Friday, January 18, 2008

Cooking… What a Journey! (Part 1)

 

Memasak! Yap, ini dia kata kerja kedua (setelah menggambar) yang sejak dulu selalu membuatku mengheningkan cipta saat mendengarnya! Bukannya apa-apa, bagiku kedua kata kerja ini selalu menjadi kata benda abstrak, saking susahnya membayangkan untuk melakukannya.

Dari dulu memang aku tidak suka memasak (cooking), hanya suka membantu Ummi membuat kue (baking). Kenapa? Yah, karena memasak itu prosesnya sangat panjang dan merepotkan! Coba saja bayangkan: pertama mengupas bumbu dan sayuran, mencucinya, mengiris (halus, kalau mengiris kasar/mencincang sih nggak masalah), terus mengulek sampai halus, kemudian menumis, mencampurkan bumbu dengan software lainnya (daging, telur, ikan, tempe tahu, dkk.), barulah proses panjang ini selesai. Tapi jangan salah, perjuangan akan bertambah panjang jika masakan ini menggunakan santan, seperti rendang dkk.. Yak, tambahkan lagi proses mengupas kelapa, memarut, mencampur dengan air dan mengaduk rata, memeras santannya, sampai akhirnya…(fiuuuh), menyaring santan ini untuk selanjutnya digabungkan dengan teman2nya di atas. Kenapa ribet banget? Karena ini melihat dari kebiasaan Ummi yang tidak pernah memakai bumbu bubuk, kurang sedap katanya…. Lagi pula kami saat itu di kampung, sehingga belum mengenal alat2 seperti blender atau pun food processor seperti saat ini.

Nah, coba kita bandingkan dengan baking. Kegiatannya hanyalah: menimbang bahan, mengaduk bahan (itu pun dengan mixer), lapisi loyang dengan mentega dan sedikit tepung terigu, masukkan adonan ke loyang, panggang…selesai!

Itulah sebabnya, dulu (waktu SD), setiap disuruh Ummi membantu masak, aku selalu tawar-menawar. Contohnya: mau bantuin ngiris kacang panjang/ memeras santan, asalkan nanti dapet tahu goreng 3 buah. Atau mau juga ngupasin bawang merah, asal dapet tempe goreng 5 buah (pake nangis bombay, sih!). Pokoknya “upah” ini berkisar antara 3 dan 5, minimum 3 dan maksimum 5 . Makanya lama-kelamaan, Ummi malas menyuruhku bantuin masak, ‘kebanyakan upahnya’ katanya. Tapi untuk bikin kue… ini sih selalu membantu tanpa diminta, soalnya hadiahnya itu yang nggak nahan…ngabisin sisa adonan di loyang! Apalagi kalau kue coklat, wah…adonannya uenaaak banget! Entah kenapa, kami berempat (aku, kakak, dan adik2ku) sangat senang ngabisin adonan kue, rasanya memang lebih nikmat dari matengnya, lho…cobain deh, kalau nggak percaya!

Kembali ke masak. Nah, sejak itu, praktis aku tidak pernah ke dapur lagi, kecuali untuk kegiatan praktek tata boga di sekolah, karena rumahku sejak SD sampai SMA selalu jadi base camp. Aku lebih memilih membantu Abi menjaga toko materialnya daripada membantu Ummi di dapur. Bahkan saat aspri di rumah mudik lebaran, aku lebih memilih untuk mengepel seluruh rumah dan memberi makan para hewan piaraan yang seabrek itu, daripada bantuin masak!

Kejadian ini berlangsung terus hingga aku kuliah di Bandung, dan tinggal bersama pamanku sekeluarga di sana. Semester awal2, aku masih sering disuruh membantu di dapur oleh tante, bareng dengan sepupuku, Si Sulung merangkap putri pertama dari 7 bersaudara, yang usianya 3 tahun di atasku. Namun semester2 berikutnya, aku semakin sibuk dengan berbagai kegiatan di kampus, sehingga hanya sempat membantu saat liburan saja. Itu pun hanya untuk mencuci piring atau pun menata meja bagi keluarga besar kami.

