Monday, December 17, 2007

Keladi Tikus: Tanaman Ajaib Penyembuh Kanker

Berhubung dapet info kalau makanan gosong itu bisa menyebabkan kanker sebagaimana bisa dibaca di sini, jadinya nyari2 info tentang kanker, eh...dapet info ini, deh. Semoga bermanfaat.

Oya, mumpung sudah deket...sekalian, saya ingin ngucapin:


Taqoballahu ya Karim,
mohon maaf lahir dan batin.
Semoga semangat berqurban Nabi Ibrahim,
slalu ingatkan kita pada Allah dan memperkuat dien.
Selamat Idul Adha 1428 H


Wassalam,

Fithri


***
Keladi Tikus: Tanaman Ajaib Penyembuh Kanker

Satu lagi tanaman ajaib ditemukan di Indonesia. Namanya "keladi tikus". Ia terbukti bisa membunuh berbagai jenis sel kanker dalam waktu relatif singkat. Di Malaysia, tanaman ini sudah dikembangkan oleh seorang profesor ahli kanker dan telah berhasil membantu ribuan pasien di seluruh dunia.

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "keladi tikus" (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 sentimeter ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H. Teo, Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia.

Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia. Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah.

Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.

"Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontok an rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan", jelas Patoppoi. Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut," ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. "Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia," kenang Patoppoi sambil tersenyum.

Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu. Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan, Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran  tanaman yang ditemukannya itu. Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi  putranya, Boni Patoppoi di Buduran,Sidoarjo untuk ikut  mencarikan tanaman tersebut.

"Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu. Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalani nya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu sayapun kembali normal," lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta," kata Patoppoi.

Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isteri nya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung pengobatan dukungan tersebut dan menyarankan agar mengembangkan nya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali. "Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr. Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr.Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di  Indonesia. "Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-  data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut.

"Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka  datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif. Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr.Teo secara langsung. Atas bantuan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr.Teo di Penang, Malaysia.

Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih Empat No. 5, Jakarta, telp. 021-4894754, dan di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita," kata Boni. Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala  enderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat  diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60 Ringgit Malaysia," lanjut Boni. "Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjang an waktu pembayaran." tambahnya. Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini.  Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah  memiliki reputasi.

Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak di temui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal.

Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter- dukun. "Disinilah gap yang terbuka  antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter tersebut. Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberi kan bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru.

Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan the dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi keter gantungan pada narkoba tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan  timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar- rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.

(Dilly Wibowo/Indonesia Media)

(Dari sini)

Keladi Tikus: Tanaman Ajaib Penyembuh Kanker

Berhubung dapet info kalau makanan gosong itu bisa menyebabkan kanker sebagaimana bisa dibaca di sini, jadinya nyari2 info tentang kanker, eh...dapet info ini, deh. Semoga bermanfaat.

Oya, mumpung sudah deket...sekalian, saya ingin ngucapin:


Taqoballahu ya Karim,
mohon maaf lahir dan batin.
Semoga semangat berqurban Nabi Ibrahim,
slalu ingatkan kita pada Allah dan memperkuat dien.
Selamat Idul Adha 1428 H


Wassalam,

Fithri


***
Keladi Tikus: Tanaman Ajaib Penyembuh Kanker

Satu lagi tanaman ajaib ditemukan di Indonesia. Namanya "keladi tikus". Ia terbukti bisa membunuh berbagai jenis sel kanker dalam waktu relatif singkat. Di Malaysia, tanaman ini sudah dikembangkan oleh seorang profesor ahli kanker dan telah berhasil membantu ribuan pasien di seluruh dunia.

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "keladi tikus" (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 sentimeter ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H. Teo, Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia.

Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia. Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah.

Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.

"Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontok an rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan", jelas Patoppoi. Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut," ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. "Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia," kenang Patoppoi sambil tersenyum.

Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu. Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan, Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran  tanaman yang ditemukannya itu. Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi  putranya, Boni Patoppoi di Buduran,Sidoarjo untuk ikut  mencarikan tanaman tersebut.

"Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu. Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalani nya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu sayapun kembali normal," lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta," kata Patoppoi.

Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isteri nya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung pengobatan dukungan tersebut dan menyarankan agar mengembangkan nya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali. "Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr. Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr.Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di  Indonesia. "Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-  data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut.

"Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka  datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif. Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr.Teo secara langsung. Atas bantuan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr.Teo di Penang, Malaysia.

Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih Empat No. 5, Jakarta, telp. 021-4894754, dan di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita," kata Boni. Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala  enderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat  diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60 Ringgit Malaysia," lanjut Boni. "Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjang an waktu pembayaran." tambahnya. Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini.  Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah  memiliki reputasi.

Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak di temui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal.

Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter- dukun. "Disinilah gap yang terbuka  antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter tersebut. Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberi kan bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru.

Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan the dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi keter gantungan pada narkoba tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan  timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar- rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.

(Dilly Wibowo/Indonesia Media)

(Dari sini)

Saturday, December 15, 2007

Tanya: Biskuit Gosong Obat Maag?

Sebenarnya ini kejadian sudah agak lama, sih, pas Lebaran ke Bandung bulan Oktober lalu.
Ceritanya, aku itu penggemar biskuit Riau, yang produksi Bandung tea, lah! Nah, seperti biasa, tiap ke Bandung, pasti deh kusempetin buat mampir beli biskuit di sini.

Pas lagi milih, aku bingung ngeliat banyak banget biskuit gosong yang dijual di sana. Gosongnya beraneka warna sih, dari yang agak gosong, gosong, sampe gosong buanget!

Pas aku tanyain, kenapa banyak banget biskuit yang gosong, si Mbak nya bilang,"Itu memang sengaja digosongin, Mbak... bagus buat penderita sakit maag." Karena nggak yakin, aku nanya lagi,"Emang biskuit gosong obat maag, Mbak? Tahu dari mana?"

Si Mbak bilang,"Iya, Mbak...sudah banyak yang bilang begitu ke kami, makanya kami nyediain biskuit gosong, deh."

Berhubung aku dari dulu memang penyuka makanan gosong: biskuit gosong, pisgor gosong, tempe gosong, martabak gosong, dan teman2nya (gak ada hubungan sama maag, lho...emang suka yang gosong, karena lebih gurih aja), jadinya aku beli deh, sebungkus biskuit Marie yang super gosong (liat foto).


Tapi sampe sekarang aku masih penasaran nih, bener nggak sih, biskuit gosong bisa jadi obat sakit maag? Penjelasan medisnya dari mana, ya? Temen2 ada yang bisa bantu? Makasih banget sebelumnya atas penjelasannya...

Monggoooo...mau makan biskuit gosong dulu...

Tanya: Biskuit Gosong Obat Maag?

Sebenarnya ini kejadian sudah agak lama, sih, pas Lebaran ke Bandung bulan Oktober lalu.
Ceritanya, aku itu penggemar biskuit Riau, yang produksi Bandung tea, lah! Nah, seperti biasa, tiap ke Bandung, pasti deh kusempetin buat mampir beli biskuit di sini.

Pas lagi milih, aku bingung ngeliat banyak banget biskuit gosong yang dijual di sana. Gosongnya beraneka warna sih, dari yang agak gosong, gosong, sampe gosong buanget!

Pas aku tanyain, kenapa banyak banget biskuit yang gosong, si Mbak nya bilang,"Itu memang sengaja digosongin, Mbak... bagus buat penderita sakit maag." Karena nggak yakin, aku nanya lagi,"Emang biskuit gosong obat maag, Mbak? Tahu dari mana?"

Si Mbak bilang,"Iya, Mbak...sudah banyak yang bilang begitu ke kami, makanya kami nyediain biskuit gosong, deh."

Berhubung aku dari dulu memang penyuka makanan gosong: biskuit gosong, pisgor gosong, tempe gosong, martabak gosong, dan teman2nya (gak ada hubungan sama maag, lho...emang suka yang gosong, karena lebih gurih aja), jadinya aku beli deh, sebungkus biskuit Marie yang super gosong (liat foto).


Tapi sampe sekarang aku masih penasaran nih, bener nggak sih, biskuit gosong bisa jadi obat sakit maag? Penjelasan medisnya dari mana, ya? Temen2 ada yang bisa bantu? Makasih banget sebelumnya atas penjelasannya...

Monggoooo...mau makan biskuit gosong dulu...

Wednesday, December 12, 2007

What can you do in one minute?

Dapet ini dari milis, sayang kalau nggak di-share, karena Insya Allah bisa jadi pengingat, di saat kita hanya punya waktu satu menit saja, banyak sekali perbuatan baik yang dapat dilakukan.

