-nya Jeng Ninceh....*duh, kangenku padanya:)*

Pas sobet ini sekaligus ada gladi resik angklung, live-show-nya Pak Donny cs, plus slametan ultahnya Nasmah:).

Maap gak pake caption...ndak sempet, euy:D

Tuesday, October 21, 2008

CULTURAMA: A 10-meter-wide Panoramic Interactive 9 Screens

Rating:★★★★★
Category:Computers & Electronics
Product Type: Other
Manufacturer:  The Egyptian Center for CULTNAT
Tgl. 16 Oktober lalu, sempat mampir ke Culturama, yang lagi "mampir" di kampusku sampai 24 Oktober nanti. Setelah sering nonton film dengan suara yang surround, baru kali ini nonton gambar yang surround:D. Teknologi 9 layar interaktif ini memang keren banget, dan sukses menyajikan sejarah Mesir sejak jaman piramid sampai sekarang. Walhasil, tontonan 30 menit ini berasa singkat banget, saking enjoy-nya kita "dibawa" ke Mesir;D.

Kubilang dibawa, karena saat ke-9 layar ini menampilkan Piramid dan sekitarnya, kita serasa berada di dalamnya. Terus saat layar menampilkan Masjid Amr ibn Al Ash, tampilan para layar yang melingkungi penonton tersebut benar2 membuat gambar 2 dimensi itu serasa 3 dimensi, dan menempatkan kita di dalam masjid itu.

Kelemahannya cuman satu, sang presenter, menjelaskan semuanya in Jepun, not in English:(.

Tapi secara keseluruhan, aku salut banget dengan Dep. Kominfo-nya Mesir, yang benar2 menggarap paket pengenalan pariwisatanya seserius ini. Tidak hanya teknologi 9 layar interaktif yang baru saja dipatenkan, tapi juga brosur2 yang disediakan di ruangan ini bener2 digarap dengan serius dengan tampilan dan kualitas kertas yang elegan, yang dibagikan secara gratis pula!

Kalau teknologi ini dipake buat presentasi sidang, wah...keren banget kayaknya...cuman modal satu mouse dan PC doang:D *ngayal dot com:P* Oya, review-nya bisa dibaca juga di bawah ini. Duh...jadi tambah pengen ke Mesir, niiiiih..:).

***
Friday, Oct. 17, 2008

Tech like an Egyptian

By DONALD EUBANK
Staff Writer

Egypt may be known for its history, but this week in Tokyo some of its most advanced cultural technology will be on display. The Egyptian Center for Documentation of Cultural and Natural Heritage is touring Japan with CULTURAMA, a semi- circular set of screens displaying the interiors of ancient tombs, the history of the pharaohs, and panoramic scenes of Cairo from the Nile, Alexandria and more.



A computer projects interactive footage across a 10-meter-diameter set of nine screens, allowing the presenter to show more information about — for example — Thotmosis III, who built the botanical garden in the Karnak Temple. With one mouse click, the garden is revealed, with its walls on which the pharaoh documented the wildlife known in Egypt in his time. Another click shows modern photos and the scientific background of the animals and plants. Think of it as the Internet made big. Stunning views combine with an "edutainment" agenda that will satisfy the curiosity of anyone interested in the land of the pyramids. CULTURAMA programs feature ancient Egyptian history, a tour of modern Egypt, a virtual visit to Luxor, and Islamic and Coptic architectural history.

If you can't go to Egypt in person, head to the National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) in Roppongi, where CULTURAMA is open to the public from Oct. 16-24.
CULTURAMA shows run for 45 minutes from 10 a.m.-5 p.m. on the hour at GRIPS, 7-22-1 Roppongi, Minato Ward, Tokyo. For more information, call (03) 6439-6000.

***

(From The Japan Times Online )

News photo
Wide-screen: A 10-meter-wide panoramic display reveals some of Egypt's most advanced cultural technology at CULTURAMA from Oct. 16-24.

CULTURAMA: A 10-meter-wide Panoramic Interactive 9 Screens

Rating:★★★★★
Category:Computers & Electronics
Product Type: Other
Manufacturer:  The Egyptian Center for CULTNAT
Tgl. 16 Oktober lalu, sempat mampir ke Culturama, yang lagi "mampir" di kampusku sampai 24 Oktober nanti. Setelah sering nonton film dengan suara yang surround, baru kali ini nonton gambar yang surround:D. Teknologi 9 layar interaktif ini memang keren banget, dan sukses menyajikan sejarah Mesir sejak jaman piramid sampai sekarang. Walhasil, tontonan 30 menit ini berasa singkat banget, saking enjoy-nya kita "dibawa" ke Mesir;D.

Kubilang dibawa, karena saat ke-9 layar ini menampilkan Piramid dan sekitarnya, kita serasa berada di dalamnya. Terus saat layar menampilkan Masjid Amr ibn Al Ash, tampilan para layar yang melingkungi penonton tersebut benar2 membuat gambar 2 dimensi itu serasa 3 dimensi, dan menempatkan kita di dalam masjid itu.

Kelemahannya cuman satu, sang presenter, menjelaskan semuanya in Jepun, not in English:(.