Bahkan pada saat KKN, kembali aku terselamatkan dari tugas ini. Waktu itu kami bertujuh, 3 putri dan 4 putra. Kedua putri ini keluarganya punya catering, jadi urusan masak…beres, lah! Dua dari 4 putra ini juga bisa masak, yang satu karena hobi, yang kedua karena ibunya sibuk dan tidak ada aspri di rumah, sedangkan kakak2nya sudah ‘mentas’ semua, jadilah dia sendirian di rumah, dan sering bereksperimen memasak yang cepat dan enak. Ketika mengatur pembagian jadwal masak dan tugas2 lainnya, si sekretaris kelompok kami (yang ibunya punya catering itu) mendekatiku.

“Fit, gue nggak ngerti apa2 soal administrasi, mendingan elu aja yang jadi sekretaris, ya? Ntar tugas masak elu biar gue yang gantiin, gue masakin yang enak2, deh…elu tinggal bantuin ngiris2 sama masak nasi aja, OK?” Aku terkejut dan memandangnya dengan takjub. 'Kok ada ya, orang yang mau menukar kegiatan ngetik surat doang dengan pekerjaan super ribet begitu?' pikirku saat itu. Namun begitu tersadar (perasaan tadi nggak pake pingsan, deh), aku langsung menyanggupinya dengan sepenuh hati.

Hiks, betapa indahnya dunia saat itu… Allah memang selalu menyelamatkanku dari saat2 terjepit seperti sekarang ini…*hehehe, hiperbolanya keluar, deh!*

Maka semuanya pun berjalan dengan bahagia… kami ber-7 merupakan satu2nya kelompok di angkatan tersebut yang sukses menambah berat sekitar 3 kg selama KKN 2 bulan itu… padahal memasak sendiri! Satu lagi, aku jadi jago masak nasi (bukan pake rice cooker, lho...tapi pake dandang yang lewat proses diaron segala, namanya juga di desa KKN). Tapi judul akhirnya sih…sampai dengan lulus kuliah, aku masih terbebas dari tugas masak ini, hehehe!

(Bersambung ke sini)

Wednesday, January 16, 2008

Bener, 'kan?

Pagi yang cerah ini kuawali dengan persiapan untuk kursus Jepun di CCIA, Chiba. Berhubung selesainya nanti sekitar pk. 12-an, dan nasi sudah habis, maka sejak semalem kuniatin untuk masak nasi pagi2  (ampun deh, masak nasi aja kok pake niat semaleman, ya...).

Begitulah, setelah siap2 dan beres sarapan, aku pun mencuci beras, masukin ke rice cooker, dan colokin kabelnya. Saat itu kulihat masih ada waktu 15 menit lagi sebelum berangkat ke stasiun. Dari pada nungguin Sensei Jepun-ku kelamaan di sana, jadilah kuputuskan untuk membaca buku yang baru saja dipinjami oleh Dwi.

Pas selesai 1 bab, alarm HP-ku berbunyi. Segera aku bersiap2 dan berangkat. Saat akan mengunci pintu, aku merasa ada yang terlupa, entah apa. Setelah memastikan semuanya ada di dalam tas dan heater sudah dimatikan, aku pun berangkat...walaupun masih dengan perasaan tidak enak.

Jepun kali ini berjalan lancar. Setelah belajar tata bahasa, Sensei memberikan game tentang kata benda dalam hiragana dan keterangan tempat. Pk. 12.30, kursus pun selesai. Seperti biasa, sebelum pulang kami harus melakukan pemesanan tempat untuk minggu depan di komputer. Anehnya, ternyata minggu depan penuh banget untuk jam yang sama! Terpaksalah kami melakukan kursus minggu depan di sofa depan, tidak di area belajar seperti yang biasa kami lakukan. Setelah itu kami pun berpisah.

Sesampainya di stasiun tempat tinggalku, aku mampir sebentar untuk membeli susu dkk.. Selesai belanja, aku langsung pulang, karena belum sholat Dhuhur dan makan siang, padahal perutku sudah lapar banget...maklumlah, sudah pk. 13.30-an, dan aku cuman sarapan rutin roti dan susu!

Di perjalanan ke rumah, kembali aku teringat dengan perasaan tidak enak tadi. Tiba2 sesuatu terlintas di pikiranku, dan membuatku segera bergegas melangkah.