_____

What can you do in one minute?


Question:
In our offices and workplaces we can hardly find time to do acts of worship and righteous deeds. What can we do in the short time that we can find in our day? How can we make use of it?



Answer:

Praise be to Allaah. 

Time is of the essence, it is too precious to be wasted or neglected. The wise person is the one who pays attention to his time and does not treat it as a vessel to be filled with cheap things and vain talk. Instead, he limits it to worthy efforts and righteous deeds that please Allaah and benefit other people. Every minute of a person’s life carries the potential to raise his own status and to make his people happier, little by little.

 If you are keen to attain the highest position, and bring the most happiness to your people, then forget about relaxing and keep away from empty amusement.

 In one minute you can do a lot of good and earn much reward. In just one minute, by giving in charity, studying, memorizing, or striving to do good deeds, you can make sure that this minute of your life is not wasted.  One minute may be recorded in your book of good deeds if you know how to make the most of it and take care of it:

 Strive to make the most of each minute

If you forget it, you forget the most important thing, the truth.

 There follows a list of things that can be done in one minute, by the permission of Allaah:

 

1.     In one minute you can recite Soorat al-Faatihah 3 times, reciting rapidly and silently. Some scholars said that the reward for reading al-Faatihah is more than 600 hasanahs, so if you read it 3 times you will, by the permission of Allaah, gain more than 1800 hasanahs – all of that in one minute.

 

2.     In one minute you can recite Soorat al-Ikhlaas (Qul Huwa Allaahu Ahad) 20 times, reciting rapidly and silently. Reciting it once is equivalent to one-third of the Qur’aan. If you read it 20 times it is equivalent to reading the Qur’aan 7 times. If you read it 20 times in one minute each day, you will have read it 600 times in one month, and 7200 times in one year, which will be equal in reward to reading the Qur’aan 2400 times.

 

3.     You can read one page of the Book of Allaah in one minute.

 

4.     You can memorize a short aayah of the Book of Allaah in one minute.

 

5.     In one minute you can say Laa ilaaha ill-Allaah wahdahu laa shareeka lah, lahu’l-mulk wa lahu’l-hamd wa huwa ‘ala kulli shay’in qadeer (There is no god except Allaah alone with no partner; to Him be dominion and praise, and He is Able to do all things) – 20 times. The reward for saying this is like freeing 8 slaves for the sake of Allaah from among the sons of Ismaa’eel.

 

6.     In one minute you can say Subhaan Allaahi wa bi hamdihi (Glory and praise be to Allaah) 100 times. Whoever says that in one day will be forgiven for his sins even if they are like the foam of the sea.

 

7.     In one minute you can say Subhaan Allaahi wa bi hamdihi Subhaan Allaah il-‘Azeem (Glory and praise be to Allaah, glory be to Allaah the Almighty) 50 times. These are two phrases which are light on the lips, heavy in the balance and beloved to the Most Merciful, as was narrated by al-Bukhaari and Muslim.

 

8.     The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “When I say ‘Subhaan Allaah, wa’l-hamdu Lillah, wa laa ilaah ill-Allaah, wa Allaahu akbar (Glory be to Allaah, praise be to Allaah, there is no god except Allaah, and Allaah is Most Great)’, this is more beloved to me than all that the sun rises upon.” (Narrated by Muslim). In one minute, you can say all of these words more than 18 times. These words are the most beloved words to Allaah, the best of words, and they weigh heavily in the balance of good deeds, as was narrated in the saheeh ahaadeeth.

 

9.     In one minute you can say, Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah (there is no strength and no power except with Allaah) more than 40 times. This is one of the treasures of Paradise, as was narrated by al-Bukhaari and Muslim. They are a means of putting up with difficulties and of aiming to achieve great things.

 

10. In one minute you can say Laa ilaaha ill-Allaah approximately 50 times. This is the greatest word, for it is the word of Tawheed, the good word, the word that stands firm. If these are the last words of a person, he will enter Paradise, and there are other reports which indicate how great these words are.