Tapi secara keseluruhan, aku salut banget dengan Dep. Kominfo-nya Mesir, yang benar2 menggarap paket pengenalan pariwisatanya seserius ini. Tidak hanya teknologi 9 layar interaktif yang baru saja dipatenkan, tapi juga brosur2 yang disediakan di ruangan ini bener2 digarap dengan serius dengan tampilan dan kualitas kertas yang elegan, yang dibagikan secara gratis pula!

Kalau teknologi ini dipake buat presentasi sidang, wah...keren banget kayaknya...cuman modal satu mouse dan PC doang:D *ngayal dot com:P* Oya, review-nya bisa dibaca juga di bawah ini. Duh...jadi tambah pengen ke Mesir, niiiiih..:).

***
Friday, Oct. 17, 2008

Tech like an Egyptian

By DONALD EUBANK
Staff Writer

Egypt may be known for its history, but this week in Tokyo some of its most advanced cultural technology will be on display. The Egyptian Center for Documentation of Cultural and Natural Heritage is touring Japan with CULTURAMA, a semi- circular set of screens displaying the interiors of ancient tombs, the history of the pharaohs, and panoramic scenes of Cairo from the Nile, Alexandria and more.



A computer projects interactive footage across a 10-meter-diameter set of nine screens, allowing the presenter to show more information about — for example — Thotmosis III, who built the botanical garden in the Karnak Temple. With one mouse click, the garden is revealed, with its walls on which the pharaoh documented the wildlife known in Egypt in his time. Another click shows modern photos and the scientific background of the animals and plants. Think of it as the Internet made big. Stunning views combine with an "edutainment" agenda that will satisfy the curiosity of anyone interested in the land of the pyramids. CULTURAMA programs feature ancient Egyptian history, a tour of modern Egypt, a virtual visit to Luxor, and Islamic and Coptic architectural history.

If you can't go to Egypt in person, head to the National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) in Roppongi, where CULTURAMA is open to the public from Oct. 16-24.
CULTURAMA shows run for 45 minutes from 10 a.m.-5 p.m. on the hour at GRIPS, 7-22-1 Roppongi, Minato Ward, Tokyo. For more information, call (03) 6439-6000.

***

(From The Japan Times Online )

News photo
Wide-screen: A 10-meter-wide panoramic display reveals some of Egypt's most advanced cultural technology at CULTURAMA from Oct. 16-24.

Monday, October 20, 2008

The Power of Believing

Just watched Kung Fu Panda a couple days ago, and I like most of the quotes there, especially this one:

"There is no special ingredients. To make something special, you just have to believe that it is special"- [said by Po's father, the noodle seller]

So, what's your favourite quote from this movie?



(From here)
Nishi Chiba, 20 October 2008 (19.53 JST)
After enjoying another beautiful day...

The Power of Believing

Just watched Kung Fu Panda a couple days ago, and I like most of the quotes there, especially this one:

"There is no special ingredients. To make something special, you just have to believe that it is special"- [said by Po's father, the noodle seller]

So, what's your favourite quote from this movie?



(From here)
Nishi Chiba, 20 October 2008 (19.53 JST)
After enjoying another beautiful day...

Tuesday, October 14, 2008

Betapa Kecil Diri ini …

Bulan Ramadhan dan Syawal ini ada beberapa peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang di saat-saat setoran tak kunjung padam itu mulai berlalu, mulai terpikirkan sebagai rangkaian peristiwa yang saling berkaitan.

 

Dimulai dari ketidakpastian suatu hal yang berlarut-larut, yang diikuti dengan berita ini. Di saat-saat terberat itulah, Allah memberikan keringanan dalam perwujudan para sahabat, yang membantu menguatkanku. Bahkan beberapa hari kemudian, mulai ada titik terang tentang ketidakpastian tadi (“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” - Q.S. 94:5).

 

Yang kedua, ada hal lain pula yang selama ini kuharapkan, namun selalu dijauhkan, walaupun berbagai usaha telah dilakukan. Di minggu2 terakhir Ramadhan, mendadak ada tawaran dari kampus, yang hasilnya memang tak seberapa, namun waktunya sesuai dengan jadwal ketatku di tengah himpitan deadline. Belum lagi pengalaman bertemu dengan para mahasiswa baru yang kocak dan menghibur selama menjalani tugas tadi, yang membuat ketegangan berkejaran dengan setoran agak berkurang. Baru terpikirkan olehku, bila tawaran lain itu didapatkan, mungkin akan terjadi kesulitan untuk mengatur jadwal nguber setoranku (“…. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” - Q.S. 2:216 ).

 

Last but not least, tentang nikmat kesehatanku hingga saat ini. Walaupun beberapa bulan belakangan ini jadwal tidur dan makanku sangat berantakan (tidur habis Subuh, bahkan pernah jam 8 pagi, makan hanya 2 kali sehari… lah wong waktu sarapan bentrok dengan jam tidur, hehehe…), namun Alhamdulillah, hingga saat ini masih sehat walafiat, dan sejauh ini masih mampu menyelesaikan semua tuntutan setoran tepat pada waktunya. Subhanalllah, walhamdulillah....