Begitu masuk rumah, aku langsung mengecek rice cooker. Dan ternyata...bener, kan...aku lupa menekan tombol "cook"!!! Kulihat air yang merendam beras itu sudah berkurang, dan langsung kututup lagi. Tekan tombolnya, dan aku pun segera berwudhu lalu sholat dengan perut berdendang. Yah...harus menunggu 30 menit lagi, gara2 lupa tadi. Duh...ampun deh...wong pelupa kok gak sembuh2 tho yooo....

***
(Nasi kuning lengkapku pas tgl. 1 Muharram 1429 H kemaren)
Nishi Chiba, 16 Januari 2008 (21.43 JST)
*Segitu dulu curhatnya...balik ke setoran lagiiii....*

Bener, 'kan?

Pagi yang cerah ini kuawali dengan persiapan untuk kursus Jepun di CCIA, Chiba. Berhubung selesainya nanti sekitar pk. 12-an, dan nasi sudah habis, maka sejak semalem kuniatin untuk masak nasi pagi2  (ampun deh, masak nasi aja kok pake niat semaleman, ya...).

Begitulah, setelah siap2 dan beres sarapan, aku pun mencuci beras, masukin ke rice cooker, dan colokin kabelnya. Saat itu kulihat masih ada waktu 15 menit lagi sebelum berangkat ke stasiun. Dari pada nungguin Sensei Jepun-ku kelamaan di sana, jadilah kuputuskan untuk membaca buku yang baru saja dipinjami oleh Dwi.

Pas selesai 1 bab, alarm HP-ku berbunyi. Segera aku bersiap2 dan berangkat. Saat akan mengunci pintu, aku merasa ada yang terlupa, entah apa. Setelah memastikan semuanya ada di dalam tas dan heater sudah dimatikan, aku pun berangkat...walaupun masih dengan perasaan tidak enak.

Jepun kali ini berjalan lancar. Setelah belajar tata bahasa, Sensei memberikan game tentang kata benda dalam hiragana dan keterangan tempat. Pk. 12.30, kursus pun selesai. Seperti biasa, sebelum pulang kami harus melakukan pemesanan tempat untuk minggu depan di komputer. Anehnya, ternyata minggu depan penuh banget untuk jam yang sama! Terpaksalah kami melakukan kursus minggu depan di sofa depan, tidak di area belajar seperti yang biasa kami lakukan. Setelah itu kami pun berpisah.

Sesampainya di stasiun tempat tinggalku, aku mampir sebentar untuk membeli susu dkk.. Selesai belanja, aku langsung pulang, karena belum sholat Dhuhur dan makan siang, padahal perutku sudah lapar banget...maklumlah, sudah pk. 13.30-an, dan aku cuman sarapan rutin roti dan susu!

Di perjalanan ke rumah, kembali aku teringat dengan perasaan tidak enak tadi. Tiba2 sesuatu terlintas di pikiranku, dan membuatku segera bergegas melangkah.

Begitu masuk rumah, aku langsung mengecek rice cooker. Dan ternyata...bener, kan...aku lupa menekan tombol "cook"!!! Kulihat air yang merendam beras itu sudah berkurang, dan langsung kututup lagi. Tekan tombolnya, dan aku pun segera berwudhu lalu sholat dengan perut berdendang. Yah...harus menunggu 30 menit lagi, gara2 lupa tadi. Duh...ampun deh...wong pelupa kok gak sembuh2 tho yooo....

***
(Nasi kuning lengkapku pas tgl. 1 Muharram 1429 H kemaren)
Nishi Chiba, 16 Januari 2008 (21.43 JST)
*Segitu dulu curhatnya...balik ke setoran lagiiii....*

Friday, January 11, 2008

Puding Coklat


Description:
Akhir2 ini lagi masa pertumbuhan (baca: lafeer melulu;P), makanya stok makanan cepet banget menipis. Kebetulan baru beli coklat dan susu yang nyaris kadaluwarsa (knapa sih, baru masak kalo udah kepepet, yak;P), terus setelah browsing, dapet resep puding gampang dari sini .

Di resep aslinya sih, vlanya pake yoghurt, tapi karena daku nggak suka yoghurt, jadilah kupakai susu kental manis coklat yang dicampur dengan tetesan lemon 100%...maklum, pencinta kombinasi asem dan manis:P.

Ingredients:
Puding:
- 1 bungkus agar -agar
- 500 ml susu cair
- 2 butir kuning telur kocok lepas
- 125 gr gula pasir
- 35 gr coklat bubuk
- 50 gr coklat blok dipotong kecil-kecil
- 1 / 2 sdt garam.

