Tuesday, June 19, 2007

Kota Termahal di Dunia

Rating:★★★
Category:Other
Terakhir yang kutahu, London adalah kota termahal di dunia, diikuti oleh Tokyo. Ternyata posisi terakhir sudah banyak berubah, seperti di bawah ini, walaupun tetep aja, Tokyo masuk 5 besar, di no. 4:P.
----------
Moscow ranks as world's priciest city


By JACKIE FARWELL, AP Business Writer Mon Jun 18, 5:11 PM ET

NEW YORK - Moscow is the world's most expensive city for the second year in a row, thanks to an appreciating ruble and rising housing costs, a new survey reports.

The cost of living for expatriates in the Russian capital is nearly 35 percent higher than in New York, which served as the base city for the survey released Monday.

London, estimated at 26 percent more expensive than New York, climbed three spots to second place on a strengthening British pound and steep rental prices.

South Korea's Seoul ranked third, followed closely by Tokyo at No. 4.

The survey by Mercer Human Resource Consulting ranked 143 cities around the world, measuring the comparative cost of more than 200 areas such as housing, transportation and food. The findings are designed to help multinational employers determine compensation for their expatriate workers.

In Moscow, a luxury two-bedroom apartment will cost an expat $4,000 a month; a CD rings up at $24.83; one copy of an international daily newspaper is $6.30; and a fast-food hamburger meal totals $4.80.

A strengthening euro boosted 30 European cities to top spots on the 2007 list — Copenhagen, Geneva, Zurich and Oslo, respectively, placed among the top 10.

Eight Asian cities made the top 50, though Taipei, Taiwan, plunged 20 places to No. 48.

New York and Los Angeles were the only two North American cities to rank among the highest 50, though both fell in the rankings due to a depreciating U.S. dollar, Mercer reported.

The Big Apple dropped five places to No. 15, while Los Angeles fell to No. 42 from No. 29 in 2006.

Ranking as the least expensive city for the fifth year in a row was Paraguay's capital of Asuncion, where the cost of living is half that of New York, Mercer estimated.

(From Here )

Tuesday, June 12, 2007

Iron Rich Foods for Iron Deficiency Anemia

Buat yang lagi kena anemia
---------------------------------
For iron deficiency anemia in women, a diet with iron rich foods along with iron supplements is often recommended. Absorption of iron from food is influenced by multiple factors. One important factor being the form of the iron. Heme Iron, found in animal sources, is highly available for absorption. Non-heme iron on the other hand, found in vegetable sources, is less available. Iron rich foods of an iron rich diet are listed below: 

    Iron Rich Foods containing Heme Iron




Excellent Sources Good Sources




  • Clams
  • Pork Liver
  • Oysters
  • Chicken Liver
  • Mussels
  • Beef Liver

  • Beef
  • Shrimp
  • Sardines
  • Turkey
  •     Iron Rich Foods containing Non-Heme Iron




    Excellent Sources Good Sources




  • Enriched breakfast cereals
  • Cooked beans and lentils
  • Pumpkin seeds
  • Blackstrap Molasses

  • Canned beans
  • Baked potato with skin
  • Enriched pasta
  • Canned asparagus
  • Warning: Pregnant women should not eat liver because of its very high Vitamin A content. Large amounts of Vitamin A can be harmful to the baby.

    The absorption of Non-heme iron can be improved when a source of heme iron is consumed in the same meal. In addition, the iron absorption-enhancing foods can also increase the absorption of non-heme iron. While some food items can enhance iron absorption, some can inhibit or interfere iron absorption. Avoid eating them with the iron-rich foods to maximize iron absorption.

    Iron Absorption Enhancers

    Iron Absorption Inhibitors

    • Meat/fish/poultry
    • Fruits: Orange, Orange Juice, cantaloupe, strawberries, grapefruit etc
    • Vegetables: Broccoli, brussels sprouts, tomato, tomato juice, potato, green & red peppers
    • White wine
    • Red Wine, Coffee & Tea
    • Vegetables: Spinach, chard, beet greens, rhubarb and sweet potato
    • Whole grains and bran
    • Soy products
    Written by: Gloria Tsang, RD
    (From here)

    Monday, June 04, 2007

    Salah Kelas

    Hari ini aku ke kampus dengan penuh semangat, pengen ikutan belajar bikin kaligrafi Jepang. Kelas ini sebetulnya sudah beberapa kali dilaksanakan, tapi selama ini selalu bentrok dengan kuliah atau jadwal pertemuanku dengan dosen pembimbing. Akibatnya, baru hari inilah aku sempat mengikutinya.