 

Beberapa peristiwa ini membuatku berpikir, betapa kecil sekali rasanya diri ini… terutama bila mengingat: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

 

***

(Dari sini)

Nishi Chiba, 14 Oktober 2008 (23.18 JST)

*Renungan di kala badai setoran mulai mereda…*

Friday, August 15, 2008

Biografi H. Agus Salim

Menjelang 17 Agustus, akhirnya nemu juga biografi salah satu tokoh kemerdekaan idolaku. Semoga masih banyak orang2 yang cerdas, idealis, santun, dan sholeh seperti beliau ini, agar bangsa dan negara kita dapat segera pulih, Amiiin...

(Menguasai 9 bahasa asing! Wuih, gimana belajarnya, ya? Wong kepentok basa Jepun aja gak maju2 gini).

***

Haji Agus Salim



Haji Agus Salim
(lahir dengan nama Mashudul Haq (yang bermakna "pembela kebenaran"); Koto Gadang, Bukittinggi, Minangkabau, (8 Oktober 1884–Jakarta, 4 November 1954) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Beliau menempuh pendidikannya di ELS (Europeese Lagere School) dan HBS di Jakarta. Agus Salim terkenal sebagai orang yang cerdas dan pandai, beliau menguasai sembilan bahasa asing, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang. Pada waktu muda beliau merantau sampai ke Arab Saudi untuk memperkaya pemikiran dan ilmunya. Haji Agus Salim pernah menjadi penerjemah di Konsulat Belanda di Jeddah Arab Saudi.

Tokoh yang terkenal dengan penampilan khasnya memakai kopiah dan berjanggut, menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode 3 Juli 1947 - 20 Desember 1949. Pada masa jabatannya beliau mengetuai delegasi Indonesia dalam Inter-Asian Relation Conference di India dan berusaha membuka hubungan diplomatik dengan sejumlah Negara Arab, terutama Mesir dan Arab Saudi.

Beliau merupakan salah satu diplomat ulung Indonesia yang dikenal sering mewakili Indonesia di berbagai konferensi dan pertemuan Internasional. Sosoknya telah dikenal di kalangan masyarakat Internasional. Karena keluasan ilmunya, beliau diminta memberikan kuliah agama Islam di Cornell University dan Princenton University, Amerika Serikat.



Latar belakang

Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.


Karir politik

Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto.

Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:

  • anggota Volksraad (1921-1924)
  • anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
  • Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
  • pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949

Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim masih mengenal batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.

Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

***

(Sumber: Wikipedia dan Deplu Junior)

Nishi Chiba, 15 Agustus 2008 (22.44 JST)

*Bertepatan dengan hari berkabung nasional di Jepun...*



Biografi H. Agus Salim

Menjelang 17 Agustus, akhirnya nemu juga biografi salah satu tokoh kemerdekaan idolaku. Semoga masih banyak orang2 yang cerdas, idealis, santun, dan sholeh seperti beliau ini, agar bangsa dan negara kita dapat segera pulih, Amiiin...

(Menguasai 9 bahasa asing! Wuih, gimana belajarnya, ya? Wong kepentok basa Jepun aja gak maju2 gini).

***

Haji Agus Salim



Haji Agus Salim
(lahir dengan nama Mashudul Haq (yang bermakna "pembela kebenaran"); Koto Gadang, Bukittinggi, Minangkabau, (8 Oktober 1884–Jakarta, 4 November 1954) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Beliau menempuh pendidikannya di ELS (Europeese Lagere School) dan HBS di Jakarta. Agus Salim terkenal sebagai orang yang cerdas dan pandai, beliau menguasai sembilan bahasa asing, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang. Pada waktu muda beliau merantau sampai ke Arab Saudi untuk memperkaya pemikiran dan ilmunya. Haji Agus Salim pernah menjadi penerjemah di Konsulat Belanda di Jeddah Arab Saudi.

Tokoh yang terkenal dengan penampilan khasnya memakai kopiah dan berjanggut, menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode 3 Juli 1947 - 20 Desember 1949. Pada masa jabatannya beliau mengetuai delegasi Indonesia dalam Inter-Asian Relation Conference di India dan berusaha membuka hubungan diplomatik dengan sejumlah Negara Arab, terutama Mesir dan Arab Saudi.

Beliau merupakan salah satu diplomat ulung Indonesia yang dikenal sering mewakili Indonesia di berbagai konferensi dan pertemuan Internasional. Sosoknya telah dikenal di kalangan masyarakat Internasional. Karena keluasan ilmunya, beliau diminta memberikan kuliah agama Islam di Cornell University dan Princenton University, Amerika Serikat.



Latar belakang

Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.


Karir politik

Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto.

Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:

  • anggota Volksraad (1921-1924)
  • anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
  • Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
  • pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
  • Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949

Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim masih mengenal batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.

Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

***

(Sumber: Wikipedia dan Deplu Junior)

Nishi Chiba, 15 Agustus 2008 (22.44 JST)

*Bertepatan dengan hari berkabung nasional di Jepun...*



Wednesday, August 13, 2008

BBQ n Ngolimpic Bareng (8-8-'08)...;P




Berhubung tuan rumah en bumil sudah meminta, jadilah foto BBQ ini diposting sekarang:D.