Vla:
- susu kental manis coklat
- lemon 100% (beberapa tetes, sesuai selera).

Directions:
1. Aduk jadi satu coklat bubuk, gula, garam dan sebagian susu, sisihkan.
2. Aduk sisa susu dengan agar bubuk sampai agar larut, masak di atas api sampai mendidih. Masukkan adonan coklat, aduk rata.
3. Ambil 1 sendok larutan agar, campur dengan kuning telur, aduk rata, tuang kembali ke adonan agar (kecilkan api) dan didihkan kembali.
4. Matikan api, aduk-aduk sampai hilang uap panasnya, tuang ke cetakan.
5. Hidangkan dengan vla.

Puding Coklat


Description:
Akhir2 ini lagi masa pertumbuhan (baca: lafeer melulu;P), makanya stok makanan cepet banget menipis. Kebetulan baru beli coklat dan susu yang nyaris kadaluwarsa (knapa sih, baru masak kalo udah kepepet, yak;P), terus setelah browsing, dapet resep puding gampang dari sini .

Di resep aslinya sih, vlanya pake yoghurt, tapi karena daku nggak suka yoghurt, jadilah kupakai susu kental manis coklat yang dicampur dengan tetesan lemon 100%...maklum, pencinta kombinasi asem dan manis:P.

Ingredients:
Puding:
- 1 bungkus agar -agar
- 500 ml susu cair
- 2 butir kuning telur kocok lepas
- 125 gr gula pasir
- 35 gr coklat bubuk
- 50 gr coklat blok dipotong kecil-kecil
- 1 / 2 sdt garam.

Vla:
- susu kental manis coklat
- lemon 100% (beberapa tetes, sesuai selera).

Directions:
1. Aduk jadi satu coklat bubuk, gula, garam dan sebagian susu, sisihkan.
2. Aduk sisa susu dengan agar bubuk sampai agar larut, masak di atas api sampai mendidih. Masukkan adonan coklat, aduk rata.
3. Ambil 1 sendok larutan agar, campur dengan kuning telur, aduk rata, tuang kembali ke adonan agar (kecilkan api) dan didihkan kembali.
4. Matikan api, aduk-aduk sampai hilang uap panasnya, tuang ke cetakan.
5. Hidangkan dengan vla.

Thursday, January 10, 2008

Diet Sehat Sesuai Golongan Darah

Topik lama sih sebenernya, cuman pas lagi iseng kok ya nemu ini...ya sudahlah disimpen aja di sini, buat dibaca2 lagi nanti.
Semoga bermanfaat....
________________________

Diet Sehat Sesuai Golongan Darah

Cara diet untuk mendapatkan tubuh sehat bertambah lagi. Seorang dokter naturopati dari Amerika Serikat, Dr.Peter J. D'Adamo menemukan cara berdiet berdasarkan golongan darah. Konon, karena setiap orang memiliki golongan darah berbeda, maka makanan yang dikonsumsinya pun harus berbeda.

CARA berdiet ini didasari penemuan D'Adamo bahwa lektin atau protein yang terdapat pada berbagai jenis makanan akan menghasilkan pengaruh berbeda pada setiap golongan darah. Jika tidak cocok pada golongan darah tertentu, lektin bisa menyebabkan terjadinya penggumpalan sel-sel darah. Menjaga asupan makanan agar sesuai dengan kebutuhan golongan darah tertentu ini dipercaya juga bisa mengembalikan fungsi penjagaan sistem tubuh dan memperbaiki metabolisme tubuh. Selain itu, masing-masing golongan darah rentan atau berisiko tehadap jenis penyakit yang berbeda.

Cara diet berdasarkan golongan darah di luar negeri mulai populer dimana menjaga asupan makanan agar sesuai dengan kebutuhan golongan darah tertentu ini dipercaya bisa mengembalikan fungsi penjagaan sistem tubuh dan memperbaiki metabolisme tubuh.* DUDI SUGANDI/”PR”

Cara diet berdasarkan golongan darah di luar negeri, terutama di negara asalnya Amerika, sudah mulai populer. Di Indonesia, masih sulit menemukan orang yang ahli dalam diet ini atau orang-orang yang menggunakannya.

