Friday, July 25, 2008

Sayur Lodeh ala Bonek


Description:
Udah lama pengen bikin ini, tapi ketunda terus karena nungguin sang tempe. Karena tempe tersayang tak kunjung tiba, sementara ngidam lodeh tak tertahankan, jadilah kemarin daku berlodeh ria. Berhubung sejak dulu Ummi kalau masak lodeh nggak pernah pake daging, jadinya sampe sekarang juga sukanya lodeh yang tanpa daging. Biasanya kami makan dengan krupuk ikan yang bulet2 itu, jadi gurih banget.
Pas kemaren mau makan, keinget sama si krupuk ikan bulet ini, yang agak susah kutemuin di sini. Eh, Alhamdulillah, mendadak hari ini dapet kiriman krupuk ikan bulet dari mommy-nya Nichi… thanks banget, yaaa:D. Jadilah lodeh hari keduaku ini paripurna sekali, hehehe:D.
Oya, berhubung ilmu memasakku masih pada tingkat tumis tak berkembang, jadi bumbunya seperti biasa… bumbu jadi saja, hehehe:D. Lodeh ini disebut ala bonek, karena daku suka gurih dan asin, jadi santan dan garamnya lumayan banyak, biar machtig :).


Ingredients:
1. Nangka muda kalengan 1 kaleng (500 gr)
2. Terong 3 buah
3. Piman/Paprika hijau 5 buah (gak kuat pedes, jadi dibuang bijinya;P)
4. Bumbu Lodeh merk Bamboe 1 bks
5. Santan kalengan 1 kaleng (400 ml)
6. Air 300 ml
7. Minyak goreng untuk menumis
8. Bawang putih bubuk
9. Garam
10. Gula
11. Merica bubuk.


Directions:
1. Tumis bumbu instan sebentar, masukkan air, aduk hingga rata.
2. Masukkan nangka, terong, dan paprika, rebus sebentar.
3. Masukkan santan, aduk hingga rata.
4. Tambahkan bawang putih bubuk, garam, gula, dan merica sesuai selera, didihkan.
5. Angkat, hidangkan dengan kerupuk ikan/udang plus nasi putih hangat:).

Monday, July 21, 2008

Sleeping Like a Baby...:D




Foto para ponakan menjelang dan saat tidur, pas kumpul2 tgl. 19 dan 20 Juli 2008. Ngeliatin mereka bobo manis gini, kok jadi ikutan ngantuk, ya...hehehe:D.

Tuesday, July 15, 2008

Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Masih tentang salah seorang politikus Indonesia favoritku.


Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Seabad pemikiran Islam ini dibedah. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke  213

Oleh: Adian Husaini

ImageKamis (15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, digelar sebuah acara peluncuran panitia Refleksi Seabad Moh. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, dan sebagainya. Tampil sebagai pembicara dalam seminar Prof. Dr. Ichlasul Amal, Ketua Dewan Pers yang juga mantan rektor UGM Yogya.

Moh. Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Karena itu, puncak peringatan seabad Moh. Natsir akan dijadwalkan pada 17 Juli 2008. Tetapi, berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia. Duduk sebagai ketua kehormatan dalam panitia ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai, politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Da’wah, Syuhada Bahri menggambarkan Natsir sebagai pribadi yang sangat unik. Menurut Syuhada, bidang apa pun yang digeluti Moh. Natsir, visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol. Secara panjang lebar Syuhada menceritakan pengalaman pribadinya selama lima tahun bekerja satu ruang dengan Natsir.

Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Ketua Mahkamah Konstitusi, dalam sambutannya, juga menekankan jasa besar Natsir dalam soal NKRI ini, sehingga bangsa Indonesia sangat layak memberi penghargaan kepada Natsir. Selain itu, Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet.

Dalam kesempatan itu, Mensos Bachtiar Chamsah mengakui, bahwa dirinya, sebagai Menteri, sudah mengajukan Natsir agar diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Usulan itu didasarkan atas usulan dari Pemda Sumatera Barat. Tetapi, tahun ini, usulan itu masih terganjal. Bachtiar tidak menjelaskan mengapa usulan itu Natsir ditolak oleh pihak Istana Kepresidenan. Yang jelas, katanya, tahun depan, dia akan mengajukan usulan yang sama. Banyak yang menduga, keterlibatan Natsir dalam PRRI merupakan faktor utama terganjalnya usulan tersebut.

Tetapi, baik keluarga maupun para pelanjut perjuangan Moh. Natsir tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Natsir bukan hanya pahlawan bagi Indonesia. Tetapi, dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.

Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya.

Dalam kesempatan ini, kita cuplik sebuah artikel yang ditulis Natsir pada tahun 1938, yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. (Ejaan telah disesuaikan dengan EYD).

Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut:

”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”

Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”

Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”

Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen.

Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:

”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938; dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Demikianlah salah satu pesan Natsir yang mengingatkan kaitan erat antara gerak Penjajahan, Misi Kristen, dan Orientalisme. Karena pentingnya peran pendidikan ala Barat dalam menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya, bisa dimengerti jika Natsir sangat serius dalam upaya pendirian sejumlah universitas Islam di Indonesia. Kita berdoa, mudah-mudahan civitas academica di kampus-kampus Islam yang dipelopori pendiriannya oleh Natsir memahami misi besar ini, dan tidak terjebak ke dalam paham-paham sekularisme atau liberalisme Barat yang secara gigih diperangi oleh Natsir sepanjang hidupnya.

Betapa zalimnya, andaikan ada kampus Islam yang dulu didirikan dengan niat mulia untuk memperjuangkan Islam justru menjadi tempat perkaderan intelektual-intelektual yang merusak Islam. [Depok, 16 November 2007/www.hidayatullah.com]

***

(Dikutip dari sini)

Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Masih tentang salah seorang politikus Indonesia favoritku.


Mengenang Seabad Mohammad Natsir

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Seabad pemikiran Islam ini dibedah. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke  213

Oleh: Adian Husaini

ImageKamis (15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, digelar sebuah acara peluncuran panitia Refleksi Seabad Moh. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya. Sejumlah tokoh Islam dan pejabat tinggi negara tampak hadir, diantaranya Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Syuhada Bahri, Ketua MUI KH Khalil Ridwan, Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Jimly As-Shiddiqy, Menteri Sosial Bakhtiar Chamsah, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, dan sebagainya. Tampil sebagai pembicara dalam seminar Prof. Dr. Ichlasul Amal, Ketua Dewan Pers yang juga mantan rektor UGM Yogya.

Moh. Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, 17 Juli 1908. Karena itu, puncak peringatan seabad Moh. Natsir akan dijadwalkan pada 17 Juli 2008. Tetapi, berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia. Duduk sebagai ketua kehormatan dalam panitia ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Bagi umat Islam Indonesia, nama Natsir tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah seorang pemikir, dai, politisi, dan sekaligus pendidik Islam terkemuka. Ia dikenal sebagai tokoh, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Da’wah, Syuhada Bahri menggambarkan Natsir sebagai pribadi yang sangat unik. Menurut Syuhada, bidang apa pun yang digeluti Moh. Natsir, visinya sebagai dai dan pendidik senantiasa menonjol. Secara panjang lebar Syuhada menceritakan pengalaman pribadinya selama lima tahun bekerja satu ruang dengan Natsir.