Kelar BBQ, kita nonton pembukaan olimpiade bareng... seru, deh...kayak nonton misbar, hehehe:D.

BTW, menu hari itu: pizza, lontong gule buncis, sate ayam en kambing, burger, jagung baqar, paprika en sayuran baqar, makaroni schotel, asinan, salad buah, perkedel ikan, bihun goreng, lemon juice, truuuus....waduh, apa lagi ya? Lupa deh, abisnya banyak bener:D. Pokoknya perbaikan gizi deh, hari ini:P.

Oya, thanks banget buat Dian & keluarga, atas hospitaliti-nya...(*amfun, dah... bahasanya benar2 tidak benar;D), oishikute, tanoshikatta desuuuuuu:P. Thanks juga buat semuanya yang udah dateng... seneeeeeng... rame:D.

Monday, August 11, 2008

Pesta Extravaganza … Selanjutnya Apa?

Malam 8 Agustus 2008, tepat pk. 08.08 waktu setempat, atau 09.08 JST, kami menyaksikan pembukaan Olimpiade bareng di rumah seorang teman. Malam itu juga, kembali Cina membuka mata dunia, bahwa masih ada negara besar di dunia ini selain sang adidaya, yang mendominasi dunia sejak Uni Soviet tenggelam dengan ‘glasnost’ dan ‘perestroika-nya’.

 

Tidak hanya ribuan personil yang mewarnai pentas kolosal ini, pesta extravaganza tersebut juga menunjukkan kecanggihan teknologi dan ketinggian budaya, yang dengan megahnya diwakili dengan parade bela diri, kostum, dan budaya tradisonal lainnya, serta sejarah penemuan benda penting di dunia oleh negara ini: kertas.

 

Pertanyaan yang pertama kali menyeruak di benakku adalah: berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk unjuk kemewahan malam itu? Stadion sarang burung bisa dikategorikan sebagai investasi jangka panjang, tapi bagaimana dengan kembang api, kostum personil, serta berbagai teknologi tingkat tinggi yang digelar hanya untuk malam itu?

 

Pertanyaan yang sama juga selalu muncul di saat menghadiri pesta pernikahan yang mewah di ibukota. Orang tua puas, pengantin bahagia, makanan nikmat dan berlimpah, para rekanan senang karena masuk daftar undangan. Namun setelah itu, apa?

 

Bila kita berhitung untuk Beijing, akan ada pemasukan besar dari para peserta olimpiade yang datang dari berbagai negara, baik untuk bertanding, berjalan2, dan tentunya, membeli oleh2. Tiket masuk ke area pertandingan, bisa dijadikan tambahan. Kesuksesan sebagai tuan rumah akan meningkatkan jumlah investor yang masuk, terlebih dengan iming2 SDM murah yang melimpah di negeri ini, adalah dampak positif lainnya. Apalagi sejak 2001 lalu, persiapan olimpiade ini telah membuka lapangan kerja baru sebanyak 600 ribu orang/tahunnya[1], sehingga tingkat pengangguran per 2007 (estm.) adalah 4% dari total penduduk sebanyak 1,33 miliar (estm. Juli 2008)[2]. Jadi, mungkin pengeluaran sebanyak US$ 2.0 miliar dalam olimpiade ini masih bisa tergantikan, dan dampaknya sedikit banyak dapat dirasakan oleh rakyat Cina.

 

Bagaimana dengan pesta pernikahan? Ada beberapa orang tua yang menganggap pesta ini sebagai investasi, karena hadiah pernikahan yang ‘tidak berupa kado atau pun karangan bunga’ diharapkan akan menumpuk pula, sehingga bisa ‘balik modal’ atau malahan dapet ‘untung’.

 

Rekan2 yang dipestakan secara mewah ini pun kebanyakan tidak dapat mengelak, karena paksaan orang tuanya. Selain alasan ‘investasi’, ada pula karena ‘hutang budi’ (karena teman orang tua sebelumnya mengundang dalam hajatan anaknya, maka ini kesempatan untuk membalas budi yang bersangkutan). Dan yang tak kalah banyaknya, adalah alasan ‘kekuasaan/jabatan’ (terpaksa mengadakan hajatan di hotel berbintang karena banyaknya tamu yang harus diundang, terkait dengan jabatan yang disandang).

 

Apapun alasannya, beradu kemewahan dalam pernikahan mungkin tak mengapa, bila di lingkungan sekitar kita mempunyai hidup yang sama, bisa makan enak setiap harinya, dan tidak ada lagi kaum dhuafa yang setiap hari harus berpikir: besok bisa makan/nggak, ya? Bisa juga pesta ini dilakukan di tengah masyarakat yang makmur sentosa, di mana seluruh fakir miskin dan anak terlantar dipelihara dengan baik oleh negara, sehingga tak ada lagi anak jalanan, atau pun para gelandangan dan peminta-minta.