 

11. In one minute you can say Subhaan Allaah wa bi hamdih, ‘adada khalqihi, wa ridaa nafsihi, wazinata ‘arshihi, wa midaada kalimaatihi (Glory and praise be to Allaah, as much as the number of His creation, as much as pleases Him, as much as the weight of His Throne and as much as the ink of His words) more than 15 times. This words bring many more times the reward for other forms of tasbeeh and dhikr, as was reported in saheeh ahaadeeth from the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him).

 

12. In one minute you can seek the forgiveness of Allaah more than 100 times by saying “Astaghfir-Allaah (I seek the forgiveness of Allaah). The virtues of seeking forgiveness are no secret, for it is the means of attaining forgiveness and entering Paradise, and it is the means of being granted a good life, increasing one’s strength, warding off disasters, making things easier, bringing rain and increasing one’s wealth and children.

 

13. You can say a few brief and concise words in one minute, and Allaah may bring about some good through them that you could never imagine.

 

14. In one minute you can send blessings on the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) 50 times by saying Sall-Allaahu ‘alayhi wa sallam (May Allaah bless him and grant him peace). In return Allaah will send blessings upon you 500 hundred times because one blessing brings ten like it.

 

15. In one minute you can motivate your heart to give thanks to Allaah, to love Him, to fear Him, to put hope in Him, to long for Him, and thus travel through the stages of ‘uboodiyyah (total enslavement to Allaah). You could do this when you are lying on your bed or walking in the street.

 

16. In one minute you can read more than two pages of a useful book that is easy to understand.

 

17. In one minute you can uphold the ties of kinship by calling a relative on the phone.

 

18. You can raise your hands and recite any du’aa’ you wish from the books of du’aa’, in one minute.

 

19. You can say salaams to and shake hands with a number of people in one minute.

 

20. You can forbid an evil action in one minute.

 

21. You can enjoin something good in one minute.

 

22. You can offer sincere advice to a brother in one minute.

 

23. You can console someone who is depressed in one minute.

 

24. You can remove something harmful from the road in one minute.

 

25. Making the most of one minute motivates you to make the most of other periods that would otherwise be wasted.

 

 Al-Shaafa’i (may Allaah have mercy on him) said:

 When people go to sleep, I let my tears flow, and I recite a verse of the most eloquent poetry

Is it not a waste that nights go by and I do not increase in knowledge, yet this time is counted as part of my life?

 Finally, the more sincere you are towards Allaah and the more aware you are of Him, the greater will be your reward and the more your hasanaat will increase.

Note that most of these actions will not cost you anything; they do not require tahaarah (purity) and they will not tire you out or take much effort. On the contrary, you can do them whilst you are walking, or in your car, or lying down, or standing, or sitting, or waiting for somebody. 

These actions are also among the greatest means of attaining happiness, expanding the chest (i.e., bringing relief and joy) and removing stress and anxiety. May Allaah help us and you to do that which He loves and which pleases Him. May Allaah bless our Prophet Muhammad.

 

Islam Q&A

Sheikh Muhammed Salih Al-Munajjid

(Quoted from here)
(Taken from....see the image's bottom line)

What can you do in one minute?

Dapet ini dari milis, sayang kalau nggak di-share, karena Insya Allah bisa jadi pengingat, di saat kita hanya punya waktu satu menit saja, banyak sekali perbuatan baik yang dapat dilakukan.

_____

What can you do in one minute?


Question:
In our offices and workplaces we can hardly find time to do acts of worship and righteous deeds. What can we do in the short time that we can find in our day? How can we make use of it?



Answer:

Praise be to Allaah. 

Time is of the essence, it is too precious to be wasted or neglected. The wise person is the one who pays attention to his time and does not treat it as a vessel to be filled with cheap things and vain talk. Instead, he limits it to worthy efforts and righteous deeds that please Allaah and benefit other people. Every minute of a person’s life carries the potential to raise his own status and to make his people happier, little by little.

 If you are keen to attain the highest position, and bring the most happiness to your people, then forget about relaxing and keep away from empty amusement.

 In one minute you can do a lot of good and earn much reward. In just one minute, by giving in charity, studying, memorizing, or striving to do good deeds, you can make sure that this minute of your life is not wasted.  One minute may be recorded in your book of good deeds if you know how to make the most of it and take care of it:

 Strive to make the most of each minute

If you forget it, you forget the most important thing, the truth.