Jika kita membuka lembaran hidup Natsir, kita memang menemukan sebuah perjalanan hidup yang menarik. Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki posisi Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951, setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir dalam soal terbentuknya NKRI ini sangat besar. Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai ”Mosi Integral Natsir”), yang memungkinkan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Ketua Mahkamah Konstitusi, dalam sambutannya, juga menekankan jasa besar Natsir dalam soal NKRI ini, sehingga bangsa Indonesia sangat layak memberi penghargaan kepada Natsir. Selain itu, Natsir juga berulang kali duduk sebagai menteri dalam sejumlah kabinet.

Dalam kesempatan itu, Mensos Bachtiar Chamsah mengakui, bahwa dirinya, sebagai Menteri, sudah mengajukan Natsir agar diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional. Usulan itu didasarkan atas usulan dari Pemda Sumatera Barat. Tetapi, tahun ini, usulan itu masih terganjal. Bachtiar tidak menjelaskan mengapa usulan itu Natsir ditolak oleh pihak Istana Kepresidenan. Yang jelas, katanya, tahun depan, dia akan mengajukan usulan yang sama. Banyak yang menduga, keterlibatan Natsir dalam PRRI merupakan faktor utama terganjalnya usulan tersebut.

Tetapi, baik keluarga maupun para pelanjut perjuangan Moh. Natsir tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Natsir bukan hanya pahlawan bagi Indonesia. Tetapi, dunia Islam sudah mengakuinya sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Tahun 1957, Natsir menerima bintang ’Nichan Istikhar’ (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.

Adalah menarik jika menilik riwayat pendidikan Natsir. Tahun 1916-1923 Natsir memasuki HIS (Hollands Inlandsche School) di Solok. Sore harinya, ia menimba ilmu di Madrasah Diniyah. Tahun 1923-1927, Natsir memasuki jenjang sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Lalu, pada 1927-1930, ia memasuki jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung. Lulus dengan nilai tinggi, ia sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum di Batavia, sesuai dengan keinginan orang tuanya, agar ia menjadi Meester in de Rechten, atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Terbuka juga peluang Natsir untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi.

Tetapi, semua peluang itu tidak diambil oleh Natsir, yang ketika itu sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Natsir mengambil sebuah pilihan yang berani, dengan memasuki studi Islam di ‘Persatuan Islam’ di bawah asuhan Ustad A. Hasan. Tahun 1931-1932, Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.

Natsir memang seorang yang haus ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Syuhada Bahri menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun bersama Natsir. Hingga menjelang akhir hayatnya, Natsir selalu mengkaji Tafsir Al-Quran. Tiga Kitab Tafsir yang dibacanya, yaitu Tafsir Fii Dzilalil Quran, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Furqan karya A. Hasan.

Kecintaan Natsir di bidang pendidikan dibuktikannya dengan upayanya untuk mendirikan sejumlah universitas Islam. Setidaknya ada sembilan kampus yang Natsir berperan besar dalam pendiriannya, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan sebagainya. Tahun 1984, Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia. Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.

Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Menurut Mensos Bachtiar Chamsah, tulisan-tulisan Natsir menyentuh hati orang yang membacanya.

Dalam kesempatan ini, kita cuplik sebuah artikel yang ditulis Natsir pada tahun 1938, yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”. (Ejaan telah disesuaikan dengan EYD).

Natsir membuka tulisannya dengan untaian kalimat berikut:

”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.”

Artikel Natsir ini mengomentari hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam pada 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Dr. Bakker, seorang pembicara dalam Konferensi tersebut mengungkapkan kondisi umat Islam sebagaimana yang digambarkan dalam buku Prof. Dr. H. Kraemer, The Christian Message in a non-Christian World. Kata Dr. Bakker, ”Orang Islam yang berada di bawah pemerintahan asing lebih konservatif memegang agama mereka dari negeri-negeri yang sudah merdeka.”

Dr. Baker juga mengungkap tentang pengaruh pendidikan Barat terhadap umat Islam. Katanya, ”Masih juga banyak orang Islam memegang agama mereka yang turun-temurun dari dulu itu, akan tetapi banyak pula yang sudah terlepas dari agama mereka, terutama lantaran pelajaran Barat yang katanya netral itu telah merampas dasar lain yang akan gantinya.”

Natsir sangat peduli akan pengaruh pendidikan Barat terhadap generasi muda. Ia menulis, bahwa ketika itu, sudah lazim dijumpai anak-anak orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Al-Fatihah seumur hidupnya, atau susah payah belajar membaca syahadat menjelang dilangsungkannya akad nikah. Karena itulah, tulis Natsir, Prof. Snouck Hurgronje pernah menulis dalam bukunya, Nederland en de Islam, ”Opvoeding en onderwijs zijn in staat, de Moslims van het Islamstelsel te emancipeeren.” (Pendidikan dan pelajaran dapat melepaskan orang Muslimin dari genggaman Islam).

Selanjutnya, Dr. Bakker mengingatkan, bahwa kaum misionaris Kristen harus lebih serius dalam menjalankan aksinya di Indonesia, supaya di masa yang akan datang, Indonesia tidak lebih susah dimasuki oleh misi Kristen.

Menanggapi rencana Misi Kristen di Indonesia tersebut, Natsir mengimbau umat Islam:

”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan congres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara azan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Dimuat di Majalah PANDJI ISLAM, No. 33-34, 1938; dikutip dari buku M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia (kumpulan karangan yang dihimpun dan disusun oleh Endang Saifuddin Anshari, (Bandung: CV Bulan Sabit, 1969).

Demikianlah salah satu pesan Natsir yang mengingatkan kaitan erat antara gerak Penjajahan, Misi Kristen, dan Orientalisme. Karena pentingnya peran pendidikan ala Barat dalam menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya, bisa dimengerti jika Natsir sangat serius dalam upaya pendirian sejumlah universitas Islam di Indonesia. Kita berdoa, mudah-mudahan civitas academica di kampus-kampus Islam yang dipelopori pendiriannya oleh Natsir memahami misi besar ini, dan tidak terjebak ke dalam paham-paham sekularisme atau liberalisme Barat yang secara gigih diperangi oleh Natsir sepanjang hidupnya.

Betapa zalimnya, andaikan ada kampus Islam yang dulu didirikan dengan niat mulia untuk memperjuangkan Islam justru menjadi tempat perkaderan intelektual-intelektual yang merusak Islam. [Depok, 16 November 2007/www.hidayatullah.com]

***

(Dikutip dari sini)

Rangkaian Sejarah: Mohammad Natsir

Awalnya baca ini di MP Mas Tomi, sekalian diabadikan di sini, soalnya beliau adalah salah satu tokoh politik Indonesia favoritku. Semoga di pesta demokrasi mendatang, masih ada orang2 yang mengikuti jejak politik bersih beliau, Amiiin.



Sebuah Pemberontakan tanpa Drama

Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood: perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan, dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu teladan yang jarang.