 

Sayangnya, negara kita tidak seperti itu adanya. Masih banyak orang yang sibuk mengais makanannya di tempat sampah. Ada balita yang berjuang seharian di lampu merah untuk sekedar sebungkus nasi yang dimakannya. Ribuan anak putus/tak dapat melanjutkan sekolah karena melonjaknya biaya. Pengangguran masih 9,6% dari total penduduk sekitar 237 juta jiwa (estm. 2007)[3]. Entah berapa jumlah anak panti asuhan yang hingga saat ini terpaksa makan seadanya, karena tiada memadainya jumlah sumbangan yang diterima.

 

Perayaan pernikahan adalah berbagi syukur atas kebahagiaan yang didapatkan. Bila memang berbagai alasan ‘keterpaksaan’ di atas harus mengemuka, mungkin saudara2 yang tak seberuntung sang empunya hajat ada baiknya diikutsertakan. Karena berbagi kepada yang lebih membutuhkan tidak akan mengurangi kebahagiaan, bahkan justru membuatnya berlipat ganda. Rasa terima kasih yang tulus dari lubuk hati mereka, akan jauh lebih bermakna dibandingkan para kalangan ‘tingkat tinggi’, yang sudah terbiasa mendapatkan makanan sejenis di kesehariannya. Karena negara kita belumlah makmur sentosa dan mampu menjalankan kewajibannya, untuk menanggung seluruh fakir miskin dan anak terlantar di segenap penjuru negeri.

***

“Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta. [Q.S. Az-Zariyat: 19]”

*****

(Dari sini)

Nishi Chiba, 12 Agustus 2008 (00.36 JST)

*Lima hari menjelang dirgahayu negeri tercinta… semoga Allah SWT selalu melindungi dan merahmati negeri ini, Amiiin*

 

 

 

 

 

 

 

Friday, August 08, 2008

Makaroni Schotel Tuna Sayuran-ala Bonek lagi;D


Description:
Akhirnya, jadi juga nyobain makaroni schotel campuran sayuran seperti idenya Dian;D. Kali ini daging cincang/kornetnya diganti tuna, plus keju parmesan diganti dengan keju lembaran.

Kenapa diganti? Soalnya ngeliat si keju lembaran ini kayaknya lebih machtig dibandingin si parmesan. Terus karena lagi summer, makanya agak males makan kornet, jadilah tuna sayuran yang masuk ke dalamnya.

Berdasarkan test-drive tgl. 8-8-2008, survei membuktikan, ternyata makaroni kali ini lebih manstab dibandingkan yang sebelumnya ;D.

Kelemahannya cuman satu, kurang asin:D. Padahal sengaja aku kurangin garamnya, karena standar asinku yang di atas rata2, takutnya ntar publik jadi komplain: keasinan, hehehe:D. Yang bikin seneng, si makaroni ini abis dalam sekejap, lah wong emang cuman bikin dikit, padahal publiknya sakampuang, jadi bukan karena ueenak, hehehe:).

Ingredients:
- Makaroni 200 gr (rebus dan tiriskan)
- Light tuna 100 gr (kalengan)
- Sayuran beku (kacang polong, wortel, jagung) 100 gr
- Butter 50 gr
- Bawang bombay 1/2 buah
- Telur 2 butir (kocok sebentar)
- Keju lembaran (aku pakai Kraft Singles 5 lembar:)) 90 gr
- Susu cair 500 cc
- Pala bubuk 1/2 sdt
- Bawang putih bubuk 1 sdm
- Lada putih bubuk 1 sdt
- Garam 1 sdt
- Tepung terigu 25 gr

Directions:
1. Lelehkan butter, tumis bawang bombay hingga layu.
2. Masukkan tuna, keju lembaran (sobek kecil2), garam, pala, lada putih, susu, sayuran beku, tepung terigu, aduk hingga rata, didihkan, angkat dari api.
3. Masukkan telur, aduk rata.
4. Olesi pinggan tahan panas dengan butter.
5. Masukkan adonan ke pinggan tahan panas.
6. Panggang dengan suhu 150 derajat selama 40 menit.
7. Hidangkan dengan lada hitam (ala Bonek:P).

Friday, July 25, 2008

Sayur Lodeh ala Bonek


Description:
Udah lama pengen bikin ini, tapi ketunda terus karena nungguin sang tempe. Karena tempe tersayang tak kunjung tiba, sementara ngidam lodeh tak tertahankan, jadilah kemarin daku berlodeh ria. Berhubung sejak dulu Ummi kalau masak lodeh nggak pernah pake daging, jadinya sampe sekarang juga sukanya lodeh yang tanpa daging. Biasanya kami makan dengan krupuk ikan yang bulet2 itu, jadi gurih banget.
Pas kemaren mau makan, keinget sama si krupuk ikan bulet ini, yang agak susah kutemuin di sini. Eh, Alhamdulillah, mendadak hari ini dapet kiriman krupuk ikan bulet dari mommy-nya Nichi… thanks banget, yaaa:D. Jadilah lodeh hari keduaku ini paripurna sekali, hehehe:D.
Oya, berhubung ilmu memasakku masih pada tingkat tumis tak berkembang, jadi bumbunya seperti biasa… bumbu jadi saja, hehehe:D. Lodeh ini disebut ala bonek, karena daku suka gurih dan asin, jadi santan dan garamnya lumayan banyak, biar machtig :).