 There follows a list of things that can be done in one minute, by the permission of Allaah:

 

1.     In one minute you can recite Soorat al-Faatihah 3 times, reciting rapidly and silently. Some scholars said that the reward for reading al-Faatihah is more than 600 hasanahs, so if you read it 3 times you will, by the permission of Allaah, gain more than 1800 hasanahs – all of that in one minute.

 

2.     In one minute you can recite Soorat al-Ikhlaas (Qul Huwa Allaahu Ahad) 20 times, reciting rapidly and silently. Reciting it once is equivalent to one-third of the Qur’aan. If you read it 20 times it is equivalent to reading the Qur’aan 7 times. If you read it 20 times in one minute each day, you will have read it 600 times in one month, and 7200 times in one year, which will be equal in reward to reading the Qur’aan 2400 times.

 

3.     You can read one page of the Book of Allaah in one minute.

 

4.     You can memorize a short aayah of the Book of Allaah in one minute.

 

5.     In one minute you can say Laa ilaaha ill-Allaah wahdahu laa shareeka lah, lahu’l-mulk wa lahu’l-hamd wa huwa ‘ala kulli shay’in qadeer (There is no god except Allaah alone with no partner; to Him be dominion and praise, and He is Able to do all things) – 20 times. The reward for saying this is like freeing 8 slaves for the sake of Allaah from among the sons of Ismaa’eel.

 

6.     In one minute you can say Subhaan Allaahi wa bi hamdihi (Glory and praise be to Allaah) 100 times. Whoever says that in one day will be forgiven for his sins even if they are like the foam of the sea.

 

7.     In one minute you can say Subhaan Allaahi wa bi hamdihi Subhaan Allaah il-‘Azeem (Glory and praise be to Allaah, glory be to Allaah the Almighty) 50 times. These are two phrases which are light on the lips, heavy in the balance and beloved to the Most Merciful, as was narrated by al-Bukhaari and Muslim.

 

8.     The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “When I say ‘Subhaan Allaah, wa’l-hamdu Lillah, wa laa ilaah ill-Allaah, wa Allaahu akbar (Glory be to Allaah, praise be to Allaah, there is no god except Allaah, and Allaah is Most Great)’, this is more beloved to me than all that the sun rises upon.” (Narrated by Muslim). In one minute, you can say all of these words more than 18 times. These words are the most beloved words to Allaah, the best of words, and they weigh heavily in the balance of good deeds, as was narrated in the saheeh ahaadeeth.

 

9.     In one minute you can say, Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah (there is no strength and no power except with Allaah) more than 40 times. This is one of the treasures of Paradise, as was narrated by al-Bukhaari and Muslim. They are a means of putting up with difficulties and of aiming to achieve great things.

 

10. In one minute you can say Laa ilaaha ill-Allaah approximately 50 times. This is the greatest word, for it is the word of Tawheed, the good word, the word that stands firm. If these are the last words of a person, he will enter Paradise, and there are other reports which indicate how great these words are.

 

11. In one minute you can say Subhaan Allaah wa bi hamdih, ‘adada khalqihi, wa ridaa nafsihi, wazinata ‘arshihi, wa midaada kalimaatihi (Glory and praise be to Allaah, as much as the number of His creation, as much as pleases Him, as much as the weight of His Throne and as much as the ink of His words) more than 15 times. This words bring many more times the reward for other forms of tasbeeh and dhikr, as was reported in saheeh ahaadeeth from the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him).

 

12. In one minute you can seek the forgiveness of Allaah more than 100 times by saying “Astaghfir-Allaah (I seek the forgiveness of Allaah). The virtues of seeking forgiveness are no secret, for it is the means of attaining forgiveness and entering Paradise, and it is the means of being granted a good life, increasing one’s strength, warding off disasters, making things easier, bringing rain and increasing one’s wealth and children.

 

13. You can say a few brief and concise words in one minute, and Allaah may bring about some good through them that you could never imagine.

 

14. In one minute you can send blessings on the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) 50 times by saying Sall-Allaahu ‘alayhi wa sallam (May Allaah bless him and grant him peace). In return Allaah will send blessings upon you 500 hundred times because one blessing brings ten like it.

 

15. In one minute you can motivate your heart to give thanks to Allaah, to love Him, to fear Him, to put hope in Him, to long for Him, and thus travel through the stages of ‘uboodiyyah (total enslavement to Allaah). You could do this when you are lying on your bed or walking in the street.