DIA, Mohammad Natsir (17 Juli 1908–6 Februari 1993), orang yang puritan. Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi, tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja.

Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. ”Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.

Mungkin karena itulah sampai tahun ini—seratus tahun setelah kelahirannya, 15 tahun setelah ia mangkat—tidak sedikit orang menyimpan keyakinan bahwa Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer kita. Masing-masing memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di kalangan Islam garis keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah air ini. Dan di kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang sama, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri dari Partai Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.

Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika itu.

Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih berarti. Waktu itu, pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan nasionalis­me-sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.

Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya ”bertemu” lagi dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.

Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa pengadilan.

Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita, akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat, menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu. Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin yang cenderung otoriter.

Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel ”musuh utama” pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau Buru—pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan politik peng­ikut PKI. Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit. Para penanda tangan Petisi 50 dicekal.

Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang cukup panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan ber­sahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh. Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh santun itu ke dalam banyak halaman laporan panjang edi­si ini.

***

Pak Natsir dan Jihad Palestina

Senin, 28 Apr 08 07:49 WIB

Orang banyak mengenalnya sebagai Pak Natsir. Nama lengkapnya Muhammad Natsir, bergelar Datuk Sinaro nan Panjang, lahir di Minangkabau tanggal 17 Juli 1908, tepatnya di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatera Barat, dari pasangan Sutan Saripado dan Khadijah. Beliau adalah tokoh bangsa, tokoh umat, dan tokoh dunia Islam, karena aktifitas dan peran yang telah dilakukannya untuk Islam dan umat tanpa mengenal lelah.

Pada tahun 1945-1946, pak Natsir menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), tahun 1946-1949 menjabat sebagai Menteri Peneranan RI, tahun 1950-1951 menjadi Perdana Menteri RI.

Dalam percaturan dunia Islam, khususnya di negara-negara Arab, pak Natsir sangat dikenal, dihormati dan disegani, beliau ikut serta dan terlibat pada beberapa organisasi Islam tingkat internasional, tahun 1967 diamanahkan menjabat Wakil Presiden World Muslim Congress (Muktamar Alam Islami), Karachi, Pakistan, tahun 1969 menjadi anggota World Muslim League, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1972 menjadi anggota Majlis A’la al-Alam lil Masajid, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1980 menerima “Faisal Award” atas pengabdiannya kepada Islam dari King Faisal, Saudi Arabia, tahun 1985 menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait, pada tahun 1986 menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Centre for Islamic Studies, London, Inggris dan angota Majelis Umana’ International Islamic Univesity, Islamabad, Pakistan.

Ketika Subandrio naik haji dan ingin bertemu dengan Raja Faisal, Raja Faisal tidak mau menerimanya. Setelah diusahakan oleh pihak KBRI Jedah dan prosesnya agak lama, akhirnya Raja Faisal mau juga menerima Subandrio yang saat itu menjadi orang penting di Indonesia. Subandrio menceritakan tentang Islam di Indonesia, juga menceritakan perannya membela Islam, kisah naik haji dan lain-lain.

Tanpa disangka dan diduga oleh Subandrio, Raja Faisal langsung bertanya, “Kenapa saudara tahan Muhammad Natsir?”. Pak Natsir pernah diasingkan oleh pemerintah Orde Lama ke Batu Malang, Jawa Timur (1960-1962) dan menjadi “tahanan politik” di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta (1962-1966).

“Saudara tahu”, kata Raja Faisal. “Muhammad Natsir bukan pemimpin umat Islam Indonesia saja, tetapi pemimpin umat Islam dunia ini, kami ini!”

Dalam bidang akademik, Pak Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Politik Islam dari Universitas Islam Libanon (1967), dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia, dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Saint dan Teknologi Malaysia (1991).

Perhatian dan kepedulian Pak Natsir terhadap Palestina terus bergelora, tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas, walau usianya sudah uzur, lah laruik sanjo istilah orang Minang, beliau masih memiliki semangat yang tinggi dan kepedulian yang besar terhadap urusan umat khususnya Palestina.

Pak Natsir banyak meninggalkan karya tulis yang berkaitan dengan dakwah dan pemikiran, sebagiannya diterbitkan dalam bahasa Arab, misalnya Fiqh Da’wah, dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan). Beliau juga menulis buku khusus yang membahas permasalahan Palestina dengan judul Qadhiyatu Falisthin (Masalah Palestina).

Menurut Al-Mustasyar Abdullah Al-‘Aqil, mantan wakil Sekretaris Jendral Rabithah Alam Islami di Mekah Al-Mukaromah, “Dr. Muhammad Natsir sangat serius memperhatikan masalah Palestina. Ia temui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina, setelah kekalahan tahun 1967”.

Ketika redaktur majalah “Al-Wa’yul Islami” Kuwait, ustadz Muhammad Yasir Al-Qadhami bersilaturrahim ke rumah pak Natsir, Februari 1989, dan bertanya tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh pada dirinya dan mempengaruhi perjuangannya, pak Natsir menjawab, “ Haji Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna, dan Imam Hasan Al-Hudhaibi. Sedang tokoh-tokoh Indonesia adalah Syekh Agus Salim dan Syekh Ahmad Surkati.”

Di hadapan sekitar 2.000 orang yang hadir dalam acara Tasyakur 80 Tahun Muhammad Natsir, di Masjid Al-Furqan, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, 17 Juli 1988. Pak Natsir menyampaikan kepada jama’ah, founding fathers, tokoh dan pendiri Republik ini, ulama, zuama, cendikiawan, dan generasi muda Islam tentang perjuangan anak-anak dan pemuda Palestina melawan penjajah Zionis Israel.

“Soal Palestina yang selama ini macet, hidup kembali dengan demonstrasi, pemuda-pemuda dan anak-anak sekolah yang secara spontan menyatakan protes dengan beramai-ramai melempari dengan batu (bukan granat) dengan seruan Allahu Akbar, ke arah tentara Israel yang bersenjata lengkap. Sudah delapan bulan yang demikian itu berjalan, sudah banyak yang syahid ditembaki oleh tentara Israel. Tetapi mereka tak berhenti. Siapa yang mnenyangka tadinya akan demikian semangat jihad anak-anak belasan tahun berhadapan dengan angkatan bersenjata Israel…Demikianlah. Tak ada yang tetap di dunia ini. Innazzamaana Qadistadaara (Zaman beredar, musim berganti)”.

Walau dikenal luas oleh para tokoh dunia, Pak Natsir tetap menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Pak Natsir merupakan salah satu dari sedikit tokoh Islam Indonesia yang sungguh-sungguh berjuang menghidupi Islam, bukan sungguh-sungguh hidup dari memanfaatkan Islam, sehingga menjadi gemuk di jalan dakwah, seperti yang sekarang banyak dikerjakan orang-orang yang mengaku tokoh Islam. Bagi Pak Natsir, dunia dengan segala gemerlapnya adalah kepalsuan, bukan hakikat.

Tokoh yang sederhana ini wafat pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 1993 pukul 12.10 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam usia 84 tahun. Semoga Allah ampuni segala dosanya, diterima segala amal ibadahnya dan dilapangkan kuburnya, dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih di dalam surga.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhmahfuz).”(QS: Yaasin/36: 12).