Ingredients:
1. Nangka muda kalengan 1 kaleng (500 gr)
2. Terong 3 buah
3. Piman/Paprika hijau 5 buah (gak kuat pedes, jadi dibuang bijinya;P)
4. Bumbu Lodeh merk Bamboe 1 bks
5. Santan kalengan 1 kaleng (400 ml)
6. Air 300 ml
7. Minyak goreng untuk menumis
8. Bawang putih bubuk
9. Garam
10. Gula
11. Merica bubuk.


Directions:
1. Tumis bumbu instan sebentar, masukkan air, aduk hingga rata.
2. Masukkan nangka, terong, dan paprika, rebus sebentar.
3. Masukkan santan, aduk hingga rata.
4. Tambahkan bawang putih bubuk, garam, gula, dan merica sesuai selera, didihkan.
5. Angkat, hidangkan dengan kerupuk ikan/udang plus nasi putih hangat:).

Tuesday, July 15, 2008

Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Masih tentang salah seorang politikus Indonesia favoritku.


Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Seabad pemikiran Islam ini dibedah. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke  213

Oleh: Adian Husaini

ImageKamis (15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, digelar sebuah acara peluncuran panitia Refleksi Seabad Moh. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, dan sebagainya. Tampil sebagai pembicara dalam seminar Prof. Dr. Ichlasul Amal, Ketua Dewan Pers yang juga mantan rektor UGM Yogya.

Moh. Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Karena itu, puncak peringatan seabad Moh. Natsir akan dijadwalkan pada 17 Juli 2008. Tetapi, berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia. Duduk sebagai ketua kehormatan dalam panitia ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai, politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Da’wah, Syuhada Bahri menggambarkan Natsir sebagai pribadi yang sangat unik. Menurut Syuhada, bidang apa pun yang digeluti Moh. Natsir, visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol. Secara panjang lebar Syuhada menceritakan pengalaman pribadinya selama lima tahun bekerja satu ruang dengan Natsir.

Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Ketua Mahkamah Konstitusi, dalam sambutannya, juga menekankan jasa besar Natsir dalam soal NKRI ini, sehingga bangsa Indonesia sangat layak memberi penghargaan kepada Natsir. Selain itu, Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet.

Dalam kesempatan itu, Mensos Bachtiar Chamsah mengakui, bahwa dirinya, sebagai Menteri, sudah mengajukan Natsir agar diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Usulan itu didasarkan atas usulan dari Pemda Sumatera Barat. Tetapi, tahun ini, usulan itu masih terganjal. Bachtiar tidak menjelaskan mengapa usulan itu Natsir ditolak oleh pihak Istana Kepresidenan. Yang jelas, katanya, tahun depan, dia akan mengajukan usulan yang sama. Banyak yang menduga, keterlibatan Natsir dalam PRRI merupakan faktor utama terganjalnya usulan tersebut.

Tetapi, baik keluarga maupun para pelanjut perjuangan Moh. Natsir tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Natsir bukan hanya pahlawan bagi Indonesia. Tetapi, dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.

Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya.

Dalam kesempatan ini, kita cuplik sebuah artikel yang ditulis Natsir pada tahun 1938, yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. (Ejaan telah disesuaikan dengan EYD).

Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut:

”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”

Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”

Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”

Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen.

Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:

”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938; dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Demikianlah salah satu pesan Natsir yang mengingatkan kaitan erat antara gerak Penjajahan, Misi Kristen, dan Orientalisme. Karena pentingnya peran pendidikan ala Barat dalam menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya, bisa dimengerti jika Natsir sangat serius dalam upaya pendirian sejumlah universitas Islam di Indonesia. Kita berdoa, mudah-mudahan civitas academica di kampus-kampus Islam yang dipelopori pendiriannya oleh Natsir memahami misi besar ini, dan tidak terjebak ke dalam paham-paham sekularisme atau liberalisme Barat yang secara gigih diperangi oleh Natsir sepanjang hidupnya.

Betapa zalimnya, andaikan ada kampus Islam yang dulu didirikan dengan niat mulia untuk memperjuangkan Islam justru menjadi tempat perkaderan intelektual-intelektual yang merusak Islam. [Depok, 16 November 2007/www.hidayatullah.com]

***

(Dikutip dari sini)

Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Masih tentang salah seorang politikus Indonesia favoritku.


Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Seabad pemikiran Islam ini dibedah. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke  213

Oleh: Adian Husaini

ImageKamis (15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, digelar sebuah acara peluncuran panitia Refleksi Seabad Moh. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, dan sebagainya. Tampil sebagai pembicara dalam seminar Prof. Dr. Ichlasul Amal, Ketua Dewan Pers yang juga mantan rektor UGM Yogya.

Moh. Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Karena itu, puncak peringatan seabad Moh. Natsir akan dijadwalkan pada 17 Juli 2008. Tetapi, berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia. Duduk sebagai ketua kehormatan dalam panitia ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai, politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Da’wah, Syuhada Bahri menggambarkan Natsir sebagai pribadi yang sangat unik. Menurut Syuhada, bidang apa pun yang digeluti Moh. Natsir, visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol. Secara panjang lebar Syuhada menceritakan pengalaman pribadinya selama lima tahun bekerja satu ruang dengan Natsir.

Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Ketua Mahkamah Konstitusi, dalam sambutannya, juga menekankan jasa besar Natsir dalam soal NKRI ini, sehingga bangsa Indonesia sangat layak memberi penghargaan kepada Natsir. Selain itu, Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet.

Dalam kesempatan itu, Mensos Bachtiar Chamsah mengakui, bahwa dirinya, sebagai Menteri, sudah mengajukan Natsir agar diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Usulan itu didasarkan atas usulan dari Pemda Sumatera Barat. Tetapi, tahun ini, usulan itu masih terganjal. Bachtiar tidak menjelaskan mengapa usulan itu Natsir ditolak oleh pihak Istana Kepresidenan. Yang jelas, katanya, tahun depan, dia akan mengajukan usulan yang sama. Banyak yang menduga, keterlibatan Natsir dalam PRRI merupakan faktor utama terganjalnya usulan tersebut.

Tetapi, baik keluarga maupun para pelanjut perjuangan Moh. Natsir tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Natsir bukan hanya pahlawan bagi Indonesia. Tetapi, dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.

Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya.

Dalam kesempatan ini, kita cuplik sebuah artikel yang ditulis Natsir pada tahun 1938, yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. (Ejaan telah disesuaikan dengan EYD).

Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut:

”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”

Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”

Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”

Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen.

Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:

”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938; dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Demikianlah salah satu pesan Natsir yang mengingatkan kaitan erat antara gerak Penjajahan, Misi Kristen, dan Orientalisme. Karena pentingnya peran pendidikan ala Barat dalam menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya, bisa dimengerti jika Natsir sangat serius dalam upaya pendirian sejumlah universitas Islam di Indonesia. Kita berdoa, mudah-mudahan civitas academica di kampus-kampus Islam yang dipelopori pendiriannya oleh Natsir memahami misi besar ini, dan tidak terjebak ke dalam paham-paham sekularisme atau liberalisme Barat yang secara gigih diperangi oleh Natsir sepanjang hidupnya.

Betapa zalimnya, andaikan ada kampus Islam yang dulu didirikan dengan niat mulia untuk memperjuangkan Islam justru menjadi tempat perkaderan intelektual-intelektual yang merusak Islam. [Depok, 16 November 2007/www.hidayatullah.com]

***

(Dikutip dari sini)

Rangkaian Sejarah: Mohammad Natsir

Awalnya baca ini di MP Mas Tomi, sekalian diabadikan di sini, soalnya beliau adalah salah satu tokoh politik Indonesia favoritku. Semoga di pesta demokrasi mendatang, masih ada orang2 yang mengikuti jejak politik bersih beliau, Amiiin.



Sebuah Pemberontakan tanpa Drama

Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood: perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan, dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu teladan yang jarang.

DIA, Mohammad Natsir (17 Juli 1908–6 Februari 1993), orang yang puritan. Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi, tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja.

Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. ”Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.

Mungkin karena itulah sampai tahun ini—seratus tahun setelah kelahirannya, 15 tahun setelah ia mangkat—tidak sedikit orang menyimpan keyakinan bahwa Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer kita. Masing-masing memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di kalangan Islam garis keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah air ini. Dan di kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang sama, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri dari Partai Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.

Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika itu.

Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih berarti. Waktu itu, pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan nasionalis­me-sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.

Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya ”bertemu” lagi dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.

Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa pengadilan.

Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita, akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat, menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu. Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin yang cenderung otoriter.

Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel ”musuh utama” pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau Buru—pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan politik peng­ikut PKI. Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit. Para penanda tangan Petisi 50 dicekal.

Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang cukup panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan ber­sahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh. Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh santun itu ke dalam banyak halaman laporan panjang edi­si ini.

***

Pak Natsir dan Jihad Palestina

Senin, 28 Apr 08 07:49 WIB

Orang banyak mengenalnya sebagai Pak Natsir. Nama lengkapnya Muhammad Natsir, bergelar Datuk Sinaro nan Panjang, lahir di Minangkabau tanggal 17 Juli 1908, tepatnya di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatera Barat, dari pasangan Sutan Saripado dan Khadijah. Beliau adalah tokoh bangsa, tokoh umat, dan tokoh dunia Islam, karena aktifitas dan peran yang telah dilakukannya untuk Islam dan umat tanpa mengenal lelah.

Pada tahun 1945-1946, pak Natsir menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), tahun 1946-1949 menjabat sebagai Menteri Peneranan RI, tahun 1950-1951 menjadi Perdana Menteri RI.

Dalam percaturan dunia Islam, khususnya di negara-negara Arab, pak Natsir sangat dikenal, dihormati dan disegani, beliau ikut serta dan terlibat pada beberapa organisasi Islam tingkat internasional, tahun 1967 diamanahkan menjabat Wakil Presiden World Muslim Congress (Muktamar Alam Islami), Karachi, Pakistan, tahun 1969 menjadi anggota World Muslim League, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1972 menjadi anggota Majlis A’la al-Alam lil Masajid, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1980 menerima “Faisal Award” atas pengabdiannya kepada Islam dari King Faisal, Saudi Arabia, tahun 1985 menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait, pada tahun 1986 menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Centre for Islamic Studies, London, Inggris dan angota Majelis Umana’ International Islamic Univesity, Islamabad, Pakistan.