    Sesuai pengumuman, pk. 13.20 aku sudah di kelas ini, hanya berbekal sebuah bolpoin, karena kertas dan pena pasti disiapkan oleh Sensei, sebagaimana yang kudengar dari peserta kelas2 sebelumnya. Sepi, tak ada siapa pun, hanya ada sebuah tas tergeletak di meja paling belakang.

    ‘Tumben telat, biasanya orang Jepang’kan on time,’ pikirku. ‘Wah, jangan2 aku salah masuk kelas,’ pikirku lagi, kemudian keluar kelas untuk melihat nama ruangan itu. Ruang D, tepat seperti yang tercantum di pengumuman. Akhirnya kuputuskan untuk melihat2 peta Jepang yang tergantung di depan kelas, sambil menunggu yang lainnya.

    Lima menit kemudian, beberapa siswa dan Sensei (=dosen) yang ditunggu pun datang. Bingung juga ngeliat si Ibu yang nggak bawa perlengkapan kaligrafi apa pun, malah hanya menenteng beberapa buku, kartu, dan sebuah mainan seperti piano.

    Pelajaran dibuka dengan pertanyaan standar dalam kelas Bhs. Jepang: “Kemarin pergi ke mana?” Selanjutnya kami bergiliran menjawab, dan diakhiri dengan perintah Sensei kepada kami untuk menanyainya. Kelas langsung riuh begitu mendengar jawaban Sensei,” Kino Disneyland he ikimashita…”.

    Selanjutnya Sensei menempelkan tabel huruf Hiragana di whiteboard, dan kami diminta untuk membaca semuanya, dari ‘a’ sampai ‘n’, diselingi dengan pertanyaan arti beberapa kata yang mengandung huruf tersebut.

    Sementara itu, aku sudah bolak-balik melirik jam dinding di kelas, yang tergantung tepat di atas whiteboard. ‘Kapan nulisnya, nih?’ pikirku. ‘Hmm, mungkin abis ini kelar,’ pikirku lagi menenangkan diri. Tapi di dalam hati udah mulai ngerasa ada yang nggak beres juga, sih! Seingatku, yang namanya kaligrafi itu di kelas2 sebelumnya menggunakan huruf Kanji, bukan Hiragana.

    Akhirnya Sensei bilang,” Ok, kita sudah selesai dengan Hiragana. Sekarang, untuk mengingat lagi Hiragana ini, saya punya 3 cara: pertama, main kartu huruf; kedua, membaca buku; dan yang terakhir, pakai mainan, tapi ini cuma satu. Silahkan pilih, mana yang kalian sukai.”

    ‘Lho, bikin kaligrafinya kapan?’ pikirku bengong. Tapi melihat reaksi yang lain biasa saja, aku semakin yakin kalau perkiraanku yang salah. Awalnya, aku ingin ikutan yang baca buku, buat sekalian ngelancarin, soalnya kemampuan baca Hiragana-ku sekarang udah lebih rendah dari anak SD Jepang, alias ngejanya lama banget. Tapi karena siswa di sampingku (bukunya satu untuk berdua) memilih untuk membaca tulisan Romaji-nya keras2 (lah, kalo baca Romaji terus, kapan hafal Hiragananya dong?), jadinya aku pindah ke kelompok kartu, yang keliatannya lebih seru.

    Cara mainnya begini: Sensei nyebutin satu huruf, terus kita cepet2an nyari kartu yang memuat huruf itu, sambil bilang,”Hai!” Berhubung kartunya ada 2 set, jadi kami ber-8 dibagi dalam 2 kelompok. Aku pilih kelompok kedua, karena di situ ada 2 orang temenku seruangan (dari Vietnam dan Bangladesh) yang suka ngocol dan diskusi bareng.