H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA email: ferryn2006@yahoo.co.id

(Sumber: silahkan diklik di masing-masing judul tulisan)

Rangkaian Sejarah: Mohammad Natsir

Awalnya baca ini di MP Mas Tomi, sekalian diabadikan di sini, soalnya beliau adalah salah satu tokoh politik Indonesia favoritku. Semoga di pesta demokrasi mendatang, masih ada orang2 yang mengikuti jejak politik bersih beliau, Amiiin.



Sebuah Pemberontakan tanpa Drama

Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood: perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan, dan akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu teladan yang jarang.

DIA, Mohammad Natsir (17 Juli 1908–6 Februari 1993), orang yang puritan. Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi, tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja.

Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, ­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah penampilan sang menteri. ”Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin.

Mungkin karena itulah sampai tahun ini—seratus tahun setelah kelahirannya, 15 tahun setelah ia mangkat—tidak sedikit orang menyimpan keyakinan bahwa Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer kita. Masing-masing memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di kalangan Islam garis keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah air ini. Dan di kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang sama, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri dari Partai Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.

Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika itu.

Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih berarti. Waktu itu, pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan nasionalis­me-sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.

Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya ”bertemu” lagi dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk negara kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.

Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa pengadilan.

Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita, akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat, menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu. Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin yang cenderung otoriter.

Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel ”musuh utama” pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau Buru—pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan politik peng­ikut PKI. Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit. Para penanda tangan Petisi 50 dicekal.

Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang cukup panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan ber­sahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh. Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh santun itu ke dalam banyak halaman laporan panjang edi­si ini.

***

Pak Natsir dan Jihad Palestina

Senin, 28 Apr 08 07:49 WIB

Orang banyak mengenalnya sebagai Pak Natsir. Nama lengkapnya Muhammad Natsir, bergelar Datuk Sinaro nan Panjang, lahir di Minangkabau tanggal 17 Juli 1908, tepatnya di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatera Barat, dari pasangan Sutan Saripado dan Khadijah. Beliau adalah tokoh bangsa, tokoh umat, dan tokoh dunia Islam, karena aktifitas dan peran yang telah dilakukannya untuk Islam dan umat tanpa mengenal lelah.

Pada tahun 1945-1946, pak Natsir menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), tahun 1946-1949 menjabat sebagai Menteri Peneranan RI, tahun 1950-1951 menjadi Perdana Menteri RI.

Dalam percaturan dunia Islam, khususnya di negara-negara Arab, pak Natsir sangat dikenal, dihormati dan disegani, beliau ikut serta dan terlibat pada beberapa organisasi Islam tingkat internasional, tahun 1967 diamanahkan menjabat Wakil Presiden World Muslim Congress (Muktamar Alam Islami), Karachi, Pakistan, tahun 1969 menjadi anggota World Muslim League, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1972 menjadi anggota Majlis A’la al-Alam lil Masajid, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1980 menerima “Faisal Award” atas pengabdiannya kepada Islam dari King Faisal, Saudi Arabia, tahun 1985 menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait, pada tahun 1986 menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Centre for Islamic Studies, London, Inggris dan angota Majelis Umana’ International Islamic Univesity, Islamabad, Pakistan.

Ketika Subandrio naik haji dan ingin bertemu dengan Raja Faisal, Raja Faisal tidak mau menerimanya. Setelah diusahakan oleh pihak KBRI Jedah dan prosesnya agak lama, akhirnya Raja Faisal mau juga menerima Subandrio yang saat itu menjadi orang penting di Indonesia. Subandrio menceritakan tentang Islam di Indonesia, juga menceritakan perannya membela Islam, kisah naik haji dan lain-lain.

Tanpa disangka dan diduga oleh Subandrio, Raja Faisal langsung bertanya, “Kenapa saudara tahan Muhammad Natsir?”. Pak Natsir pernah diasingkan oleh pemerintah Orde Lama ke Batu Malang, Jawa Timur (1960-1962) dan menjadi “tahanan politik” di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta (1962-1966).

“Saudara tahu”, kata Raja Faisal. “Muhammad Natsir bukan pemimpin umat Islam Indonesia saja, tetapi pemimpin umat Islam dunia ini, kami ini!”

Dalam bidang akademik, Pak Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Politik Islam dari Universitas Islam Libanon (1967), dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia, dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Saint dan Teknologi Malaysia (1991).

Perhatian dan kepedulian Pak Natsir terhadap Palestina terus bergelora, tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas, walau usianya sudah uzur, lah laruik sanjo istilah orang Minang, beliau masih memiliki semangat yang tinggi dan kepedulian yang besar terhadap urusan umat khususnya Palestina.

Pak Natsir banyak meninggalkan karya tulis yang berkaitan dengan dakwah dan pemikiran, sebagiannya diterbitkan dalam bahasa Arab, misalnya Fiqh Da’wah, dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan). Beliau juga menulis buku khusus yang membahas permasalahan Palestina dengan judul Qadhiyatu Falisthin (Masalah Palestina).

Menurut Al-Mustasyar Abdullah Al-‘Aqil, mantan wakil Sekretaris Jendral Rabithah Alam Islami di Mekah Al-Mukaromah, “Dr. Muhammad Natsir sangat serius memperhatikan masalah Palestina. Ia temui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina, setelah kekalahan tahun 1967”.

Ketika redaktur majalah “Al-Wa’yul Islami” Kuwait, ustadz Muhammad Yasir Al-Qadhami bersilaturrahim ke rumah pak Natsir, Februari 1989, dan bertanya tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh pada dirinya dan mempengaruhi perjuangannya, pak Natsir menjawab, “ Haji Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna, dan Imam Hasan Al-Hudhaibi. Sedang tokoh-tokoh Indonesia adalah Syekh Agus Salim dan Syekh Ahmad Surkati.”

Di hadapan sekitar 2.000 orang yang hadir dalam acara Tasyakur 80 Tahun Muhammad Natsir, di Masjid Al-Furqan, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, 17 Juli 1988. Pak Natsir menyampaikan kepada jama’ah, founding fathers, tokoh dan pendiri Republik ini, ulama, zuama, cendikiawan, dan generasi muda Islam tentang perjuangan anak-anak dan pemuda Palestina melawan penjajah Zionis Israel.

“Soal Palestina yang selama ini macet, hidup kembali dengan demonstrasi, pemuda-pemuda dan anak-anak sekolah yang secara spontan menyatakan protes dengan beramai-ramai melempari dengan batu (bukan granat) dengan seruan Allahu Akbar, ke arah tentara Israel yang bersenjata lengkap. Sudah delapan bulan yang demikian itu berjalan, sudah banyak yang syahid ditembaki oleh tentara Israel. Tetapi mereka tak berhenti. Siapa yang mnenyangka tadinya akan demikian semangat jihad anak-anak belasan tahun berhadapan dengan angkatan bersenjata Israel…Demikianlah. Tak ada yang tetap di dunia ini. Innazzamaana Qadistadaara (Zaman beredar, musim berganti)”.