Menurut ahli gizi dan diet sehat dengan cara food combining, Andang Gunawan, tak ada data tentang pengikut pola makan berdasarkan golongan darah. "Saya sendiri baru menemukan dua orang yang menurut mereka berhasil dengan metode ini, kebetulan kenalan saya. Salah seorang menggabungkan metode ini dengan metode food combining. Menurut dia hasilnya jauh lebih baik," kata Andang.

Dijelaskan Andang, diet golongan darah termasuk jenis diet yang relatif baru di dunia ilmu gizi. Selain D'Adamo belum ada pihak lain yang melakukan penelitian khusus tentang diet ini.

Senada dengan Andang, pakar gizi dr. Kunkun K. Wiramihardja, M.S. menyatakan masih asing dengan pola diet berdasarkan golongan darah itu. Kunkun memperkirakan, yang paling paham dalam hal ini adalah naturopath atau dokter yang meyakini ilmu pengobatan bisa dilakukan dengan obatan-obatan yang sifatnya alami, baik dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan.

"Kalau saya lihat para naturopath ini berniat menghentikan penyakit dengan cara menjaga pola makan dan gaya hidup. Jika pola makan dikaitkan dengan penyakit tertentu, tidak ada yang bertentangan," ujar Kunkun.

Yang mengganjal hati Kunkun adalah jika orang mengaitkan golongan darah tertentu dengan rentannya terhadap suatu jenis penyakit tertentu pula. "Itu yang saya tidak sepakat, misalnya bahwa golongan darah B lebih kuat terhadap penyakit jantung. Itu perlu penelitian lebih lanjut," kata Kunkun.

Kunkun membuat contoh, penelitian tentang penyakit jantung umumnya menghinggapi mereka yang berusia lanjut sudah terbukti. "Penelitian ini dilanjutkan untuk meneliti kaitan antara penyakit jantung dan golongan darah bisa saja," kata Kunkun. Misalnya, para penderita jantung ini dikelompokkan lagi berdasarkan golongan darah, sehingga bisa menghasilkan kelompok golongan darah mana yang terbanyak dan memiliki penyakit jantung.

"Hal ini tidak dikemukakan oleh beliau (D'Adamo). Pembuktian lebih mengacu pada ‘pengalaman saya’ atau menurut ‘pengalaman ayah saya’," tutur Kunkun.

**

Terlepas dari masih "anehnya" diet berdasarkan golongan darah ini, tidak ada salahnya kita mengintip cara baru ini. Secara garis besar golongan darah dikelompokkan dalam 4 tipe, yaitu A, B, AB, dan O.

Pemilik golongan darah A disarankan mengonsumsi bahan makanan yang sedikit mengandung lektin. Para pemilik golongan darah ini memiliki lambung dengan kandungan lektin rendah. Jika asupan lektin berlebihan, dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan lambung. Selain itu, mereka yang bergolongan darah A menghasilkan lendir lebih banyak dibanding golongan darah lainnya. Keadaan ini menimbulkan risiko terhadap penyakit jenis alergi, seperti asma, infeksi telinga, dan gangguan pada pernapasan.

Makanan yang dianjurkan adalah dari kelompok nabati. Sumber hewani bisa diperoleh dari ikan dan ayam kampung, ini pun dengan jumlah dan frekuensi terbatas. Susu yang dianjurkan adalah susu fermentasi ( yoghurt atau kefir), krim tanpa lemak, keju alami, telur dalam jumlah terbatas ( dari jenis organik atau telur ayam kampung), lemak dalam jumlah terbatas, kacang-kacangan seperti kenari, biji-bijian, almond, susu kedelai alami. Orang dengan golongan darah A ini semestinya memperbanyak makan sayuran dan buah-buahan segar.

Makanan yang harus dihindari karena banyak mengandung lektin atau makanan yang bisa merangsang tubuh memproduksi banyak lendir adalah hidangan laut berwarna putih seperti cumi-cumi dan kakap putih, daging sapi, susu, keju hasil olahan industri, kacang merah, kacang tolo, roti, kue-kue, cake, kentang, kol, mangga, pepaya, jeruk impor, dan pisang. Juga bahan makanan olahan seperti sosis, kornet, dendeng, ham, dan daging asap, minyak jagung, minyak kacang tanah.