 

16. In one minute you can read more than two pages of a useful book that is easy to understand.

 

17. In one minute you can uphold the ties of kinship by calling a relative on the phone.

 

18. You can raise your hands and recite any du’aa’ you wish from the books of du’aa’, in one minute.

 

19. You can say salaams to and shake hands with a number of people in one minute.

 

20. You can forbid an evil action in one minute.

 

21. You can enjoin something good in one minute.

 

22. You can offer sincere advice to a brother in one minute.

 

23. You can console someone who is depressed in one minute.

 

24. You can remove something harmful from the road in one minute.

 

25. Making the most of one minute motivates you to make the most of other periods that would otherwise be wasted.

 

 Al-Shaafa’i (may Allaah have mercy on him) said:

 When people go to sleep, I let my tears flow, and I recite a verse of the most eloquent poetry

Is it not a waste that nights go by and I do not increase in knowledge, yet this time is counted as part of my life?

 Finally, the more sincere you are towards Allaah and the more aware you are of Him, the greater will be your reward and the more your hasanaat will increase.

Note that most of these actions will not cost you anything; they do not require tahaarah (purity) and they will not tire you out or take much effort. On the contrary, you can do them whilst you are walking, or in your car, or lying down, or standing, or sitting, or waiting for somebody. 

These actions are also among the greatest means of attaining happiness, expanding the chest (i.e., bringing relief and joy) and removing stress and anxiety. May Allaah help us and you to do that which He loves and which pleases Him. May Allaah bless our Prophet Muhammad.

 

Islam Q&A

Sheikh Muhammed Salih Al-Munajjid

(Quoted from here)
(Taken from....see the image's bottom line)

Saturday, December 08, 2007

Allah Knows (full version) by Zain Bhikha, featuring Dawud Wharnsby




This song is very inspiring and encouraging...Got the lyrics from here .
-----------

ALLAH KNOWS

When you feel all alone in this world
And there’s nobody to count your tears
Just remember, no matter where you are
Allah knows
Allah knows

When you carrying a monster load
And you wonder how far you can go
With every step on that road that you take
Allah knows
Allah knows

CHORUS
No matter what, inside or out
There’s one thing of which there’s no doubt
Allah knows
Allah knows
And whatever lies in the heavens and the earth
Every star in this whole universe
Allah knows
Allah knows

When you find that special someone
Feel your whole life has barely begun
You can walk on the moon, shout it to everyone
Allah knows
Allah knows

When you gaze with love in your eyes
Catch a glimpse of paradise
And you see your child take the first breath of life
Allah knows
Allah knows

CHORUS

When you lose someone close to your heart
See your whole world fall apart
And you try to go on but it seems so hard
Allah knows
Allah knows

You see we all have a path to choose
Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows

CHORUS (x2)

BRIDGE:
Every grain of sand,
In every desert land, He knows.
Every shade of palm,
Every closed hand, He knows.
Every sparkling tear,
On every eyelash, He knows.
Every thought I have,
And every word I share, He knows.
Allah knows.

Wednesday, December 05, 2007

Gulai TTJS


Description:
Udah dari kemaren pengen masak ini, mau memberdayakan bumbu inti kunyit yang ada:D. Berhubung santan abis, terus susu pun gak ada, jadi nunggu hari ini deh...beli susu dulu. Yap, TTJS itu maksudnya tahu, telor, jagung, en susu:).

Dapet ide ngganti santan dengan susu ini sebenernya dulu banget dikasih tahu sama temen Pakistan di Saidai. Si bu dokter ini punya suami yang kolesterolnya tinggi banget, makanya dia selalu menggunakan susu low fat dalam setiap masakannya. Lebih sehat daripada santan, dan rasanya juga gak jauh beda, kok:)

Berhubung (Alhamdulillah) daku gak punya masalah dengan kolesterol, jadi di sini pake susunya yang biasa aja lah, bukan non-fat, biar lebih machtig, hihihi:P.