Walau dikenal luas oleh para tokoh dunia, Pak Natsir tetap menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Pak Natsir merupakan salah satu dari sedikit tokoh Islam Indonesia yang sungguh-sungguh berjuang menghidupi Islam, bukan sungguh-sungguh hidup dari memanfaatkan Islam, sehingga menjadi gemuk di jalan dakwah, seperti yang sekarang banyak dikerjakan orang-orang yang mengaku tokoh Islam. Bagi Pak Natsir, dunia dengan segala gemerlapnya adalah kepalsuan, bukan hakikat.

Tokoh yang sederhana ini wafat pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 1993 pukul 12.10 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam usia 84 tahun. Semoga Allah ampuni segala dosanya, diterima segala amal ibadahnya dan dilapangkan kuburnya, dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih di dalam surga.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhmahfuz).”(QS: Yaasin/36: 12).

H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA email: ferryn2006@yahoo.co.id

(Sumber: silahkan diklik di masing-masing judul tulisan)

Monday, July 14, 2008

Around 40 (Japanese Drama)

Rating:★★★★
Category:Other
Drama di TBS ini sebenernya sudah tamat sejak 3 minggu yang lalu, tapi baru sempat nulis ulasannya sekarang, telat banget, ya:).

Sesuai judulnya, drama ini berkisah tentang 3 orang wanita yang berusia mendekati 40 tahun (versi Engrish, alias Japanese English-nya ‘arafo’, atawa ‘araun footies’): Satoko (39), Mizue (40), dan Nao (35), serta seorang pria: Ohashi Sadao alias Ma-kun, yang bersahabat sejak SMP. Satoko (Amami Yuki) adalah seorang psikiater sukses yang masih lajang dan memiliki keluarga bahagia: ayah, ibu tiri (Haruko), dan adik cowok (Tetsuya) beserta istri dan anaknya.

Mizue adalah seorang ibu RT, bersuamikan karyawan di perusahaan asuransi, dan memiliki seorang anak cowok yang duduk di bangku SMP. Ma-kun memiliki restoran warisan dari ayahnya, tempat mereka berempat selalu berkumpul, sedangkan Nao adalah wanita lajang yang bekerja sebagai desainer di sebuah majalah.

Tidak seperti Nao, yang sejak awal sudah menyatakan tidak akan menikah, Satoko tetap tidak berputus asa untuk mendapatkan pasangan hidup idealnya, yaitu seseorang yang menyenangkan ketika meluangkan waktu bersama dengannya, dan mau menerimanya beserta dunianya: kesibukannya sebagai psikiater yang menyita waktu. Ia juga berkeras menolak ‘omiai’ (perjodohan ala Jepang), karena berkeyakinan bahwa pasangan hidupnya pasti akan dipertemukan dengannya secara natural.

Di luar dugaan, Nao justru mendadak menikah dengan orang yang tidak dicintainya, tepat setelah promosi yang diharapkannya di tempat kerja ternyata diberikan kepada wanita lain yang 3 tahun lebih muda darinya. Pria ini adalah Shinjo Takefumi, desainer gaya hidup yang menaruh hati pada Nao saat majalah Nao melakukan wawancara dengannya.

Mizue, yang merupakan perwakilan dari ibu RT tipikal Jepang, selalu merasa iri dengan Satoko dan Nao, karena mereka mandiri secara ekonomi. Padahal Satoko dan Nao juga menginginkan kehidupan berkeluarga seperti yang dimiliki oleh Mizue. Sebagai tambahan konflik, Ma-kun dan Nao ternyata saling mencintai, walaupun mereka tidak pernah mengatakannya secara langsung.

Tokoh utama di sini adalah Satoko, yang pikirannya terkadang bercabang di antara 2 pilihan: karir atau keluarga, hingga ia bertemu dengan Okamura (33 th.), seorang psikolog baru di klinik Satoko.

Hal yang menarik dari drama ini adalah:
1. Hubungan persahabatan antara Satoko, Nao, Mizue, dan Ma-kun, yang membuat mereka dapat saling membantu dan meringankan beban satu sama lain.
2. Hubungan antara Satoko dan Okamura dengan para pasiennya, yang menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dan ketenangan pikiran bagi seseorang dalam menjalani hidupnya, serta dalam menghadapi berbagai masalah.
3. Prinsip Satoko dan Nao yang saling bertentangan dalam memperjuangkan kebahagiaan hidupnya. Nao selalu mengutamakan untuk terlihat bahagia di depan orang lain, sedangkan Satoko berprinsip bahwa: ‘apa yang akan membuatku bahagia, aku sendiri yang menentukan.’
4. OST drama ini (Shiawase no Monosashi, oleh: Takeuchi Mariya), terutama bait terakhirnya: “… Count what you have now, don’t count what you don’t have, find that you have so much.”
5. Seperti yang sering dikatakan Ma-kun, rumput tetangga tampak selalu lebih hijau. Demikian pula salah satu pesan dari drama ini, di mana Mizue sering terlihat tak puas dengan kondisi dirinya, dan iri dengan kondisi sahabatnya (Satoko dan Nao), juga sebaliknya.
6. Hubungan Okamura-Satoko, yang beberapa kali menunjukkan kelucuan sikap Satoko saat salah tingkah menghadapi Okamura, yang notabene berusia lebih muda dan memiliki pendapatan yang jauh lebih rendah darinya.
7. Drama ini sangat membumi, dan benar-benar mewakili kondisi wanita Jepang saat ini. Satoko mewakili wanita mandiri yang tidak ingin didikte lingkungan dalam menentukan kebahagiaan hidupnya, Mizue adalah ibu RT yang ingin bekerja karena selalu merasa tidak aman dan tidak dihargai keluarganya, sedangkan Nao adalah wanita yang rela mengorbankan perasaannya agar terlihat bahagia di depan orang lain, serta lancar dalam karirnya.


Selain itu, seperti halnya mayoritas drama Jepang, drama ini pun sarat pesan moral, mulai dari hubungan antarkeluarga, hubungan orangtua dan anak, bahkan hubungan antara manusia dengan lingkungan, yang sering didengungkan oleh Okamura.

Meskipun demikian, hubungan antara Nao dan Ma-kun ini bikin aku kesel juga, sih… wong udah jelas sama-sama seneng, kenapa nggak saling terbuka gitu, lho! Jadi keinget sama si Kenzo di “Propose Daisakusen”, yang walaupun udah dikasih kesempatan berulang kali, tetep aja nggak bisa mengungkapkan perasaannya ke wanita yang dicintainya sejak mereka berdua di bangku SMA! Sebegitu susahnyakah untuk mengungkapkan perasaan? ‘Kan masih ada media lain, jika nggak bisa bicara langsung secara lisan? Lho, kok malah ngedumel, punten terbawa suasana, hehehe…:D.

Beberapa kutipan yang menarik di drama ini:
• Satoko: What will make me happy, I’ll decide myself.
• Mizue: Having a good marriage means having to make an effort.
• Nao: After all, a pinch can change into an opportunity.
• Okamura: There is a deep gulf between men and women, the most important thing is communication.
• Ma-kun: It’s what’s inside that count. Before getting married, you have to accept the entirety of your partner.
• Haruko: Which ever road one chooses, a person could end up regretting their regrets.