Pemilik golongan darah B adalah tipe kebalikan dari golongan darah A. Mereka diizinkan menyantap sumber hewani dengan porsi lebih banyak. Namun karena pemilik golongan B rentan terhadap penyakit autoimun dan serangan virus, mereka dianjurkan banyak mengonsumsi sayuran hijau yang kaya magnesium.

Daftar makanan yang diperbolehkan adalah daging sapi, domba, kelinci, ikan laut, semua produk susu, kecuali blue chesse dan es krim, telur ayam organik dan telur ayam kampung, minyak zaitun lebih dari satu sendok, beras merah, beras putih pecah kulit, beras putih tumbuk, bahan makanan dari bahan beras atau tepung beras, havermut, bekatul, semua jenis buah terlebih nanas sangat baik. Namun ada juga jenis buah yang harus diminimalkan konsumsinya, yaitu yang kaya lektin seperti kesemek, delima, belimbing, dan pir.

Selain itu, ia tidak diperbolehkan atau membatasi mengonsumsi ayam, kepiting, lobster, udang, kerang, scalop, remis, tiram, kodok, telur puyuh, telur bebek, minyak wijen, minyak jagung, minyak biji matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai. Batasi juga konsumsi kelapa, santan, kedelai, kacang tanah, biji bunga matahari, biji labu, wijen, kacang mete, pistasio, tempe, tahu susu kedelai, kacang merah, kacang tolo, makanan dari terigu, mi instan, ketan, jagung, lobak, tomat, jagung, jagung muda.

Pola makan pemilik golongan darah AB adalah perpaduan antara pola makan golongan A dan B. Penyakit yang berisiko diderita adalah sinus, infeksi telinga, dan gangguan saluran napas. Berikut makanan yang dianjurkan. Hidangan laut, semua telur (kecuali telur bebek), susu fermentasi, minyak zaitun, minyak kanola, minyak kedelai, minyak kacang tanah, kacang tanah, semua jenis sayuran, semua jenis buah-buahan kecuali jeruk.

Untuk golongan AB ini, pantangannya tidak terlalu ketat, namun harus membatasi konsumsi daging sapi. lobster, udang, cumi, ikan ekor kuning, belut , teri, kodok . Hindari susu dan semua produk susu, daging olahan. Semua jenis kacang dikonsumsi sedikit-sedikit sambil mengamati reaksinya. Wijen dan minyak wijen perlu diwaspadai. Batasi konsumsi terigu dan makanan olahan seperti roti, cake, kue, pasta. Hindari pula, jagung, taoge, jamur, radis, dan jeruk.

Beruntunglah pemilik golongan darah O yang menyukai daging-dagingan. Mereka boleh menyantap daging sebanyak-banyaknya, kecuali daging olahan. Tetapi golongan ini harus mengimbanginya dengan mengonsumsi sayur-sayuran yang banyak pula. Boleh juga menyantap minyak jenis nabati, minyak zaitun, dan buah-buhan segar

Yang harus dihindari atau dibatasi adalah kol, brokoli, kembang kol, sawi, pokcoi, taoge, terong, jamur, dan kentang. Telur, susu, dan kacang-kacangan tak terlalu berguna lagi karena tubuh telah mendapat asupan dari sumber hewani. Juga terigu dan makan hasil olahannya tidak terlalu bermanfaat lagi. Bagi Anda yang sensistif, hindari jeruk karena berisiko keracunan usus. (Uci Anwar)***

Diet Sehat Sesuai Golongan Darah

Topik lama sih sebenernya, cuman pas lagi iseng kok ya nemu ini...ya sudahlah disimpen aja di sini, buat dibaca2 lagi nanti.
Semoga bermanfaat....
________________________

Diet Sehat Sesuai Golongan Darah

Cara diet untuk mendapatkan tubuh sehat bertambah lagi. Seorang dokter naturopati dari Amerika Serikat, Dr.Peter J. D'Adamo menemukan cara berdiet berdasarkan golongan darah. Konon, karena setiap orang memiliki golongan darah berbeda, maka makanan yang dikonsumsinya pun harus berbeda.