Ingredients:
1. Telur puyuh 20 butir
2. Tahu (yang sudah digoreng) 24 potong kecil
3. Baby corn 2 kaleng
4. Paprika 2 buah
5. Ketumbar bubuk 1 sdt
6. Garam
7. Gula
8. Bawang putih bubuk
9. Bumbu Inti Kunyit Kokita 1 bks
10. Susu 500 ml
11. Minyak goreng

* Buat yang suka pedes, silahkan ditambah sendiri tingkat kepedesannya, hehehe:)

Directions:
1. Tumis bumbu inti dan ketumbar sampai harum, masukkan susu.
2. Masukkan gula, garam, bawang putih, sampai rasanya sesuai selera.
3. Masukkan berturut2: tahu, telur puyuh, jagung, dan paprika; aduk terus sampai mendidih.
4. Siap untuk dinikmati.

*Langsung ngabur, siap2 dikomplain lagi sama Juragan Mendoan, hihihi:P*

Tuesday, December 04, 2007

From Narita with Love



Ini kisah saat merapat di Narita habis mudik tanggal 23 November 2007. Jadi begini latar belakangnya. Sejak dari Cengkareng, aku sudah heboh ngusung2 si Ai (koperku yang warna abu-abu dan item…hehehe, gak kreatip banget ngasih namanya, yak). Si Ai ini batas maksimalnya cuman 30 kg, tapi baru kali ini dia “kupaksa” membawa 35 kg, karena beratnya buku2 dan stok bumbuku untuk setahun ke depan. Lho, kok nekat? Tenang, tenang… berhubung daku ikutan program mileage dan sudah dapet medali perak, alias silver card, jadinya dapet rejeki bagasi 40 kg deh (bonus 10 kg, hehe), walaupun tiket kelas ekonomi (pastinya, pelajar gitu lho).

Nah, pas di Cengkareng (CGK), berhubung adikku yang nganter nggak boleh masuk, sejak dari awal masuk ke scanning bagasi, aku harus selalu minta maaf dan tolong ke petugas, buat bantuin ngangkat si Ai ini. Entah kenapa, kalo nggak ngomong, kok beliau2 ini cuman berdiri aja sambil ngeliatin aku “berantem” sama Ai ini… apa dipikirnya aku Xena kali ya, super kuat, hihihi.

Nggak cuman itu, pas giliran ngiket bagasi pun, mereka gak nawarin bantuan sama sekali, malah dengan tenangnya bilang,”Yak, sini Bu, taruh sini kopernya, Bu…” Dengan menyabarkan hati aku jawab, “Maaf, Pak berat nih, bisa tolong dibantu?” Baru deh, mas2 yang berdiri di deket mesin itu bergerak, tadinya cuman ngeliatin doang, soalnya yang mengoperasikan si pengiket itu bukan dia, tapi si Bapak yang nyuruh naruh koper tadi, biyuuh . Eh, pas ngangkat, baru deh si mas ini komentar, “Wah, berat banget nih Bu, kelebihan, ya? Ditimbang, nggak di rumah?” “Ditimbang kok, udah pas,”kataku…(ya, kan cuman 35, jatahnya 40, hehehe).

Dari situ, barulah check in. Dari jauh si Mas udah menyapaku,”Selamat malam, Ibu Fithri, ke Tokyo, Bu?” Aku yang sedang sibuk ngeluarin paspor spontan berhenti sebentar, ganti bertanya bingung,”Lho, kok Mas tahu nama saya?” “Iya dong, Bu…kalau yang sering2 terbang gini harus dihafal,”kata si Mas itu dengan ramah. “Wah, hebat banget, bisa ngapalin yang sering2 terbang,”pujiku tulus dengan tampang masih kebingungan bercampur kagum, sementara si Mas senyam-senyum sambil mulai ngecek paspor dan tiketku. Sementara itu aku masih bingung, kok dia tahu namaku ya, wong terakhir ke Narita (NRT) ‘kan Februari lalu, dan seingetku dulu yang ngurusin tiket Mbak2, bukan dia. Kalo memang ngapalin, wuih…hebat banget, lah wong nama satu orang aja aku suka cepet lupa, apalagi ini… banyak banget pastinya!

Terus giliran menimbang. Kembali kasus berulang, minta tolong angkatin si Ai. Dan yang nolongin, kembali si Mas yang dari tempat ngiket tadi, soalnya si Mas ini kan tempatnya di balik meja, jadi agak susah geraknya. Ternyata si Ai ini 38 kg (beda 3 kg dengan timbangan di rumah), plus kardus kecil isi kripik cs seberat 4 kg (kalo gak dikardusin, pastilah sang kripik ini menjadi bubuk dengan halusnya), jadilah total 42 kg, yang Alhamdulillah…masuk bagasi dengan sukses. Di perjalanan ngurus fiskal inilah, aku baru inget, di pegangan Ai terpasang name tag-ku yang gede banget tulisannya (lihat foto). Pantesss…si Mas tadi ngebaca toh, hihihi. Kali dia geli juga ngeliat tampangku yang bahlul banget plus kagum tadi ya.