BTW, jadi keinget sama pertanyaan Ma-kun yang tak terjawab sampai drama ini usai: Life style designer itu pekerjaannya apa, sih?
***

(Foto dari sini )

Nishi Chiba, 15 Juli 2008 (03.14 JST)

- Katakanlah apa yang ada di dalam pikiranmu, jika tidak, bagaimana orang lain dapat memahamimu? (Okamura) -


Around 40 (Japanese Drama)

Rating:★★★★
Category:Other
Drama di TBS ini sebenernya sudah tamat sejak 3 minggu yang lalu, tapi baru sempat nulis ulasannya sekarang, telat banget, ya:).

Sesuai judulnya, drama ini berkisah tentang 3 orang wanita yang berusia mendekati 40 tahun (versi Engrish, alias Japanese English-nya ‘arafo’, atawa ‘araun footies’): Satoko (39), Mizue (40), dan Nao (35), serta seorang pria: Ohashi Sadao alias Ma-kun, yang bersahabat sejak SMP. Satoko (Amami Yuki) adalah seorang psikiater sukses yang masih lajang dan memiliki keluarga bahagia: ayah, ibu tiri (Haruko), dan adik cowok (Tetsuya) beserta istri dan anaknya.

Mizue adalah seorang ibu RT, bersuamikan karyawan di perusahaan asuransi, dan memiliki seorang anak cowok yang duduk di bangku SMP. Ma-kun memiliki restoran warisan dari ayahnya, tempat mereka berempat selalu berkumpul, sedangkan Nao adalah wanita lajang yang bekerja sebagai desainer di sebuah majalah.

Tidak seperti Nao, yang sejak awal sudah menyatakan tidak akan menikah, Satoko tetap tidak berputus asa untuk mendapatkan pasangan hidup idealnya, yaitu seseorang yang menyenangkan ketika meluangkan waktu bersama dengannya, dan mau menerimanya beserta dunianya: kesibukannya sebagai psikiater yang menyita waktu. Ia juga berkeras menolak ‘omiai’ (perjodohan ala Jepang), karena berkeyakinan bahwa pasangan hidupnya pasti akan dipertemukan dengannya secara natural.

Di luar dugaan, Nao justru mendadak menikah dengan orang yang tidak dicintainya, tepat setelah promosi yang diharapkannya di tempat kerja ternyata diberikan kepada wanita lain yang 3 tahun lebih muda darinya. Pria ini adalah Shinjo Takefumi, desainer gaya hidup yang menaruh hati pada Nao saat majalah Nao melakukan wawancara dengannya.

Mizue, yang merupakan perwakilan dari ibu RT tipikal Jepang, selalu merasa iri dengan Satoko dan Nao, karena mereka mandiri secara ekonomi. Padahal Satoko dan Nao juga menginginkan kehidupan berkeluarga seperti yang dimiliki oleh Mizue. Sebagai tambahan konflik, Ma-kun dan Nao ternyata saling mencintai, walaupun mereka tidak pernah mengatakannya secara langsung.

Tokoh utama di sini adalah Satoko, yang pikirannya terkadang bercabang di antara 2 pilihan: karir atau keluarga, hingga ia bertemu dengan Okamura (33 th.), seorang psikolog baru di klinik Satoko.

Hal yang menarik dari drama ini adalah:
1. Hubungan persahabatan antara Satoko, Nao, Mizue, dan Ma-kun, yang membuat mereka dapat saling membantu dan meringankan beban satu sama lain.
2. Hubungan antara Satoko dan Okamura dengan para pasiennya, yang menunjukkan betapa pentingnya komunikasi dan ketenangan pikiran bagi seseorang dalam menjalani hidupnya, serta dalam menghadapi berbagai masalah.
3. Prinsip Satoko dan Nao yang saling bertentangan dalam memperjuangkan kebahagiaan hidupnya. Nao selalu mengutamakan untuk terlihat bahagia di depan orang lain, sedangkan Satoko berprinsip bahwa: ‘apa yang akan membuatku bahagia, aku sendiri yang menentukan.’
4. OST drama ini (Shiawase no Monosashi, oleh: Takeuchi Mariya), terutama bait terakhirnya: “… Count what you have now, don’t count what you don’t have, find that you have so much.”
5. Seperti yang sering dikatakan Ma-kun, rumput tetangga tampak selalu lebih hijau. Demikian pula salah satu pesan dari drama ini, di mana Mizue sering terlihat tak puas dengan kondisi dirinya, dan iri dengan kondisi sahabatnya (Satoko dan Nao), juga sebaliknya.
6. Hubungan Okamura-Satoko, yang beberapa kali menunjukkan kelucuan sikap Satoko saat salah tingkah menghadapi Okamura, yang notabene berusia lebih muda dan memiliki pendapatan yang jauh lebih rendah darinya.
7. Drama ini sangat membumi, dan benar-benar mewakili kondisi wanita Jepang saat ini. Satoko mewakili wanita mandiri yang tidak ingin didikte lingkungan dalam menentukan kebahagiaan hidupnya, Mizue adalah ibu RT yang ingin bekerja karena selalu merasa tidak aman dan tidak dihargai keluarganya, sedangkan Nao adalah wanita yang rela mengorbankan perasaannya agar terlihat bahagia di depan orang lain, serta lancar dalam karirnya.


Selain itu, seperti halnya mayoritas drama Jepang, drama ini pun sarat pesan moral, mulai dari hubungan antarkeluarga, hubungan orangtua dan anak, bahkan hubungan antara manusia dengan lingkungan, yang sering didengungkan oleh Okamura.

Meskipun demikian, hubungan antara Nao dan Ma-kun ini bikin aku kesel juga, sih… wong udah jelas sama-sama seneng, kenapa nggak saling terbuka gitu, lho! Jadi keinget sama si Kenzo di “Propose Daisakusen”, yang walaupun udah dikasih kesempatan berulang kali, tetep aja nggak bisa mengungkapkan perasaannya ke wanita yang dicintainya sejak mereka berdua di bangku SMA! Sebegitu susahnyakah untuk mengungkapkan perasaan? ‘Kan masih ada media lain, jika nggak bisa bicara langsung secara lisan? Lho, kok malah ngedumel, punten terbawa suasana, hehehe…:D.

Beberapa kutipan yang menarik di drama ini:
• Satoko: What will make me happy, I’ll decide myself.
• Mizue: Having a good marriage means having to make an effort.
• Nao: After all, a pinch can change into an opportunity.
• Okamura: There is a deep gulf between men and women, the most important thing is communication.
• Ma-kun: It’s what’s inside that count. Before getting married, you have to accept the entirety of your partner.
• Haruko: Which ever road one chooses, a person could end up regretting their regrets.

BTW, jadi keinget sama pertanyaan Ma-kun yang tak terjawab sampai drama ini usai: Life style designer itu pekerjaannya apa, sih?
***

(Foto dari sini )

Nishi Chiba, 15 Juli 2008 (03.14 JST)

- Katakanlah apa yang ada di dalam pikiranmu, jika tidak, bagaimana orang lain dapat memahamimu? (Okamura) -


Monday, July 07, 2008

My Nephews and Nieces... Latest Edition ;D




Pictures of my nephews and nieces in Indonesia, Australia, and Japan... Thanks to Nichi's Mommy and Nasmah's Bunda for some pictures here...:).