CARA berdiet ini didasari penemuan D'Adamo bahwa lektin atau protein yang terdapat pada berbagai jenis makanan akan menghasilkan pengaruh berbeda pada setiap golongan darah. Jika tidak cocok pada golongan darah tertentu, lektin bisa menyebabkan terjadinya penggumpalan sel-sel darah. Menjaga asupan makanan agar sesuai dengan kebutuhan golongan darah tertentu ini dipercaya juga bisa mengembalikan fungsi penjagaan sistem tubuh dan memperbaiki metabolisme tubuh. Selain itu, masing-masing golongan darah rentan atau berisiko tehadap jenis penyakit yang berbeda.

Cara diet berdasarkan golongan darah di luar negeri mulai populer dimana menjaga asupan makanan agar sesuai dengan kebutuhan golongan darah tertentu ini dipercaya bisa mengembalikan fungsi penjagaan sistem tubuh dan memperbaiki metabolisme tubuh.* DUDI SUGANDI/”PR”

Cara diet berdasarkan golongan darah di luar negeri, terutama di negara asalnya Amerika, sudah mulai populer. Di Indonesia, masih sulit menemukan orang yang ahli dalam diet ini atau orang-orang yang menggunakannya.

Menurut ahli gizi dan diet sehat dengan cara food combining, Andang Gunawan, tak ada data tentang pengikut pola makan berdasarkan golongan darah. "Saya sendiri baru menemukan dua orang yang menurut mereka berhasil dengan metode ini, kebetulan kenalan saya. Salah seorang menggabungkan metode ini dengan metode food combining. Menurut dia hasilnya jauh lebih baik," kata Andang.

Dijelaskan Andang, diet golongan darah termasuk jenis diet yang relatif baru di dunia ilmu gizi. Selain D'Adamo belum ada pihak lain yang melakukan penelitian khusus tentang diet ini.

Senada dengan Andang, pakar gizi dr. Kunkun K. Wiramihardja, M.S. menyatakan masih asing dengan pola diet berdasarkan golongan darah itu. Kunkun memperkirakan, yang paling paham dalam hal ini adalah naturopath atau dokter yang meyakini ilmu pengobatan bisa dilakukan dengan obatan-obatan yang sifatnya alami, baik dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan.

"Kalau saya lihat para naturopath ini berniat menghentikan penyakit dengan cara menjaga pola makan dan gaya hidup. Jika pola makan dikaitkan dengan penyakit tertentu, tidak ada yang bertentangan," ujar Kunkun.

Yang mengganjal hati Kunkun adalah jika orang mengaitkan golongan darah tertentu dengan rentannya terhadap suatu jenis penyakit tertentu pula. "Itu yang saya tidak sepakat, misalnya bahwa golongan darah B lebih kuat terhadap penyakit jantung. Itu perlu penelitian lebih lanjut," kata Kunkun.

Kunkun membuat contoh, penelitian tentang penyakit jantung umumnya menghinggapi mereka yang berusia lanjut sudah terbukti. "Penelitian ini dilanjutkan untuk meneliti kaitan antara penyakit jantung dan golongan darah bisa saja," kata Kunkun. Misalnya, para penderita jantung ini dikelompokkan lagi berdasarkan golongan darah, sehingga bisa menghasilkan kelompok golongan darah mana yang terbanyak dan memiliki penyakit jantung.

"Hal ini tidak dikemukakan oleh beliau (D'Adamo). Pembuktian lebih mengacu pada ‘pengalaman saya’ atau menurut ‘pengalaman ayah saya’," tutur Kunkun.

**

Terlepas dari masih "anehnya" diet berdasarkan golongan darah ini, tidak ada salahnya kita mengintip cara baru ini. Secara garis besar golongan darah dikelompokkan dalam 4 tipe, yaitu A, B, AB, dan O.

Pemilik golongan darah A disarankan mengonsumsi bahan makanan yang sedikit mengandung lektin. Para pemilik golongan darah ini memiliki lambung dengan kandungan lektin rendah. Jika asupan lektin berlebihan, dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan lambung. Selain itu, mereka yang bergolongan darah A menghasilkan lendir lebih banyak dibanding golongan darah lainnya. Keadaan ini menimbulkan risiko terhadap penyakit jenis alergi, seperti asma, infeksi telinga, dan gangguan pada pernapasan.