Singkat cerita, sampelah aku di NRT keesokan harinya. Ketika masuk bagian imigrasi, bagian re-entry permit holders dipisah lagi menjadi 2: Foreign passport dan Japan passport, padahal biasanya disatuin. Rupanya ini kelanjutan dari penerapan foto dan sidik jari buat warga asing di Jepang, seperti yang kubaca sebelumnya dari berita di milis serta MP-nya Eka.

Saat tiba giliranku, aku masih celingukan mencari tempat fotonya. Yang terbayang di benakku adalah seperti kita bikin SIM di Jakarta, stempel 10 jari plus difoto langsung di sebuah tempat. Ketika menunduk mencari sesuatu di tas, si Mbak Jepun ini bilang dalam Bhs. Inggris,”Tolong liat ke atas, ya, saya mau nyocokin dengan paspor.” Terus dia menyuruhku menaruh kedua jari telunjuk ke mesin kecil di sudut kananku. Ah, ternyata ini mesin sidik jarinya! Digital pastinya, gak belepotan tinta, hehehe. Si Mbak, sambil melihat ke kirinya, sibuk memberi instruksi lagi padaku, ke kanan, ke atas dikit, tahan dikit, dan saat itulah…aku melihat mesin foto digital yang ternyata bersatu dengan si sidik tadi. Yah, Mbak, kenapa sih nggak bilang aja “Liat sini, ya!”sambil nunjuk ke lensa kamera. Jadilah semuanya kelar dalam waktu kurang dari semenit.

Ambil bagasi, dan hal yang kutakutkan sejak di CGK akhirnya terjadi juga: pegangan si Ai lepas! Padahal cuman mindahin dari ban berjalan ke troli, mana dibantuin pula sama Bapak2 dari Indonesia (tanpa kuminta lho, makasih banget ya, Pak) yang kebetulan mengantri di sebelahku. Akhirnya karena banyak yang ngantri, kutempelkan saja si handel itu sebelah, terus langsung keluar, menuju ke pabean, dan Alhamdulillah, tanpa “perlawanan” sama sekali (perang kali, yak), daku langsung menuju ke tempat pengiriman koper.

Setelah menanyakan harga dan waktu tiba di tujuan, si Mbak dari perusahaan pengiriman ini langsung mengambil si Ai di handel yang nempel setengah tadi, dan berteriak kaget saat terlepas. Aku yang juga kaget, karena tak mengira si Mbak akan mengambil Ai, belum sempat menjelaskan, ketika si Mbak dan Bapak2 yang di belakangnya sudah sibuk meminta maaf sambil membungkuk berkali2. Barulah setelah si Bapak sibuk membetulkannya, si Mbak beranjak ke mejanya, dan memroses pesanan pengirimanku. Karena si Ai ini lebih dari 30 kg, jadi bayarnya lebih mahal dari yang biasa, tapi daripada aku heboh sepanjang jalan, mending dikirim, deh. Ketika akan menuju platform KA ke rumah, kembali mereka membungkukkan badan sambil minta maaf, padahal sudah berkali2 aku bilang nggak papa dan terima kasih. Akhirnya, pk. 11.00 daku tiba dengan selamat di rumah, disambut dengan suhu 6 derajat Celsius.

Malemnya, sekitar 17.25 JST (Isya aja sudah jam 17.53 JST, hehehe), datanglah si Ai, lengkap dengan full-lakban di kedua handelnya, dan terbungkus plastik rapi! Dan di luar harapanku sebelumnya, ternyata ketika lakban2 ini kubuka, si handel sudah terpasang sempurna di badan Ai (lihat foto), seperti kondisi di CGK! Wah, memang servis di sini memuaskan banget… Berharap negeri kita bisa menghormati konsumen kayak gini, ntar dibilang mimpi kali yeee…Hehehe.

***

Nishi Chiba, 4 Desember 2007 (22.03 JST)

Di sela2 nguber setoran