Ketika Subandrio naik haji dan ingin bertemu dengan Raja Faisal, Raja Faisal tidak mau menerimanya. Setelah diusahakan oleh pihak KBRI Jedah dan prosesnya agak lama, akhirnya Raja Faisal mau juga menerima Subandrio yang saat itu menjadi orang penting di Indonesia. Subandrio menceritakan tentang Islam di Indonesia, juga menceritakan perannya membela Islam, kisah naik haji dan lain-lain.

Tanpa disangka dan diduga oleh Subandrio, Raja Faisal langsung bertanya, “Kenapa saudara tahan Muhammad Natsir?”. Pak Natsir pernah diasingkan oleh pemerintah Orde Lama ke Batu Malang, Jawa Timur (1960-1962) dan menjadi “tahanan politik” di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta (1962-1966).

“Saudara tahu”, kata Raja Faisal. “Muhammad Natsir bukan pemimpin umat Islam Indonesia saja, tetapi pemimpin umat Islam dunia ini, kami ini!”

Dalam bidang akademik, Pak Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Politik Islam dari Universitas Islam Libanon (1967), dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia, dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Saint dan Teknologi Malaysia (1991).

Perhatian dan kepedulian Pak Natsir terhadap Palestina terus bergelora, tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas, walau usianya sudah uzur, lah laruik sanjo istilah orang Minang, beliau masih memiliki semangat yang tinggi dan kepedulian yang besar terhadap urusan umat khususnya Palestina.

Pak Natsir banyak meninggalkan karya tulis yang berkaitan dengan dakwah dan pemikiran, sebagiannya diterbitkan dalam bahasa Arab, misalnya Fiqh Da’wah, dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan). Beliau juga menulis buku khusus yang membahas permasalahan Palestina dengan judul Qadhiyatu Falisthin (Masalah Palestina).

Menurut Al-Mustasyar Abdullah Al-‘Aqil, mantan wakil Sekretaris Jendral Rabithah Alam Islami di Mekah Al-Mukaromah, “Dr. Muhammad Natsir sangat serius memperhatikan masalah Palestina. Ia temui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina, setelah kekalahan tahun 1967”.

Ketika redaktur majalah “Al-Wa’yul Islami” Kuwait, ustadz Muhammad Yasir Al-Qadhami bersilaturrahim ke rumah pak Natsir, Februari 1989, dan bertanya tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh pada dirinya dan mempengaruhi perjuangannya, pak Natsir menjawab, “ Haji Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna, dan Imam Hasan Al-Hudhaibi. Sedang tokoh-tokoh Indonesia adalah Syekh Agus Salim dan Syekh Ahmad Surkati.”

Di hadapan sekitar 2.000 orang yang hadir dalam acara Tasyakur 80 Tahun Muhammad Natsir, di Masjid Al-Furqan, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, 17 Juli 1988. Pak Natsir menyampaikan kepada jama’ah, founding fathers, tokoh dan pendiri Republik ini, ulama, zuama, cendikiawan, dan generasi muda Islam tentang perjuangan anak-anak dan pemuda Palestina melawan penjajah Zionis Israel.

“Soal Palestina yang selama ini macet, hidup kembali dengan demonstrasi, pemuda-pemuda dan anak-anak sekolah yang secara spontan menyatakan protes dengan beramai-ramai melempari dengan batu (bukan granat) dengan seruan Allahu Akbar, ke arah tentara Israel yang bersenjata lengkap. Sudah delapan bulan yang demikian itu berjalan, sudah banyak yang syahid ditembaki oleh tentara Israel. Tetapi mereka tak berhenti. Siapa yang mnenyangka tadinya akan demikian semangat jihad anak-anak belasan tahun berhadapan dengan angkatan bersenjata Israel…Demikianlah. Tak ada yang tetap di dunia ini. Innazzamaana Qadistadaara (Zaman beredar, musim berganti)”.

Walau dikenal luas oleh para tokoh dunia, Pak Natsir tetap menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Pak Natsir merupakan salah satu dari sedikit tokoh Islam Indonesia yang sungguh-sungguh berjuang menghidupi Islam, bukan sungguh-sungguh hidup dari memanfaatkan Islam, sehingga menjadi gemuk di jalan dakwah, seperti yang sekarang banyak dikerjakan orang-orang yang mengaku tokoh Islam. Bagi Pak Natsir, dunia dengan segala gemerlapnya adalah kepalsuan, bukan hakikat.

Tokoh yang sederhana ini wafat pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 1993 pukul 12.10 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam usia 84 tahun. Semoga Allah ampuni segala dosanya, diterima segala amal ibadahnya dan dilapangkan kuburnya, dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih di dalam surga.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhmahfuz).”(QS: Yaasin/36: 12).

H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA email: ferryn2006@yahoo.co.id

(Sumber: silahkan diklik di masing-masing judul tulisan)