Makanan yang dianjurkan adalah dari kelompok nabati. Sumber hewani bisa diperoleh dari ikan dan ayam kampung, ini pun dengan jumlah dan frekuensi terbatas. Susu yang dianjurkan adalah susu fermentasi ( yoghurt atau kefir), krim tanpa lemak, keju alami, telur dalam jumlah terbatas ( dari jenis organik atau telur ayam kampung), lemak dalam jumlah terbatas, kacang-kacangan seperti kenari, biji-bijian, almond, susu kedelai alami. Orang dengan golongan darah A ini semestinya memperbanyak makan sayuran dan buah-buahan segar.

Makanan yang harus dihindari karena banyak mengandung lektin atau makanan yang bisa merangsang tubuh memproduksi banyak lendir adalah hidangan laut berwarna putih seperti cumi-cumi dan kakap putih, daging sapi, susu, keju hasil olahan industri, kacang merah, kacang tolo, roti, kue-kue, cake, kentang, kol, mangga, pepaya, jeruk impor, dan pisang. Juga bahan makanan olahan seperti sosis, kornet, dendeng, ham, dan daging asap, minyak jagung, minyak kacang tanah.

Pemilik golongan darah B adalah tipe kebalikan dari golongan darah A. Mereka diizinkan menyantap sumber hewani dengan porsi lebih banyak. Namun karena pemilik golongan B rentan terhadap penyakit autoimun dan serangan virus, mereka dianjurkan banyak mengonsumsi sayuran hijau yang kaya magnesium.

Daftar makanan yang diperbolehkan adalah daging sapi, domba, kelinci, ikan laut, semua produk susu, kecuali blue chesse dan es krim, telur ayam organik dan telur ayam kampung, minyak zaitun lebih dari satu sendok, beras merah, beras putih pecah kulit, beras putih tumbuk, bahan makanan dari bahan beras atau tepung beras, havermut, bekatul, semua jenis buah terlebih nanas sangat baik. Namun ada juga jenis buah yang harus diminimalkan konsumsinya, yaitu yang kaya lektin seperti kesemek, delima, belimbing, dan pir.

Selain itu, ia tidak diperbolehkan atau membatasi mengonsumsi ayam, kepiting, lobster, udang, kerang, scalop, remis, tiram, kodok, telur puyuh, telur bebek, minyak wijen, minyak jagung, minyak biji matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai. Batasi juga konsumsi kelapa, santan, kedelai, kacang tanah, biji bunga matahari, biji labu, wijen, kacang mete, pistasio, tempe, tahu susu kedelai, kacang merah, kacang tolo, makanan dari terigu, mi instan, ketan, jagung, lobak, tomat, jagung, jagung muda.

Pola makan pemilik golongan darah AB adalah perpaduan antara pola makan golongan A dan B. Penyakit yang berisiko diderita adalah sinus, infeksi telinga, dan gangguan saluran napas. Berikut makanan yang dianjurkan. Hidangan laut, semua telur (kecuali telur bebek), susu fermentasi, minyak zaitun, minyak kanola, minyak kedelai, minyak kacang tanah, kacang tanah, semua jenis sayuran, semua jenis buah-buahan kecuali jeruk.

Untuk golongan AB ini, pantangannya tidak terlalu ketat, namun harus membatasi konsumsi daging sapi. lobster, udang, cumi, ikan ekor kuning, belut , teri, kodok . Hindari susu dan semua produk susu, daging olahan. Semua jenis kacang dikonsumsi sedikit-sedikit sambil mengamati reaksinya. Wijen dan minyak wijen perlu diwaspadai. Batasi konsumsi terigu dan makanan olahan seperti roti, cake, kue, pasta. Hindari pula, jagung, taoge, jamur, radis, dan jeruk.

Beruntunglah pemilik golongan darah O yang menyukai daging-dagingan. Mereka boleh menyantap daging sebanyak-banyaknya, kecuali daging olahan. Tetapi golongan ini harus mengimbanginya dengan mengonsumsi sayur-sayuran yang banyak pula. Boleh juga menyantap minyak jenis nabati, minyak zaitun, dan buah-buhan segar

Yang harus dihindari atau dibatasi adalah kol, brokoli, kembang kol, sawi, pokcoi, taoge, terong, jamur, dan kentang. Telur, susu, dan kacang-kacangan tak terlalu berguna lagi karena tubuh telah mendapat asupan dari sumber hewani. Juga terigu dan makan hasil olahannya tidak terlalu bermanfaat lagi. Bagi Anda yang sensistif, hindari jeruk karena berisiko keracunan usus. (Uci Anwar)***