*Nishi Chiba, 7 Juli 2008 (tepat setahun tinggal di Nishi Chiba:))*

Sunday, July 06, 2008

Spaghetti Gosong... ;D




Kemaren2 ini lagi pengen makan selain nasi. Abis ngubek2 lemari perbekalan, ternyata masih ada stok spaghetti yang masih utuh, plus saus neapolitan siap saji pula.

Jadilah, malem itu daku berspaghetti ria. Berhubung nggak punya panci tinggi, jadinya pake panci biasa, yang buat ngerebus susu. Karena udah kelaperan, jadinya api kugedein, deh... biar cepet mendidih.

Hasilnya... emang mendidih sih, tapi juga si spaghetti ini ikut gosong kebakar, lah wong sepertiga spaghetti ini ada di luar panci!

Hiks, ampun, deh... masak spaghetti aja bisa gosong;(. Tapi herannya, kok gak berasa pahit kayak mie gosong, ya? Atau mungkin karena sudah bercampur dengan sausnya, jadi gak berasa? Atau karena makanan gosong kesukaanku lainnya jauh lebih gosong dari ini?

Yah, sudahlah... yang penting spaghetti ini segera habis tak bersisa, walaupun penampakannya sedikit tak biasa:D.

Wednesday, July 02, 2008

Berkah itu Datang Kala Hambatan Menghadang

Perjalanan kehidupan tak selamanya lancar sesuai harapan. Terkadang ada aral melintang, atau pun lubang penghalang, yang membuat kita terpaksa berjalan perlahan. Bahkan tak jarang pula badai topan menghantam, sehingga kita terpaksa berhenti sejenak, beristirahat sambil menanti, hingga cuaca kembali mendukung untuk melanjutkan perjalanan.

Namun demikian, tak selamanya hambatan dan penghalang itu bermakna kesedihan. Ada hal indah yang juga senantiasa menyertainya. Hikmah di balik setiap kejadian? Tentu saja ada, namun bukan itu yang hendak disampaikan sekarang.

Berkah terindah itu adalah persahabatan. Yah, hanya dalam keadaan di mana kita berada pada kondisi yang tidak menguntungkan inilah, kita akan dapat mengenali, mana teman sejati dan mana teman yang hanya dekat di kala senang; mana pula sahabat yang setia menemani, atau pun rekan yang hanya memanfaatkan kedekatan untuk kepentingan pribadi.

Sahabat dan teman sejati tak akan lekang oleh cobaan, tak akan menjauh karena kekurangan. Sebaliknya, berbagai keadaan yang tak nyaman ini akan semakin menguatkan ikatan, membuat mereka tak ubahnya saudara sendiri, walaupun darah sama sekali tak berhubungan.

Kehadiran mereka juga akan membuat berbagai hambatan tak akan terasa berat, dan berbagai kebahagiaan akan terasa lebih nikmat. Benar-benar merupakan berkah yang tak ternilai, mendapatkan para saudara yang dapat saling berbagi suka dan sedih, serta mengingatkan di kala kita hampir salah memilih. Saudara yang tak hanya mendukung saat kita di jalan yang benar, tapi juga yang berani marah dan pantang menyerah untuk mencegah kita berbuat salah.

Jadi bila perjalanan kehidupan ini mendapatkan halangan, janganlah merasa gundah-gulana, karena berkah terindah itu akan menemani kita untuk menghadapinya, menjemput hikmah yang dianugerahkan-Nya, kelak pada saatnya.

***

"A friend cannot be considered a friend until he is tested in three occasions: in time of need, behind your back, and after your death” [Ali ibn-Abi-Thalib r.a. (602 AD - 661 AD)]

***

(Dari sini)

Nishi Chiba, 2 Juli 2008 (23.20 JST)

Terima kasih dari lubuk hati yang terdalam, bagi setiap sahabat di perjalanan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan lindungan-Nya kepada kalian

Thursday, June 19, 2008

Berburu Rubah Api

Semalem aku download FF (Firefox) 3, dan ternyata ada beberapa trouble: website kampusku nggak bisa diakses, walaupun certificate-nya sudah didaftarin, trus tiap copy/paste, pasti langsung crash, dan layar si rubah api ini langsung menutup. Ada dialog box untuk memfungsikan text editor ini (yang lumayan panjang), tapi setiap aku berusaha copy/paste ke word, kembali crash terjadi. Akhirnya kuputusin buat kembali ke selera asal, FF 2.0.0.14.

Parahnya, pas mau balik ke FF versi lama, ternyata yang english version-nya udah nggak ada, karena semua search engine mengarah ke FF3 ini! Ampun banget, deh! Jadinya terpaksa pake FF 2.0.0.14 versi Jepun, nambahin language pack, baru dah… FF-nya nggak pake bahasa keriting lagi.

Dan ngubek2 si rubah api ini makan waktu lama banget, terutama untuk ngaktifin language pack-nya (lah wong perintahnya in Jepun semua, gimana nggak puyeng); padahal mestinya aku bisa ngerjain setoranku. Maunya cepet, eh malah jadi ngabisin waktu gini, deh.

Pelajaran buat diri-sendiri: jangan mudah tergoda dengan software baru, karena itu belum tentu cocok dengan kebutuhan.

Maaf buat temen2, ini cuman pemberitahuan kenapa semalem nggak OL atau pun bales e-mail2 yang urgent, soalnya internetku byar-pet gara2 si rubah api baru ini crash melulu… ('kali aja ada yang nanya, mendingan GR daripada minder 'kan, hehehe ).

 

***

(Dari sini)

Nishi Chiba, 19 Juni 2008 (19.37 JST)

*Curhat doang abis puyeng ngubek2 FF semalem... *

Wednesday, June 18, 2008

Refugee Film Festival

Start:     Jun 20, '08 5:30p
End:     Jun 27, '08
Location:     Tokyo
In celebration of World Refugee Day on 20th June 2008, UNHCR and Japan for UNHCR proudly present the 3rd Annual Tokyo Refugee Film Festival.

The Tokyo Refugee Film Festival is becoming a vital component of UNHCR's year round action plan to raise awareness of the plight and triumphs of the world's 33 million refugees and internally displaced persons. A select array of films from across the globe gives voice to seldom-heard stories of hope, despair and resilience. The select films give voice to seldom-heard stories of hope, despair and resilience from across the globe.

Dates: 20 (World Refugee Day) - 27 June 2008
Fee: Free Entry (No need to RVSP: first come, first served)
Venues: Goethe-Institut Japan
Instituto Cervantes de Tokio
Istituto Italiano di Cultura di Tokyo
L'Institut Franco-Japonais de Tokyo
NHK Fureai Hall
Organizers: UNHCR Representation in Japan
Japan for UNHCR
Contact: 03-3499-2310 (UNHCR Representation in Japan, Public Information)
jpntofes@unhcr.org

Admission Guidelines: Admission to all screenings is free of charge. There is no guarantee of seats, which are allocated on a first come, first served basis.
There is no seat reservation.
Doors are scheduled to open 30 minutes before each screening, unless a previous screening or Q&A is still in session.
Only L'Institut Franco-Japonais issues admission coupons from one hour prior to the scheduled screening time.
Please contact the venues for the latest information.