    Pas si Vietnam ini dan aku udah dapet 2 kartu, eh… tiba2 si Vietnam ini ngomong,”Fit, ngapain kamu di sini ikutan main? Mestinya kamu ngajarin kita, ‘kan Jepangmu udah bagus!” “Yee, nggak lagi, wong aku udah banyak yang lupa juga, kok! Lagian ‘kan aku pengen maen juga, rame,” sahutku sambil melihat2 hamparan kartu di depan kami. “Iya, bener, kamu jadi sensei kita aja, “timpal si Bangladesh. Aku tersenyum jail sambil bilang,” Emang gak boleh, ya…maen sama kalian? ’Kan aku baru dapet 2 kartu, nih!” “Yah, udah itu aja. Kamu gak boleh dapet lagi,” kata si Bangladesh sambil nyengir bandel. Yah, mereka ini emang kompak banget sih, maklum seangkatan, setahun di bawahku!

    Eh, ternyata obrolan kita bertiga itu cukup keras, sehingga terdengar oleh Sensei, yang sedang berada di kelompok lainnya. “Eh, kamu hafal Hiragana, ‘kan? Bisa nggak, bantu saya mimpin kelompok ini, jadi saya bisa ngajarin kelompok lainnya…,” kata Sensei padaku. Aku menolak halus, tapi kedua temenku ini maksa terus, ditambah pula anggota kelompok lainnya yang mulai terpengaruh dengan kampanye gratisan mereka.

    Hiks, wong pengen belajar kaligrafi, kok malah disuruh ngajar Hiragana, sih! Sampe akhirnya si Sensei bilang,” Yoroshiku onegaishimasu,” terpaksa deh, aku udah gak bisa nolak lagi, dan disuruh berdiri oleh Sensei, nerusin permainan ini. Tadinya kupikir cuman di kelompokku, eh ternyata si Sensei minta keduanya, walah…ya sudahlah!

    Beberapa kartu pertama, aku berada di 2 kelompok, tapi kemudian si Vietnam ini bilang dengan wajah tanpa dosa, “Fit, kamu konsen di situ aja, biar yang sini aku ajarin.” Biyuuh, ternyata dia lebih jago dari aku! Kena, deh…aku dikerjain, huhuhu! Tapi gak papa, lah...itung2 belajar lagi, hehehe! Walaupun sempat mengheningkan cipta sebentar, pas nentuin mana huruf ‘me’ dan ‘nu’, soalnya aku sendiri juga sering ketuker.

    Walhasil, jadilah kali ini aku salah kelas dengan sukses! Oya, tahu nggak, kenapa awalnya aku mikir ini kelas Kaligrafi? Soalnya judul kelasnya adalah: Japanese Letter Lesson! Salah nggak, sih…persepsi awalku? Biasanya mengenal huruf ‘kan di kelas Japanese Language, gitu lho!

    ***

    Matsudo, 5 Juni 2007 (03.04 JST)

    (Hari yang membingungkan)

    (Dari sini)

    Sunday, June 03, 2007

    Stephen R. Covey

    http://covey.ru/en/index.html
    Pernah denger tentang Stephen R. Covey, Si pengarang "The 7 Habits of Highly Effective People" yang fenomenal itu, 'kan?
    Nah, ini website resminya. Ada ringkasan buku2nya, juga lho! Buat yang belum sempet beli buku2:
    * The 8th Habit,
    * Principle Centered Leadership,
    * First Things First;
    silahkan dibaca2 aja ringkasannya di sini:D

    Seven Habits of Highly Ineffective People

    Yes, you read it right.  It's not a misprint.  In this article, I will discuss the seven habits of highly ineffective people.  It is as important to know about the habits that can make us ineffective as it is to know the ones that make us effective.  

    The credit for identifying the seven habits of ineffective people goes to John Covey, the brother of Steven Covey who is the celebrated author of the book, Seven Habits of Highly Effective People.  Incidentally, I smell some sibling rivalry there, don't you? 