***

For films' list and timetable, please check this website

Refugee Film Festival

Start:     Jun 20, '08 5:30p
End:     Jun 27, '08
Location:     Tokyo
In celebration of World Refugee Day on 20th June 2008, UNHCR and Japan for UNHCR proudly present the 3rd Annual Tokyo Refugee Film Festival.

The Tokyo Refugee Film Festival is becoming a vital component of UNHCR's year round action plan to raise awareness of the plight and triumphs of the world's 33 million refugees and internally displaced persons. A select array of films from across the globe gives voice to seldom-heard stories of hope, despair and resilience. The select films give voice to seldom-heard stories of hope, despair and resilience from across the globe.

Dates: 20 (World Refugee Day) - 27 June 2008
Fee: Free Entry (No need to RVSP: first come, first served)
Venues: Goethe-Institut Japan
Instituto Cervantes de Tokio
Istituto Italiano di Cultura di Tokyo
L'Institut Franco-Japonais de Tokyo
NHK Fureai Hall
Organizers: UNHCR Representation in Japan
Japan for UNHCR
Contact: 03-3499-2310 (UNHCR Representation in Japan, Public Information)
jpntofes@unhcr.org

Admission Guidelines: Admission to all screenings is free of charge. There is no guarantee of seats, which are allocated on a first come, first served basis.
There is no seat reservation.
Doors are scheduled to open 30 minutes before each screening, unless a previous screening or Q&A is still in session.
Only L'Institut Franco-Japonais issues admission coupons from one hour prior to the scheduled screening time.
Please contact the venues for the latest information.

***

For films' list and timetable, please check this website

Monday, June 09, 2008

Alarm Kebakaran di Dini Hari (9 Juni 2008)


Minggu malam kemarin, aku berniat untuk tidur agak cepat, karena Senin pagi ini harus ketemu dengan Pakdhe, sang dosen pembimbing seniorku. Setelah menyiapkan data dan perlengkapan lainnya, akhirnya sekitar jam 1-an dini hari, aku pun masuk ke peraduan.

 

Saat kesadaran sudah berkurang hampir sepenuhnya, tiba2 terdengar suara dering bel, yang makin lama makin keras, dan sukses membangunkanku sepenuhnya. Aku duduk sebentar di pembaringan, memastikan tidak ada gempa atau gerakan2 aneh lainnya. Setelah itu baru menghampiri jam bekerku di meja, yang sudah lama tidak kufungsikan karena bunyi alarmnya yang tidak ramah lingkungan, super keras, sperti deringan yang kudengar ini! Saking kerasnya, pernah saat tinggal di asrama Saidai dulu, terdengar bunyi gedebukan di sebelah kamarku saat dia berbunyi! Jadinya aku terbangun karena suara gedubrakan ini, bukan karena si beker, hehehe. Padahal justru karena suara kerasnya inilah, dulu dia kubeli. Maklumlah, kalau aku sudah tidur, bangunnya susah banget, walaupun bumi bergoncang juga tetap tidur pulas! Dan ternyata… memang si beker tak berbunyi, tetap duduk manis di tempatnya.

Sementara itu, dering ini tetap terdengar. Kunyalakan lampu, mengenakan kerudung, lalu berjalan ke pintu. Saat terbuka, kulihat alarm kebakaran di depan kamarku menyala! Ah, ternyata ini tho, yang bunyinya mirip si beker itu! Tak lama kemudian, terdengar pintu terbuka di sebelah kananku. Ternyata seorang pria Jepang yang tinggal di sana, masih muda, sepertinya mahasiswa Chibadai juga, mengingat gedungku ini berdekatan dengan Chibadai (baru sekali ini aku melihatnya, selama ini kupikir kamar itu kosong).

 

“Doshite desu ka?” tanyaku pada si pria ini. Dia hanya diam sambil menelengkan kepalanya ke kanan, bahasa tubuh orang Jepang yang menandakan ketidaktahuan. “Daijobu desu ka?” tanyaku lagi padanya. Kembali dia mengulangi gerakan yang sama, sambil tangan kirinya sibuk memencet HP, dan tangan kanannya menahan pintu.

 

Melihat jawabannya, tadinya kuputuskan untuk kembali tidur, namun terdengar kembali suara pintu terbuka, kali ini dari sebelah kiriku. Seorang gadis Jepang (kalau dia ini sudah beberapa kali bertemu denganku di koridor yang menghubungkan 4 kamar di lantai ini) muncul dengan pakaian untuk bepergian dan sebuah ransel, lengkap dengan earphone dan ipod-nya!

 

Dia bertanya hal yang sama denganku kepada si pria, yang lagi2 hanya dijawab dengan telengan kepala . Aku pun bertanya pada si gadis ini,”Daijobu desu ka?” Dan si gadis ini menjawab bahwa kemungkinan ada kebakaran, jadi menurutnya lebih baik kalau keluar kamar saja, kemudian dia pun berlalu ke arah lift.

 

Aku pun menutup pintu, berganti pakaian, mangambil ransel, kacamata, dan HP-ku. Yap, saat bangun tadi aku lupa pakai kacamata, sehingga wajah mereka ini tak begitu terlihat jelas olehku. Sama sekali tidak ada rasa panik saat itu, karena aku yakin bila kebakaran benar2 terjadi, pasti mobil PMK sudah tiba sedari tadi, mengingat lokasinya yang sangat dekat dari sini.

 

Setelah itu, aku pun keluar dan mengunci pintu, keluar dengan bersepatu tanpa kaos kaki, langsung menuju lift. ‘Paling cuma sebentar,’pikirku, lagipula celana yang kukenakan menutup rapat sepatuku hingga mata kaki.

 

Setibanya di bawah, ternyata benar dugaanku, tidak ada apa2, si gadis itu pun tak ada! Karaoke dan restoran di lantai dasar gedungku dipenuhi pengunjung seperti biasa. Ketika melewati alarm kebakaran di lantai dasar, ada 2 orang pria yang juga menuju ke sana. Setelah mereka memastikan tidak ada apa2 sambil mendekati alarm (sepertinya akan mematikan alarm ini), aku pun kembali ke kamar, dan bersiap2 melanjutkan tidur yang terganggu tadi.

Saat kulihat HP, ternyata pk. 01.30! Tanggung untuk tidur lagi, karena sejam lagi waktu sholat Subuh tiba. Namun karena aku masih agak2 pusing karena bangun terpaksa tadi, jadilah aku tetap melanjutkan misi tidurku.

 

Walhasil, pagi2 saat bangun untuk ke kampus, kepalaku pusing dan ngantuk berat, hiks. Tapi ada untungnya juga false alarm ini, karenanya aku bisa ketemu dengan para tetanggaku, yang selama ini tidak pernah terlihat karena beda jam orbit, hehehe.

 

***

(Dari sini)

Nishi Chiba, 10 Juni 2008 (00.28 JST)

* Masih sambil ngantuk berat…*