    At any rate, the first habit that really holds the master key to the treasury of failures is, "Be reactive.  Always doubt yourself and blame others."   By being reactive you don't have to take a preventive action, entertain a forethought or plan for anything in advance.  You can avoid decisions forever by continuing to doubt yourself.  If you don't take a decision in the first place, how can you blame yourself.  This way, you also reserve the right to blame others for the inconveniences and difficulties.  

    The second habit is to "work without any clear end in mind."  Then whichever way it ends, look at it philosophically, "That's the way things sometimes happen. "  The fact that the outcome didn't turn out to be so great is nobody's fault and certainly not yours.  

    The third habit is to "do only what is urgent."  You will have the satisfaction of doing the urgent thing while avoiding crises until things catch up with you.  

    The fourth habit is to think in win/lose terms, that is, "I should win and they should lose" as the basic orientation to all negotiations and collaborations.  Sometime, this may offer you a big ego trip and when you lose, you may even get some sympathy. 

    The fifth habit is to "seek first to be understood."  Don't try to understand them until they understand you and that way you can be even with them. 

    The sixth habit is to follow the dictum, "If you can't win, compromise."  This will help you to secretly admire yourself for being so adaptable and having "one up on them."

    The seventh habit is to "fear change and put off improvement."  When you spend all your energy in maintaining the status quo, many of your coworkers will become your bosom buddies.    

     Foster these seven habits and you shall rank very highly among the highly ineffective people.

    (Vijai P. Sharma, Ph.D)

    Wednesday, January 03, 2007


    Terima Kasih, Allah


    Terima kasih ya Muta’aliy,

    telah jadikanku sebagai buah hati,

    dari seorang pria sholeh yang tegar,

    serta wanita sholehah dan sabar.


    Terima kasih ya Bariy,

    t'lah berikanku kakak adik,

    yang saling sayang dan mengasihi,

    walau sering berkelahi saat kami cilik.


    Terima kasih ya Ghafuur,

    t’lah berikan sanak dan kerabat,

    yang senantiasa membantu dan menghibur,

    saat kami hadapi masalah berat.


    Terima kasih ya Haiy,

    ‘tuk pertemukan pada bibi yang luar biasa,

    yang berjuang dengan keringat sendiri,

    dalam menghidupi ke-13 orang adiknya.


    Terima kasih ya Nafi,

    atas banyaknya sahabat dan teman,

    yang slalu saling tegur dan menguatkan,

    berjuang di jalan yang Kau-ridhoi.


    Terima kasih ya Fattah,

    yang selalu mengampuni bila aku salah,

    serta berikan petunjuk dan kekuatan,

    untuk kembali pada kebenaran.


    Terima kasih ya Ghaniy,

    atas rejeki dan kesehatan,

    yang senantiasa Kau-limpahkan,

    sedari dulu hingga kini.


    Terima kasih ya Rasyid,

    ‘tuk ijinkan aku menuntut ilmu,

    hingga ke negeri di sebrang lautan.

    tanpa ijin-Mu ini hanya khayalan,

    dari keluarga sederhanaku,

    ‘tuk gapai cita setinggi langit.


    Maafkan aku ya Ghaffar,

    yang senantiasa khilaf dan tak sabar,

    lupa mensyukuri nikmat yang ada,

    sering mengeluh pada cobaan yang menimpa.


    *Matsudo, 3 Januari 2006 (17.31 JST)*

    Renungan di awal tahun…(Gambar dari sini)


    Sunday, December 24, 2006


    Selamat Idul Adha 1427 Hijriyah,
    mohon dimaafkan segala khilaf dan salah,
    semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita,
    jadikan hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

    Selamat Tahun Baru 2007,
    semoga jalan yang akan ditempuh,
    berikan kebahagiaan dan manfaat,
    bagi pribadi dan masyarakat.

    Matsudo, 22 Desember 2006 (12.58 JST).
    *mulai bersiap untuk ujian,yang menumpuk di awal tahun depan*

    (Foto dari sini)

    Monday, November 27, 2006

    Dearest all,

    You can find my updated blog here:

    Menjalin Ukhuwah, Menguntai Hikmah


    Best Regards,

    Fykar